Kamis, 14 Dec 2017
radarbali
icon featured
Features
Menengok Hasil Pengabdian Dosen Undiksha

Berkat Sentuhan Motif, Harga Gerabah Banyuning Naik 10 Kali Lipat

Kamis, 12 Oct 2017 20:11 | editor : ali mustofa

produk gerabah, produk dosen, desain eksterior, desain interior

PRODUK LOKAL: Gerabah produk Banyuning karya dosen Undiksha layak jadi pelengkap eksterior maupun interior rumah Anda (Eka Prasetya/Radar Bali)

Gerabah Banyuning selama ini menjadi ikon kerajinan kerakyatan di Kota Singaraja. Meski kualitasnya wah, harganya cenderung murah.

Sentuhan pengabdian masyarakat tiga orang dosen di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) berhasil membuat harganya naik hingga 10 kali lipat.

EKA PRASETYA, Singaraja

INDUSTRI gerabah di Kelurahan Banyuning, Singaraja, selama ini kerap kurang dianggap. Perajin harus berjibaku sendiri, agar produk mereka bisa laris di pasaran.

Beruntung banyak peralatan gerabah produksi wilayah setempat, yang masih digunakan untuk kegiatan adat.

Sebut saja produk gerabah berupa payuk kedas untuk wadah tirta atau ari-ri, coblong dan caratan untuk wadah tirta, kekeb untuk tempat menghidupkan api, serta cubek untuk wadah tulang mayat.

Produk ritual tersebut yang selama ini menopang kehidupan para perajin. Tambahan lainnya, muncul dari produk sampingan seperti pot atau vas bunga.

Tiga orang dosen di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, lantas melakukan pengabdian masyarakat melalui program Ipteks Bagi Masyarakat di Banyuning sejak Januari 2017 lalu.

Ketiga dosen itu adalah Luh Suartini, Hardiman, dan Agus Sudarmawan. Mereka mendampingi dua orang perajin asal Banyuning Tengah, yakni Kadek Sariani dan Luh Padma untuk meningkatkan nilai produk gerabah yang dibuat.

Terhitung pada Maret 2017, ketiga dosen ini mulai mendampingi para perajin. Mereka mendorong agar perajin mengisi motif-motif tertentu pada produk yang mereka buat. Tujuannya, agar produk bisa memiliki nilai tambah.

Produk Gerabah
produk gerabah, produk dosen, desain eksterior, desain interior

PRODUK LOKAL: Gerabah produk Banyuning karya dosen Undiksha layak jadi pelengkap eksterior maupun interior rumah Anda (Eka Prasetya/Radar Bali)

Awalnya, tak mudah membujuk perajin mengisi motif itu. Perajin terlanjur puas dengan produk apa adanya. Membuat motif tambahan, dianggap menambah pekerjaan dengan hasil yang tak jelas.

“Memang itu kesulitan utamanya, mengajak mereka keluar dari zona nyaman,” kata Luh Suartini, koordinator Program Ipteks Bagi Masyarakat.

Setelah berjalan beberapa bulan, ternyata perajin bisa mengikuti permintaan para dosen. Dengan teknik tertentu, mereka mampu mengisi motif pada produk yang mereka hasilkan.

Lama kelamaan, mereka bahkan mampu berkreasi membuat motif sendiri. Produk-produk kerajinan perajin gerabah Banyuning itu kemudian dipamerkan pada pameran bertajuk Elemen Estetik Rumah Etnik, di Ruang Pameran Fakultas Bahas dan Seni (FBS) Undiksha, siang kemarin.

Sejumlah produk gerabah dihadirkan, seperti vas besar, guci bunga, piring, vas kecil, mangkuk, guci bunga, guci cili, guci naga, hingga tegel relief.

Gerabah yang semula untuk kebutuhan ritual, kini bergeser menjadi produk interior dan eksterior. Meski demikian, fungsi ritual tetap tak bergeser.

Lantaran sudah masuk pangsa pasar dekorasi interior dan eskterior, harganya pun bergeser. Sebut saja payuk kedas.

Gerabah yang semula dihargai Rp 500 per biji, kini dijual Rp 5.000 per biji. Naik sepuluh kali lipat. Kuncinya, mengisi motif dan hiasan tertentu pada payuk kedas.

Produk Gerabah
produk gerabah, produk dosen, desain eksterior, desain interior

PRODUK LOKAL: Gerabah produk Banyuning karya dosen Undiksha layak jadi pelengkap eksterior maupun interior rumah Anda (Eka Prasetya/Radar Bali)

“Fungsinya sekarang menjadi hiasan interior rumah. Untuk vas bunga. Kalau mau digunakan untuk wadah tirta juga masih bisa,” imbuh Suartini.

Demikian pula dengan guci-guci yang dipamerkan. Tadinya guci hanya dijual Rp 50ribu per biji. Dengan sentuhan ukiran bunga, ukiran etnik, dan ukiran naga, bisa dijual seharga Rp 300 ribu.

Peminatnya pun beragam. Sebuah perusahaan florist bahkan sudah siap bekerjasama membantu pemasaran.

Hanya saja, perajin masih ketug dengan kenaikan harga yang sangat signifikan. “Mereka sampai sekarang tidak percaya kalau naiknya setinggi itu.

Mau jual payuk kedas harga Rp 5.000 masih ragu, padahal laku. Malah banyak yang bilang terlalu murah,” kata Suartini seraya tertawa.

Lantaran perajin masih ragu dengan harga tinggi, para dosen pun mengajurkan agar harga yang dipasang dalam posisi tawar menengah.

Tidak terlalu mahal, juga tidak terlampau murah. Mereka meyakini harga akan meningkat secara perlahan, seiring dengan meningkatnya permintaan.

(rb/eps/mus/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia