Minggu, 24 Sep 2017
radarbali
Features
Mengenal Gaya Arsitektur Ciri Khas Buleleng

Pasca Penjajahan, Muncul Unsur Sekuler yang Bertentangan dengan Agama

Kamis, 17 Aug 2017 15:15 | editor : ali mustofa

Wayan Sopir dan Wayan Sudiarta saat ditemui di Kampus Undiksha

Wayan Sopir dan Wayan Sudiarta saat ditemui di Kampus Undiksha (Wayan Widyantara/Radar Bali)

Di Bali, ada istilah Desa, Kala, Patra. Ketiga hal tersebut, ternyata juga mempengaruhi gaya arsitektur bangunan di Bali, khususnya di Buleleng. Seperti apa?

 

I WAYAN WIDYANTARA, Singaraja

BACAAN tentang Perang Jagaraga, dalam buku Bali Abad XIX karya Ida Anak Agung Gde Agung dan buku berjudul Perang Jagaraga 1846 – 1849, menghiasi isi kepala Jawa Pos Radar Bali saat perjalanan menuju Pura Segara Madu yang terletak di Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Buleleng.

Perjalanan di jalan yang tidak terlalu lebar, Jawa Pos Radar Bali menempuh jarak sepanjang 11 km dari kota Singaraja menggunakan sepeda motor.

Setibanya di pura yang dikategorikan sebagai pura Khayangan Tiga yang pada umumnya ciri khas seperti pura dalem lainnya, seperti berada dekat dengan kuburan.

Tak hanya itu, pura dalem ini juga berhiaskan patung-patung  berwajah seram, seperti patung Dewi Durga.

Yang menarik perhatian Jawa Pos Radar Bali ini adalah ukiran tembok paling luar pura terdapat pahatan relief yang menceritakan pertempuran pesawat terbang kuno, perampokan bersenjata, perahu, dan relief orang meminum bir.

Meski sudah lumutan, ukiran tersebut masih berbentuk dengan jelas. Konon, di Pura Delem inilah Jero Jempiring, istri dari Patih I Gusti Ketut Jelantik  mengatur strategi dan bertahan sebagai sentra perlawanan, menghadang serangan musuh, tatkala benteng Jagaraga yang berjarak sekitar 200 meter dari pura ini diduduki Belanda pada 1848 silam atau 169 tahun lalu.

Terkait dengan bentuk ukiran tersebut, berdasar keterangan yang dihimpun Jawa Pos Radar Bali masih berkaitan dengan gejolak yang terjadi di Buleleng pada abad 18 tersebut.

Hal tersebut berpengaruh terhadap pergaulan mulitkultur yang membuat kehidupan di Buleleng sangat heterogen dibanding dengan wilayah-wilayah di kabupaten lainnya.

Beragam etnis seperti Bugis, Cina, Arab, Jawa, Madura dan Makassar pun hidup saling berdampingan.

Nah, Jawa Pos Radar Bali ini duduk di sebuah warung yang berada di sebelah pura dalem tersebut.

Sambil mengamati kondisi sekitar yang dipenuhi pohon rindang, koran ini sempat mengobrol dengan warga sekitar.

Sayangnya, warga sekitar masih banyak yang belum mengetahui secara pasti asal muasal dari keberadaan ukiran tersebut.

“Maaf, kalau soal ukiran itu, memang sudah ada lama di sini. Cuma saya nggak tau kapan itu,” ujar warga yang menemani Jawa Pos Radar Bali duduk di kursi warung yang terbuat dari bambu tersebut.

Tak berhenti disana, media ini kemudian membuat janji dengan dua orang narasumber, yakni dosen seni rupa di kampus Undiksa.

Mereka adalah Wayan Sudiarta, 48 asal Ubud dan Ketut Sopir, 53 asal Guwang, Gianyar.  Kami akhirnya ngobrol santai seputaran gaya seni arsitektur Buleleng yang sangat berbeda dengan di wilayah lain.

“Iya. Pura Dalem Jagaraga adalah salah satu jenis ukiran unik yang ada di Buleleng,” Kata Sudiarta di ruangan kelas yang kosong.

Perbincangan santai ditemani air mineral sisa dari ujian skripsi mahasiswa Seni Rupa Undiksa pun menemani obrolan kami bertiga.

“Kalau dari sejarah, tentu masuk ke agama Hindu. Namun setelah masuk ke visual (ukiran Buleleng, Red), disana mengalami perbedaan yang sangat signifikan,” timpal Ketut Sopir.

Dijelaskan lagi, hal ini mesti dilakukan percematan yang lebih jauh. Katanya, Prof Bawa Atmadja yang juga dosen di Undiksa pernah menyinggung, Buleleng memiliki ciri yang egaliter.

Namun seberapa jauh pengaruhnya terhadap seni, belum pernah dilakukan penelitian terkait cikal bakal ukiran di Buleleng.

Sopir menegaskan, ukir-ukiran yang ada di Buleleng sudah ada sebelum masa penjajahan karena berkaitan dengan konsep Hindu.

Namun, ketika Belanda masuk, disanalah mulai tampak ukiran seperti di tembok Pura Dalem Jagaraga.

“Sampai sekarang, karena egaliter tersebut, orang Buleleng sangat enak aja menerima yang baru. Dan bahkan sekarang, ukiran Buleleng sudah bercampur-campur dengan ukiran di Bali selatan,” terangnya.

Namun apa perbedaan antara ukiran patra saat massa penjajahan Belanda dan setelah penjajahan Belanda?

“Kalau patra nya, nampaknya masih sama. Yang berbeda hanya tambahan dengan adanya unsur sekuler misalnya, ukiran orang naik sepeda di Pura. Dan itu tema sekuler, padahal hal tersebut sangat bertentangan dengan konsep agama Hindu,” jawabnya.

(rb/ara/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia