JawaPos Radar

Mendaki 7 Puncak Tertinggi Dunia

Pertaruhkan Nyawa, Tersangkut di Jurang Es dan Diterjang White Devil

07/07/2018, 10:10 WIB | Editor: Novianti Setuningsih
Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari
Mendaki 7 puncak gunung tertinggi di dunia, membuat Fransiska Dimitri dan Mathilda Dwi Lestari harus menghadapi jurang es hingga badai salju. (Chandra Satwika/Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com - Pendakian seven summits dua Srikandi Indonesia, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari penuh pengalaman mengesankan. Di antaranya adalah saat kaki salah satu dari mereka terjepit di bongkahan salju yang membuat panik, hingga terkena badai salju.

Mendaki Denali, gunung yang biasa dikenal dengan nama Gunung McKinley, (6.168 mdpl), membuat dua mahasiswi yang akrab disapa Dede dan Hilda ini beberapa kali melewati jurang es di antara glacier.

"Berkesan baik Denali sih waktu itu karena kita kan nggak pake porter, jadi cadangan makanan untuk 22 hari itu kita bawa sendiri. Dan itu lahannya glacier kan, jadi kita akan ketemu crevasse-crevasse kaya jurang es antara glacier satu dengan yang lain, kaya ada tengahnya gitu," ungkap Dede pada JawaPos.com dalam wawancara khusus, belum lama ini.

Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari
Salah satu kesulitan mendaki gunung es yang harus dihadapi Hilda dan Dede. (Istimewa for JawaPos.com)

Perjalanan pun, lanjutnya, semakin menegangkan saat pulang. Glacier yang membeku semakin bercelah dan membuka karena es yang mulai mencair. Selain itu, ketinggian yang cukup ekstrem membuat cuaca berubah-berubah.

Selain menegangkan, Dede mengungkapkan kejadian lucu pun terjadi di Denali. Perjalanan melompati jurang-jurang es yang cukup dalam membuatnya sempat parno, sehingga sepatu khusus salju yang dipakainya sempat menyangkut di es.

"Kami jalan pakai snow shoes dan harus lompatin jurang-jurang es yang cukup dalam. Saya pas lagi nyebrang, tiba-tiba snow shoes saya nyangkut, jadi kaya di posisi lumayan lebar (celah esnya) dan sempet panik teriak-teriak histeris gitu. Sempet takut juga, kita nggak tahu kan dalamnya seberapa dan nggak mau tahu juga, ngeri. Cukup lewatin aja," paparnya.

Sempat panik, ternyata kakinya hanya tersangkut sedikit di celah es dan mudah dilepaskan. Oleh karena itu, dia mengaku malu karena sudah sangat panik dan berteriak heboh.

"Namanya juga keburu parno kan, seru sih seru," ujarnya.

Sementara itu, Hilda mengatakan pengalaman yang cukup menegangkan dialami keduanya saat hendak mencapai puncak Aconcagua (6.962 mdpl). Saat berjalan menuju camp pertama, rombongan sempat terkena badai salju yang terkenal cukup ditakuti di gunung tersebut, yakni white devil.

Beruntungnya, lanjut Hilda, yang mereka hadapi hanyalah buntut dari white devil, sehingga selamat. Meskipun, kecepatan anginnya bisa mencapai 100 km/jam.

(ce1/yln/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up