Kamis, 21 Sep 2017
radarbali
Features
Kupu- Kupu Kuning, Tarian Khas Pengiring Raja

Serba Lelaki, Ceritakan Penaklukan Kerajaan Selaparang

Minggu, 16 Jul 2017 18:55 | editor : ali mustofa

PAPARKAN CERITA PERANG : Tari Kupu Kupu Kuning sakral dari Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem, sedang dipentaskan. Semua penari lelaki berkostum serba kuning.

PAPARKAN CERITA PERANG : Tari Kupu Kupu Kuning sakral dari Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem, sedang dipentaskan. Semua penari lelaki berkostum serba kuning. (Istimewa)

Desa Pakraman Dukuh Penaban dikenal memiliki segudang tradisi unik dan tarian sakral. Salah satunya adalah Tari Kupu Kupu Kuning. Yang khas dari tarian ini adalah  semua penarinya laki-laki.

WAYAN PUTRA, Karangasem

TARIAN ini diakui sudah ada sejak berdirinya desa pakraman tersebut. Tarian ini tidak melibatkan perempuan.

Berbeda dengan tarian lainnya yang biasanya dimainkan penari wanita. Busananya pun serba kuning, lengkap dengan kepet juga warna kuning.

Menurut Bendesa Adat Dukuh Penaban Nengah Suwarya, tarian lemah gemulai ini merupakan tarian perang. 

Namun, beda dengan tarian perang lain yang keras, tari ini justru banyak menyuguhkan gerakan lemah gemulai. “Namun memiliki kekuatan luar biasa,” imbuhnya.

Dikatakan Suwarya, tarian tersebut tidak memiliki pakem khusus. Gerakannya juga tidak beraturan tergantung ekspresi dan taksu yang menarikan. Yakni mengikuti gaya kupu kupu kuning yang terbang,  sesuka hati di alam bebas.

Tari ini mengisahkan perjalanan raja Karangasem dan sebanyak 40-an prajurit dari Desa Seraya. Mereka berangkat menyeberang  untuk menyerang Kerajaan Selaparang, Lombok, Nusa Tenggara Barat, ratusan tahun lalu.

Saat itu, Raja Karangasem I Gusti Anglurah Ketut Karangasem melakukan perjalanan untuk menyerang Kerajaan Selaparang. Waktu yang dipilih adalah tepat pada Anggara Umanis Perangbakat, Tahun Caka 1614 atau 1692 Masehi.

Pagi itu pasukan kerajaan berangkat dengan empat perahu berlayar ke Pantai Jasri. Saat itu Anglurah Ketut Karangasem bersama dengan Arya Kertawaksa disertai 40 orang prajurit pilihan yang terlatih khusus dari Desa Seraya.

Pasukan itu awalnya menyusuri pantai. Setelah itu menyeberangi Selat Lombok. Saat pasukan menyeberang langit sangat cerah. Dan,  mendadak terlihat di angkasa ada ribuan kupu- kupu kuning menyeberangi Selat  Lombok.

Kupu - kupu tersebut datang dari arah barat laut. Mereka mengikuti perahu dan meniti arus yang dikenal sangat ganas. Uniknya kupu - kupu kuning tersebut menatap cahaya surya.

Kumpulan kupu - kupu tersebut tampak gemerlap bagikan emas. Ada beberapa kelompok kupu - kupu terbang mendahului perahu. Bahkan, keberadaan kupu - kupu tersebut seakan jadi  penunjuk jalan.

Sementara kelompok besar ada di belakang perahu. Terkadang ke depan dan juga kembali ke belakang laksana tanggul dan bendera Kerajaan Karangasem. Semua yang ada di perahu merasa heran dengan kejadian ini.

Ternyata kupu - kupu yang mengiringi raja Karangasem tersebut tersebut adalah anugerah Ide Betara Saksi di Pura Bukit yang saat itu mengikuti perjalanan.

Bahkan, sesaat keberangkatan perahu tersebut kayu kepel yang ada di Pura Bukit daunnya tiba- tiba berguguran.

Ternyata daun tersebut menjelma sebagai kupu- kupu kuning dan terbang ke Lombok. Tempat raja Karangasem sendiri bertekad mengembangkan wilayah kekuasaannya hingga ke Lombok.

Konon kayu kepel yang sekarang ini masih ada di Pura Bukit adalah tongkat dari ibunda Ida Betara Sakti yang saat itu berjalan dari Puri Karangasem menuju arah timur Puri Amlaraja.

Hingga pada akhirnya tiba di dataran yang cukup tinggi yang kemudian disebut sebagai Desa Bukit. Begitu tongkat tersebut ditancapkan di sana, setelah itu tumbuh sebagai kayu kepel sampai sekarang.

Untuk diketahui menurut Suwarya antara Dukuh Penaban dan Desa Bukit memang ada hubungan. Sementara Tari Kupu Kupu Kuning sendiri sekarang ini hanya ada di Desa Dukuh Penaban.

Tarian ini juga dijadikan salah satu ikon karena Desa Dukuh Penaban menjadi desa wisata. Bahkan, menurut Suwarya saat Tari Kupu Kupu Kuning dipentaskan di Pura Puseh Dukuh Penaban kupu-kupu kuning kerap datang.

“Kalau dulu banyak yang datang. Sekarang ini tetap datang namun hanya sedikit, mungkin karena habitatnya yang sudah kecil,” ujarnya.

Tarian ini wajib dipentaskan saat Ngusaba Kapat atau Purnama Kapat. Selain itu juga ditarikan saat Pengrejangan. Atau, tepat Hari Raya Kuningan.

Tarian ini penarinya semua laki - laki yang berjumlah 12 orang. “Kalau umur tidak ditentukan, dari remaja sampai tua,” ujarnya.

Tarian ini juga diiringi gamelan khusus mirip lelambatan. Menurut Suwarya kalau dulu tarian ini kerap membuat penarinya kesurupan. Namun, sekarang ini tidak lagi.

Hanya saja penari dan juga penabuhnya tidak pernah belajar. Begitu mau menari langsung bisa tanpa belajar.

“Kalau usia tarian ini sudah ratusan tahun,” ujarnya. Sementara untuk durasi tergantung penarinya. Karena bisa saja panjang dan ada yang pendek.

Selain tarian ini salah satu yang cukup menarik adalah kuliner nyaud (salah). Ini adalah makanan lawar yang menggunakan bunga kamboja.

Dikisahkan, saat itu warga sedang bergotong royong membangun Pura Puseh Dukuh Penaban. Karena sulitnya bahan makanan maka dibuat lawar dan sayuran dari bunga kamboja yang kebetulan banyak tumbuh di sana.

Tradisi ini sekarang dijadikan sebagai sebuah ritual. Karena saat Purnama Kapat juga dipersembahkan banten nyaud dengan menggunakan lawar bunga kamboja atau  bunga jepun. Hanya saja bunga kamboja yang dipakai adalah khusus, yakni jepun bali.

Untuk diketahui Desa adat Dukuh Penaban terdiri dari 457 KK, namun yang tinggal di Dukuh Penaban hanya 203 KK. Sementara sisanya tinggal ke luar desa.

Selain itu, Dukuh Penaban sekarang ini juga punya museum lontar. Lontar - lontar tersebut milik warga desa yang dirawat dan disimpan di museum.

Museum lontar dibuat karena kondisi lontar milik warga banyak yang kurang diperhatikan. Karena itu untuk merawat sekaligus juga sebagai objek wisata maka dibuat museum. 

(rb/tra/pit/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia