Kamis, 23 Nov 2017
radarbali
icon featured
Features
K-Ontha, Komunitas Onthel Jembrana

Usia Sepeda Lebih Tua dari Pemiliknya, Jadi Media Memperbanyak Teman

Senin, 11 Sep 2017 19:15 | editor : ali mustofa

BUGAR: Komunitas Onthel Tua (K-Onta) dari komunitas onthel Desa Tukadaya, Melaya, Minggu kemarin saat melakukan touring ke Kota Negara. Wayan Sunarsa (tiga dari kanan)

BUGAR: Komunitas Onthel Tua (K-Onta) dari komunitas onthel Desa Tukadaya, Melaya, Minggu kemarin saat melakukan touring ke Kota Negara. Wayan Sunarsa (tiga dari kanan) (M.Basir/Radar Bali)

Sepeda onthel merupakan sepeda mewah pada zamannya. Namun seiring perkembangan zaman, sepeda kuno ini saat ini jarang ditemui di jalanan.

 

M.BASIR, Negara

HANYA sedikit orang yang masih menggunakan sepeda onthel. Bahkan, jumlahnya bisa dihitung jari. Itu pun pengayuh sepeda onthel rata-rata orang tua.

Karena itu, demi mempertahankan habitat sepeda onthel, di Jembrana mulai bermunculan komunitas-komunitas sepeda onthel.

Komunitas sepeda onthel di Jembrana dulu cukup banyak dengan jumlah anggota ratusan setiap komunitasnya.

Namun, semakin lama komunitas-komunitas ini juga semakin berkurang. Begitu juga dengan anggotanya.

“Sekarang yang masih aktif, sering kumpul dan keliling ngontel salah sataunya komunitas ini,” kata Wayan Sunarsa, 64, Ketua Komunitas Onthel Tua (K-Onta), dari komunitas onthel Desa Tukadaya, Melaya.

Komunitas yang saat ini memiliki jumlah anggota aktif 25 orang itu, sudah berdiri sejak 8 tahun lalu.

Dulu, saat masih semua komunitas aktif jika sudah berkumpul dan mengayuh bersama jumlahnya ratusan orang.

Tidak hanya dengan satu komunitas, semua komunitas berkumpul untuk mengayuh bersama. ”Kalau komunitas saya, setiap dua minggu sekali ada arisan,” ujarnya.

Komunitas ini, lanjutnya, sudah pernah keliling Bali sebanyak dua kali. Sejumlah daerah di jawa Timur juga sudah dijajaki untuk melakukan touring bersama pencinta sepeda onthel.

Selain itu, ketika ada sesama pencinta onthel memiliki hajatan seperti pernikahan, semua anggota datang.

Seperti saat menghadiri undangan di Jember, ada sekitar 400 sepeda onthel menghadiri undangan pernikahan. “Komunitas ini juga media silaturahmi dan memperbanyak teman,”ujar pensiunan guru ini.

Lebih dari itu, dengan bersepeda termasuk onthel ini, untuk menjaga kesehatan dan sekaligus rekreasi.

Karena di usia tua para pengayuhnya, bersepeda menjadi alternatif paling tepat untuk menjaga kebugaran tubuh.

“Sekaligus untuk rekreasi, sering juga datang sembahyang ke pura-pura dengan onthel,” tambah Wayan Sunarsa.

Mengenai usia sepeda, hampir semua sepeda onthel yang ada lebih tua dari pemiliknya. Sejumlah merek onthel mulai Fongers Gazelle Phoenix Sparta, speed dan sepeda-sepeda tua lain buatan luar negeri yang masuk ke Indonesia pada zaman sebelum kemerdekaan.

”Kalau usia sepeda jangan ditanya, sudah sangat tua. Bahkan, mungkin saya belum, ada sepeda ini sudah ada,” ungkapnya.

Harga onthel ini, meski sepeda tua dan dikayuh oleh orang tua bukan berarti berharga murah. Setiap sepeda bisa di atas harga sepeda motor produk terbaru.

Berkisar dari harga terendah ada yang dihargai jutaan dan paling mahal hingga puluhan juta, tergantung jenis merek dan usia sepeda.

Menurut Sunarsa, anggota komunitasnya rata-rata memiliki sepeda tua sudah cukup lama, sebelum harga sepeda melambung tinggi seperti saat ini.

(rb/bas/mus/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia