Rabu, 18 Oct 2017
radarbali
icon featured
Zetizen Radar Bali

Monumen Operasi Lintas Laut Jembrana, Sejarah yang Kian Pudar

Kamis, 24 Aug 2017 18:45 | editor : ali mustofa

Monumen Operasi Lintas Laut Jembrana yang sepi pengunjung. Orang-orang yang berkunjung rata-rata adalah yang mau menyebrang ke Pulau Jawa.

Monumen Operasi Lintas Laut Jembrana yang sepi pengunjung. Orang-orang yang berkunjung rata-rata adalah yang mau menyebrang ke Pulau Jawa. (REXYANA FOR ZETIZEN RADAR BALI)

RadarBali.com – Pertempuran laut pertama dalam sejarah Republik Indonesia adalah pada 4 April 1946 oleh sepasukan TKR Laut RI yang kini dibuatkan monument Operasi Lintas Laut Banyuwangi – Bali April s/d Juli 1946.

Monument ini berada di Desa Cekik, Kecamatan Malaya, Kabupaten Jembrana. Hmm, seperti apa ya?

Usut punya usut, monumen ini merupakan saksi bisu sebuah sejarah pertempuran laut antara para pejuang Indonesia melawan tentara Belanda loh.

Di monumen ini terdapat informasi bahwa pertempuran laut ini terjadi di Selat Bali yang dipimpin oleh Kapten Markadi dan di dalam monument ini tertulis setidaknya 290 nama para pejuang pasukan Markadi.

Beberapa diantaranya merupakan para pejuang pemuda dari Bali. Tempat monumennya sangat startegis loh, berada di pinggir jalan arah ke Ketapang-Gilimanuk.

Saat masuk ke areanya, suasana begitu hening, dikelilingi rimbunnya pepohonan besar sepeti ditengah hutan.

Disana terdapat miniatur tank dan torpedo di depan pintu masuk monument.  Sebelum naik ke atas patung jangkar kapal, kita dapat mengelilingi gambar sejarah pertempuran TNI pada dinding-dinding monument yang dipagari patung senjata dan bambu runcing.

Serta di bagian belakang monumen terdapat prasasti besar yang tertuliskan nama-nama para pejuang saat itu.

“Tak banyak pengunjung dengan sengaja datang untuk melihat monumen ini. Kebanyakan pengunjung yang kemari adalah yang akan menyebrang ke Jawa. Sehingga monumen ini hanya sebagai persinggahan sementara untuk nantinya melanjutkan perjalanan,” tutur I Kade Tulus Mertayasa selaku penjaga monumen ini.

Hm, sangat miris ya jika monumen ini hanya sebagai persinggahan. Padahal jika kita ingin mengetahui sejarah mendetailnya bisa ditanyakan langsung kepada petugas disana, sehingga kita generasi muda tetap memiliki naluri kebangsaan yang tinggi untuk Indonesia ini.

Jadi, siapa niih yang udah sempet main-main ke monumen ini? 

(rb/fid/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia