Kamis, 23 Nov 2017
radarbali
icon featured
Travelling

Gunung Agung Awas, Hunian Kamar Turun, Hanya Terisi 30 Persen

Sabtu, 21 Oct 2017 15:45 | editor : ali mustofa

kampanye bali aman, okupansi hotel, polsek ubud

KAMPANYE BALI AMAN: Polisi melakukan kampanye dengan memberikan baliho berisi tulisan Bali aman untuk dikunjungi kepada wisatawan asing yang berkunjung ke Ubud (Polsek Ubud for Radar Bali)

RadarBali.com — Status awas terhadap gunung Agung berdampak pada tingkat hunian kamar di Ubud, Gianyar.

Penurunan itu diakui oleh pelaku wisata di kawasan Ubud, terutama pengelola homestay yang biasa melayani tamu yang menginap dalam waktu panjang.

Penurunan itu tak lepas dari adanya travel warning oleh lima negara. Ketua Ubud Homestay Asosiasi (UHSA) IB Wiryawan menyatakan, penurunan hunian homestay di Ubud, membuat pelaku wisata deg-degan.

“Kondisinya sangat memprihatinkan, dengan tingkat hunian rata-rata okupansi homestay di Ubud yang ada di bawah UHSA hanya terisi 30 sampai 40 persen,” ujar Wiryawan, kemarin.

Dikatakan Wiryawan, kondisi ini tergolong sangat lesu di tengah aktifitas Gunung Agung yang tidak menentu.

Terlebih sebelumnya kondisi standar saat low session okupansi homestay menduduki kisaran 50 persen.

“Mungkin turis masih menunggu kondisi membaik dan maskapai juga sepertinya tidak mau ambil resiko tinggi dengan kondisi saat ini,” ujarnya.

Data Dinas Pariwisata (Dispar) Gianyar lebih memprihatinkan lagi. Kondisi gunung Agung saat ini membuat hunian akomodasi wisata menyentuh 15-20 persen, baik hotel, vila maupun homestay.

 “Sekarang prosentase segitu jadi memang menurun sekali, untuk yang di homestay, vila dan hotel banyak kamar kosong,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Gianyar AA Bagus Ari Brahmanta.

Selain okupansi hunian menurun, dampak lain juga terjadi pada kunjungan ke destinasi wisata yang ada di Kabupaten Gianyar.

Menurutnya, kunjungan ke sejumlah objek wisata menurun antara 10-15 persen dari kunjungan biasa. “Bisa diamati di sejumlah objek wisata tidak seramai biasanya,” ujarnya. 

Diakui Brahmanrta, penurunan ini akibat travel warning ke Bali yang ditetapkan oleh lima negara pasca-meningkatnya status Gunung Agung.

Yang menjadi kekhawatiran adalah kondisi semacam ini berlangsung dalam jangka panjang. “Menjelang Desember ini saya belum bisa memastikan, karena sepertinya kondisi ini akan terjadi jangka panjang,” keluhnya.

Agung Brahmanta menilai, pihaknya mengajak seluruh lapisan masyarakat ikut menjaga citra Bali. Terutama dalam mengcounter isu mengenai bahaya Gunung Agung.

“Selama ini banyak wisatawan dipengaruhi informasi yang tidak jelas terkait gunung Agung. Kami sudah minta ke seluruh pihak komponen pariwisata harus menjelaskan bahwa kondisinya tidak seheboh isu yang beredar,” pintanya.

Berita hoax yang menyebar juga patut disayangkan. Terlebih, ada kabar menyesatkan menyebutkan jika letusan gunung kali ini bisa 10 kali lipat dari letusan pada 1963 silam.

“Yang begini ini harus segera dicounter, supaya tidak membuat resah,” tukasnya. Bendesa Padang Tegal yang mengelola objek wisata monkey forest, Made Gandra, menyatakan, secara umum kunjungan wisata ke objek wisata kera itu tergolong masih normal.

“Kalau dibandingkan tahun lalu, menurun. Terutama tamu yang dilarang oleh negaranya untuk ke Bali,” ujar Gandra.

Pihaknya juga mengajak seluruh elemen masyarakat, bukan saja yang bersentuhan dengan pariwisata untuk ikut membangun Bali.

“Mari infokan ke wisatawan bahwasanya tidak perlu panik. Mudah-mudahan gunung Agung tidak meletus,” pintanya. 

(rb/dra/mus/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia