Kamis, 23 Nov 2017
radarbali
icon featured
Ekonomi

BTN Gelontor Kredit KPR Rumah Bersubsidi Rp 156 Miliar

Rabu, 15 Nov 2017 14:45 | editor : ali mustofa

Bank BTN, Kredit FLPP, rumah bersubdisi

DIPACU: Salah satu proyek perumahan di Tabanan. Meski sektor properti mengalami kelesuan namun Bank BTN terus meningkatkan pembiayaan rumah bersubsidi (Adrian Suwanto/Radar Bali)

RadarBali.com – Geliat masyarakat dalam melakukan pembelian rumah bersubsidi mengalami peningkatan drastis jika dibanding tahun sebelumnya.

Sejumlah pengembang pun kini lebih banyak beralih untuk menggarap proyek rumah bersubsidi yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Dengan kondisi ini, peralihan juga cukup banyak pada KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Branch Manager BTN Denpasar, Agung Komang Tri Martha mengatakan, pencapaian KPR pada sektor rumah bersubsidi hingga bulan Oktober

mencapai Rp 156 miliar dengan jumlah rumah mencapai 1.500 unit dari target yang hanya mencapai 400 unit rumah.

BTN sendiri memang tidak memiliki target besar untuk penyaluran FLPP ini. Karena berkaca di tahun 2015 lalu, hanya mampu terserap 38 unit saja.

“Jadi dari target 40 miliar di tahun ini mengalami lonjakan 400 persen,” ujarnya ditemui di Ruang kerjanya, Selasa kemarin (14/11).

Paling banyak penyaluran KPR untuk rumah bersubsidi terdapat di wilayah Buleleng. Sementara yang terkecil di Wilayah Karangasem.

Selain Buleleng menjadi kawasan paling luas di Bali, banyak lahan yang masih bisa dijangkau. Meski dalam satu proyek pengembangan, hanya berkisar puluhan unit.

“Dengan bunga ringan ini, masyarakat yang sebelumnya sedikit pesimis bisa membeli rumah kini sangat gampang. Jadi harus dimanfaatkan betul,” kata dia.

Namun ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapat rumah bersubsidi. Mulai penghasilan tidak melebihi Rp 4 juta,

menjadi rumah pertama dan belum memiliki hunian, dan pemilik wajib menempati. Setelah sah menghuni rumah tersebut pun masih ada persyaratan.

Seperti tidak boleh menjual di bawah tangan karena minimal baru bisa dijual di atas lima tahun. “Kalau itu dilakukan akan dicabut subsidinya menjadi normal dengan suku bunga antara 11 sampai 12 persen,” jelas Agung.

Disinggung mengenai KPR non subsidi, pencapaian hingga Oktober ini telah mencapai 80 persen atau dengan nilai Rp 315 miliar.

Sementara untuk target sendiri hingga akhir tahun BTN memasang angka Rp 420 miliar. “Paling banyak penyaluran KPR pada rumah non subsidi ini yakni sektor perumahan kelas menengah ke bawah,” pungkasnya. 

(rb/zul/mus/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia