Kamis, 23 Nov 2017
radarbali
icon featured
Features
Sisi Lain Film Pengabdi Setan

Selama Istirahat Syuting Ayu Laksmi Merasa Ditindih Roh Halus

Selasa, 17 Oct 2017 21:15 | editor : ali mustofa

ayu laksmi, pengabdi setan

HOROR: Ayu Laksmi (kanan) dan pemain film Pengabdi Setan (Ayu Laksmi for Radar Bali)

Sejak dirilis 28 September 2017 lalu, film Pengabdi Setan mendapat respons luar biasa dari para pencinta film horor tanah air.

Film yang disutradarai Joko Anwar ini bahkan digadang-gadang sebagai film horor tersukses di Indonesia saat ini.

 

MARCELLO PAMPURS, Denpasar

KESUKSESAN Film Pengabdi Setan tidak terlepas dari peran dari sosok Ayu Laksmi yang berperan sebagai Ibu dalam film ini.

Perannya ini juga membuat Ayu Laksmi menjadi buah bibir warga net. Sosok seram yang dia bawakan begitu sentral hingga membuat film ini menjadi buah bibir pencinta film.

Yang menarik, sebelum dan proses syuting film yang diremake dari film dengan judul yang sama di tahun 1980 silam ini, Ayu Laksmi mengalami beberapa kejadian mistis.

Kepada Jawa Pos Radar Bali, Ayu Laksmi mengaku selama syuting dia merasa ditindih roh halus satu minggu penuh.

Hal ini terjadi saat dirinya sedang tidur atau saat sedang asyik membaca script sambil tiduran. Waktu kejadiannya ini selalu terjadi saat malam hari.

Tidak sampai di situ, saat proses syuting yang dilakukan di sebuah rumah tua di kawasan Pengalengan, Bandung, wanita kelahiran Singaraja 25 November 1967 ini juga mengalami hal mistis.

“Tapi, saya tetap berfikir positif saja, dan saya berfikir jika mungkin hal itu terjadi karena saya terlalu lelah, atau hal yang saya rasakan itu adalah ingatan yang tersimpan di bawah alam sadar.

Jika saat syuting berlangsung ketika adegan tidur sambil komat kamit membaca mantra, tiba-tiba terdengar lolongan anjing satu kampung ,” katanya.

Diakuinya, semua kejadian ini terjadi secara nyata. Untuk menangkal hal tersebut, sebagai orang Bali dan beragama Hindu, wanita beranama asli I Gusti Ayu Laksmiyani ini selalu membawa pejati setiap saat proses syuting dimulai.

“Hari-hari selanjutnya sebagaimana yang dilakukan orang Bali, sembahyang setiap hari, mohon kemudahan, kelancaran , permisi, memperkenalkan diri, memberitahukan maksud dan tujuan datang ke tempat tersebut,” akunya.

Ditambahkannya hal itu juga diakukannya sebagai bentuk penghormatan pada tanah serta segala isinya  yang sedang dipijak, dan memohon serta agar tidak ada lagi gangguan dari alam yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.

Untuk menyukseskan peran dan karakternya dalam film tersebut, wanita 50 tahun ini benar-benar mempersiapkan dirinya secara serius.

“Untungnya Joko Anwar adalah sutradara yang genius, kooperatif, bijak dan mampu mengkondisikan semua pemain dalam mood yg terbaik.

Saya malah diberikan ruang lebih leluasa untuk menginterpretasikan karakter Ibu yang saya perankan,” tambahnya.

Dalam film ini, peran yang dimainkannya sebagai Ibu berjalan tanpa ada dialog. Meski demikian dirinya sadar bahwa dirinya harus serius mendalami karakter tersebut untuk membuktikan totalitasnya dalam film ini.

“ Di film ini saya tidak ada dialognya. Ya, mungkin dalam film ini saya sekalian melatih diri untuk puasa bicara puasa suara, karena dari kecil sudah menyanyi terus,” imbuhnya.

Atas kesusksesannya berperan di film ini, mantan lady rocker di tahun 90-an ini pun berharap agar para seniman di Bali tetap semangat dalam berkarya agar bisa meraih suskses lewat jalan sebagai seorang seniman.

Dia juga mengatakan bahwa dirinya menjadi bukti bahwa usia bukanlah alasan untuk menjadi penghalang dalam berkarya.

“Apapun bidang yang dipilih,cukup hanya dengan yakin dan tetap sabar dalam berproses.Never give up, karena usia tak jadi penghalang untuk memulai sesuatu yang baru. Sekalipun kita tinggal di daerah,  pasti akan ditemukan,” tandasnya.

(rb/mar/mus/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia