Minggu, 17 Dec 2017
radarbali
icon featured
Radar Buleleng

Lima Bulan Pembagian Seragam Tak Tuntas, Orang Tua Siswa Protes

Selasa, 21 Nov 2017 17:15 | editor : ali mustofa

smpn 2 sawan, seragam sekolah, disdik buleleng

TUNTUT SEKOLAH: Para orangtua siswa mendatangi SMPN 2 Sawan menuntut seragam anak-anaknya segera dibagikan (Eka Prasetya/Radar Bali)

RadarBali.com – Pengadaan pakaian seragam bagi siswa di SMPN 2 Sawan, menuai protes dari orang tua siswa.

Pasalnya, hingga kini salah satu seragam belum diterima siswa. Selain itu ada beberapa siswa yang juga ukuran pakaiannya tak sesuai dengan pemesanan awal.

Pemesanan pakaian itu sudah dilakukan sejak lima bulan lalu. Orang tua siswa dengan pihak konveksi disebut sepakat memesan satu paket seragam dengan harga Rp 590 ribu.

Paket seragam itu terdiri dari pakaian putih biru serta seragam pramuka. Hingga kini pesanan itu tak kunjung sampai.

Sejumlah orang tua siswa memilih ngelurug ke SMPN 2 Sawan, karena merasa menjalin kesepakatan dengan konveksi di sekolah.

Salah satu orang tua siswa, Kadek Bendesa, mengaku seragam yang belum tuntas adalah seragam pramuka.

Hampir seluruh siswa kelas VII yang jumlahnya mencapai 240 orang, belum menerima seragam dengan tuntas. Siswa laki-laki belum menerima celana, sementara siswa perempuan belum menerima rok.

“Untuk kelas VII, semua belum dapat. Padahal orang tua siswa sudah semua membayar. Per kepala kami bayar Rp 590 ribu. Hanya rok dan celana belum realisasi. Padahal ini sudah lima bulan,” kata Bendesa.

Pria yang juga anggota Komite SMPN 2 Sawan itu mengaku tak pernah dilibatkan dalam proses pengadaan pakaian.

Komite pun tak bisa berbuat banyak dan hanya bisa meminta pihak konveksi menyelesaikan kewajibannya.

Kepala SMPN 2 Sawan, Wayan Ariasa dibuat terkejut dengan kedatangan orang tua siswa. Apalagi ketika diminta pertanggungjawaban soal pengadaan seragam.

Ariasa menyatakan pihak sekolah dan komite tak pernah terlibat dengan proses pengadaan seragam. Menurut Ariasa, sudah menjadi kesepakatan antara orang tua siswa dengan konveksi.

Pihaknya hanya menyediakan lokasi bagi konveksi untuk melakukan sosialisasi pada para siswa. “Kami jelas kaget. Karena kami tidak terlibat. Sesuai peraturan menteri, komite dan sekolah memang tidak boleh terlibat proses pengadaan,” kata Ariasa.

Pihaknya pun akan berkoordinasi dengan konveksi dan meminta agar kewajiban konveksi pada orang tua siswa diselesaikan. “Supaya bisa dilengkapi minggu-minggu ini lah,” demikian Ariasa

(rb/eps/mus/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia