Kamis, 21 Sep 2017
radarbali
Dwipa

Mengantuk, Pelajar SMKN 2 Bangli Hantam Pohon, Kritis

Minggu, 10 Sep 2017 05:45 | editor : ali mustofa

KRITIS: Jero Budi Subagiarsa saat mendapat perawatan di IGD RS Sanglah. Pada mulutnya dibantu dengan alat pernapasan.

KRITIS: Jero Budi Subagiarsa saat mendapat perawatan di IGD RS Sanglah. Pada mulutnya dibantu dengan alat pernapasan. (Juliadi/Radar Bali)

RadarBali.com - Malang benar nasib   Jero Budi Subagiarsa, 18, pelajar kelas XI SMKN 2 Bangli. Remaja asal Desa Songan, Kintamani, Bangli, mengalami kecelakaan lalu lintas di Jalan Raya Kayubihi Km 9.

Budi diduga mengantuk saat mengendarai sepeda motor dan menghantam pohon saat hendak pulang ke kosnya di Desa Kayubihi. 

Komang Arsana, 40 keluarga korban saat ditemui di ruangan IGD RS Sanglah mengatakan, peristiwa kecelakaan yang menimpa keponakannya bermula dari Budi yang akan pulang ke kosnya, Sabtu malam pukul 22.00.

Melintas di Jalan Raya Kayubihi Bangli, Budi melaju kencang dari arah selatan menuju arah utara. Setiba di lokasi kejadian tiba-tiba motor yang dikendarainya oleng ke arah kiri jalan.

Nahas, malah menghantam pohon perindang yang berada tepi jalan. Akibatnya, Budi mengalami cedera kepala berat dengan penggumpalan darah di otak.

Sedangkan pada tangan kiri mengalami patah tulang. "Saya mengetahui kejadian yang menimpa Budi dari bapak kosnya. Karena saat kejadian, saya sedang berada di rumah," ujar Arsana.

Diungkapkan Arsana, saat kejadian warga sekitar yang membantu mengevakuasi ke RSUD Bangli. Budi sudah dua hari tidak sadarkan diri.

Hingga harus dirujuk kembali ke RS Sanglah, Denpasar. Setelah dilakukan pemeriksaan rontgen dan CT-scan, ditemukan ada pengumpalan darah di bagian otak.

Kemudian jantung yang mengalirkan darah sudah tidak berfungsi dengan normal. Kata dokter, karena ada luka dalam di jantung akibat benturan keras.

Delapan bulan yang lalu Budi juga mengalami kecelakaan sepeda motor. Hingga kaki kanannya mengalami patah tulang.

Sekarang malah Budi mendapat musibah kecelakaan lagi. Ibunya yang kasihan, terus menangis. Pasalnya dia anak laki satu-satu di keluarga.

"Saya berharap semoga kondisi Budi cepat membaik," imbuh Arsana dengan nada sedih. "Terpenting nyawa Budi dapat diselamatkan dulu. Masalah biaya nanti keluarga pikirkan. Uang masih bisa kami cari," tutupnya. 

(rb/jul/mus/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia