Sabtu, 25 Nov 2017
radarbali
icon featured
Features
Mengenal Jembatan Anggrek, Sibangkaja, Badung

Jadi Jalur Alternatif Sejak Zaman Belanda

Kamis, 19 Oct 2017 21:15 | editor : ali mustofa

jembatan anggrek, jembatan kuno

SEDERHANA : Jembatan Anggrek yang sudah berusia ratusan tahun ini tetap jadi jalur alternatif warga. (Made Dwija Putra/Radar Bali)

Warga menyebutnya sebagai Jembatan Anggrek. Berlokasi di Banjar Tengah, Sibangkaja, Abiansemal, Badung. Meski sudah berusia ratusan tahun, namun sarana penghubung sederhana ini masih dipakai untuk aktivitas sehari-hari.

MADE DWIJA PUTRA, Mangupura

HAMPIR  setiap saat warga setempat berlalu-lalang karena berfungsi sebagai jalur alternatif. Ukurannya memang tidak terlalu lebar. Hanya bisa digunakan satu jalur sepeda motor dan pejalan kaki.

Umur  jembatan memang sudah uzur karena sudah dibangun sejak zaman Belanda. Sayangnya, warga setempat tidak tahu persis kapan dibuat.

Hanya ada yang ingat bahwa jembatan itu terakhir diperbaiki pada tahun 1981 silam. Sudah cukup lama.

Rabu (18/10) siang kemarin, koran ini melihat langsung kondisi Jembatan Anggrek.

Sarana penyeberangan ini persis berada di atas sungai Ayung. Namun, warga lazim menyebutnya sebagai jembatan sungai anggrek.

Dengan  pemandangan di kanan dan kiri rimbun, sekitarnya banyak sumber air, rumpun bambu, dan pohon nyiur.

Jembatan ini jadi penghubung dari Desa Adat Sibang Kaja, Desa Adat Gerih dan Subak Blumbungan, Abiansemal, Badung.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bali, jembatan tersebut masih dengan pondasi lama. Hanya disangga beton dan besi tiang penyangga dari bawah. 

Di bagian sisi dibatasi pagar besi yang tersusun rapi. Tetapi masih konsep lama. Total panjang jembatan dari ujung barat dan timur itu sekitar 30 meteran.

Hampir setiap saat warga setempat menggunakan jembatan tersebut. Maklum jembatan tersebut memang dari dulu hingga kini dijadikan jalur alternatif.

Meski sekarang ada jembatan baru yang lebih lebar, dari arah pasar tradisional Sibang Gede. Sebagian warga tetap lebih suka lewat jalan ini, daripada memutar lewat selatan.

Krama (warga) masyarakat Desa Adat Sibang Kaja I Ketut Gede Sucita  menerangkan  panjang jembatan tersebut sekitar 30 meter dengan lebar hanya satu meter.

Jembatan itu hanya bisa dilewati satu kendaraan sepeda motor saja dan juga pejalan kaki. Kalau misalnya ada motor dari dua arah, salah satu motor harus berhenti dulu, setelah lewat baru mereka bisa melalui jembatan itu.

“Jembatan ini perlu diperbaiki karena merupakan jalan alternatif  masyarakat dari satu desa ke desa lain terutama untuk kegiatan adat,” terangnya.

Dia memperkirakan pembangunan ini dibangun zaman Belanda. Sebelum dibuat dari besi, sebelumnya lebih sederhana lagi.

 ”Kalau secara konstruksi secara menyeluruh belum pernah. Hanya ada perbaikan dulu pada saat AMD dan hanya diservis atasnya saja. Selain jembatan ini sempit, penerangannya juga kurang,” ungkapnya.

Jembatan ini tergolong jalur padat. Hampir warga setempat setiap saat memanfaatkan jembatan tersebut sebagai jalur penghubung.

Memang benar, kemarin juga hampir setiap saat ada saja orang lewat. Baik warga setempat yang membawa hasil pertaniannya dari Subak Blumbungan, siswa sekolah dan juga masyarakat umum.

“Jembatan ini masih produktif dilalui. Setiap hari kalau ditotal, rata-rata 1.000 kendaraan sepeda motor bisa lalu lalang di sini, ” jelasnya.

Dia  juga menceritakan kondisi jembatan di atas sungai Ayung atau Tukad Ayung atau lazim disebut warga setempat sungai anggrek ini  saat hujan lebat airnya kadang melebihi tinggi jembatan.

Cukup deg-degan kalau tidak terbiasa. Apalagi kalau hari sudah mulai gelap. Karena jembatan ini tergolong jembatan yang sangat konvensional.

”Kami harapkan pemerintah segera melakukan perbaikan sehingga masyarakat nyaman untuk melintasi jembatan itu,” pungkasnya.

(rb/mus/dwi/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia