Sabtu, 23 Sep 2017
radarbali
Features
Kadek Natalia, Paskibraka Nasional Duta Bali

Hobi Trail dan Bercita-cita Menjadi Polwan

Jumat, 14 Jul 2017 18:13 | editor : ali mustofa

DUTA BALI: Ni Kadek Natalia dan Bupati Jembrana Putu Artha

DUTA BALI: Ni Kadek Natalia dan Bupati Jembrana Putu Artha (Istimewa)

Meski baru pertama kali menjadi bagian Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), Ni Kadek Natalia Maharani, 16, berhasil menyisihkan ratusan siswa lain seluruh Bali untuk menjadi Paskibraka pada 17 Agustus mendatang di Istana Negara.

M.BASIR, Jembrana

SAMPAI saat ini Maharani masih diliputi rasa tidak percaya, bahwa dia terpilih menjadi Paskibraka mewakili Bali.

Karena sebelumnya tidak pernah terlintas dalam bayangan gadis yang lahir 24 Desember 2001. Saat dinyatakan terpilih sebagai Paskibraka di halaman istana negara, terasa seperti mimpi.

Apalagi, sejak masih duduk di bangku sekolah tidak pernah menjadi paskibraka. “Ini yang pertama menjadi paskibraka buat saya,” ujarnya, usai bertemu dengan Bupati Jembrana Putu Artha.

Sebelum mengikuti seleksi Paskibraka hingga lolos ke tingkat nasional, dara asal Banjar Arca Baler Setra, Desa Pulukan, Kecamatan Pekutatan, ini mengikuti lomba Tata Upacara Bendara (TUB) di sekolah dan berhasil menjadi juara III.

Dengan bekal itu, siswa kelas XI SMAN 1 Pekutatan II ini memberanikan diri mengikuti seleksi paskibraka tingkat kabupaten yang waktu itu diikuti sekitar 300 siswa dari berbagai sekolah di Jembrana.

Dari seleksi tingkat kabupaten Jembrana, sebanyak 10 orang siswa mengikuti seleksi ke tingkat provinsi. Selama mengikuti seleksi itu, selain tes fisik juga dilakukan tes psikologi.

Gadis dengan tinggi 169 centimeter ini akhinya lolos menjadi wakil paskibraka dari Bali bersama Komang Aji Tegak Sidiman, siswa SMAN Bali Mandara Buleleng.

“Tidak nyangka bisa lolos sampai tingkat nasional,” ungkapnya. Ditanya mengenai hobi, putri kedua pasangan I Putu Kandra Yasa dan Ni Made Sujani, berbeda dengan hobi gadis pada umumnya.

Hobinya adalah bermain basket dan sepeda motor trail. Sebelum kepincut dengan trail, Maharani mengaku sempat memiliki sepeda motor sport ninja, tetapi karena terlalu berat dia ganti dengan sepeda motor trail pemberian neneknya.

Maharani yang lahir dari keluarga pedagang ini, sejak kecil bercita-cita menjadi polisi wanita atau polwan melalui pendidikan polisi di akademi kepolisian (akpol).

Menjadi seorang polisi bagi dia adalah mimpi besar. Baginya menjadi polisi selain untuk karir adalah untuk menjadi pelayan bagi masyarakat.

Dalam waktu dekat, Maharani akan terbang ke Jakarta mengikuti proses pelatihan dan karantina untuk upacara bedera 17 Agustus di Istana Negara, bersama perwakilan dari masing-masing provinsi se Indonesia.

(rb/bas/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia