Minggu, 17 Dec 2017
radarbali
icon featured
Metro Denpasar

Lecehkan NTT, Pernyataan Muhadjir Effendy Diprotes Lewat Aksi Damai

Kamis, 07 Dec 2017 01:15 | editor : ali mustofa

dunia pendidikan ntt, pena bali, mendikbud muhadjir effendy

TURUN KE JALAN: Komunitas PENA NTT - Bali menggelar unjuk rasa di Bajra Renon kemarin (Adrian Suwanto/Radar Bali)

DENPASAR – Puluhan warga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tergabung dalam komunitas PENA Bali turun ke jalan kemarin siang.

Mereka memprotes Mendikbud Muhadjir Effendy yang diduga mengkambinghitamkan siswa siswi NTT sehingga menyebabkan kualitas pendidikan Indonesia terpuruk.

Aksi protes dipusatkan di depan Monumen Perjuangan Bajra Sandhi Renon, Denpasar. Mereka membawa berbagai pamplet yang berisi kecaman kepada sang menteri.

 “Pernyataan Mendikbud telah melukai hati kami masyarakat NTT. Mendikbud harus mengklarifikasi pernyataannya sekaligus menyampaikan permintaan maaf, sebagaimana dilansir sejumlah media massa,” ucap Koordinator Aksi, San Edison.

"Kami minta Mendikbud untuk mengklarifikasi pernyataannya yang sangat tidak pantas, dan harus menyampaikan permohonan maaf secara terbuka," ujar jurnalis senior Arnoldus Dhae.

Koordinator PENA NTT - Bali Emanuel Dewata Oja dalam orasinya mengutuk keras statemen Mendikbud yang telah melukai perasaan masyarakat NTT.

Menurutnya, sangat tidak pantas seorang menteri yang bertanggung atas pendidikan, yang paham atas kondisi riil pendidikan di NTT, malah bicara ngawur.

“Bapak Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengevaluasi kinerja Mendikbud. Menurut dia, apa yang terjadi dengan pendidikan di NTT saat ini adalah tanggung jawab Mendikbud.

Apa yang dilakukan Menteri Pendidikan untuk membenahi kondisi itu? Malah Pak Menteri mengambinghitamkan NTT sebagai biang kerok terpuruknya kualitas pendidikan secara nasional," tegas Edo, sapaan akrabnya.

Dia pun mendesak pemerintah pusat, untuk turun ke NTT, dan bekerja untuk membenahi kondisi pendidikan di NTT.

“Bayangkan, berapa banyak sekolah di NTT yang hanya beratap jerami, berdinding bambu. Ini sangat menyakitkan. Belum lagi soal fasilitas, jauh dari harapan,” katanya.

Sementara Efraim Mbomba Reda, perwakilan mahasiswa asal NTT dalam aksi tersebut, menyayangkan minimnya perhatian pemerintah selama ini dalam memperbaiki kualitas pendidikan di NTT.

Pemerintah harus memperbaiki kualitas pendidikan di NTT. Jangan hanya memberikan stigma tentang NTT bodoh, tetapi malah berpangku tangan dan tidak ada kerja nyata untuk membenahi pendidikan di NTT. “Dimana pemerintah selama ini,” tanyanya. 

(rb/dre/mus/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia