JawaPos Radar

Cerita Sri Mulyani Jadi Menkeu Era SBY: Tulang Punggung Kita Rapuh

11/07/2018, 11:58 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Cerita Sri Mulyani Jadi Menkeu Era SBY: Tulang Punggung Kita Rapuh
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat pidato di rapat paripurna (Hendra Eka/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan menggelar seminar pajak bertemakan Mewujudukan Kesadaran Pajak. Acara itu merupakan bagian dalam rangka menyambut hari pajak pada 14 Juli 2018.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani memberikan sambutannya kepada para mahasiswa yang hadir. Dia mengenang momen saat menjadi Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tepatnya pada 2008 silam.

Saat itu, wanita yang akrab disapa Ani ini mengakui jika kesadaran masyarakat untuk membayar pajak masih sangat kurang. Dari total 2 juta wajib pajak (WP) pada, hanya 33 persen saja yang melaporkan pajaknya ke negara.

"Saya ingat betul saat saya jadi Menteri Keuangan kita meminta wajib pajak RI, waktu itu rasanya penduduknya sudah di atas 200 juta. WP di Indonesia itu tidak lebih dari 2 juta," ujarnya di Kantor Pusat DJP, Jakarta, Rabu (11/7).

Dengan minimnya masyarakat yang membayar pajak, perekonomian Indonesia harus menanggung sejumlah beban pembiayaan untuk lebih dari 200 juta masyarakat pada saat itu, yang tak sesuai dengan penerimaan.

Dia mengibaratkan kondisi itu seperti tubuh manusia yang memiliki tulang rapuh. Pajak, kata dia, merupakan tulang atau penopang bagi sendi-sendi kehidupan perekonomian Indonesia. Jika tulang itu rapuh, sulit rasanya untuk bisa berdiri tegap.

"No wonder orang mengatakan harus menghidupi, menjaga kedaulatan, menopang seluruh kesatuan Republik Indonesia ini untuk tegak. Tulang punggung kita rapuh dan tidak kokoh," jelasnya.

Kendati demikian, hal itu tidak mematahkan semangatnya sebagai pengelola keuangan negara. Dirinya terus menyemangati jajarannya untuk terus bisa meningkatkan penerimaan pajak. Alhasil, satu dekade kemudian jumlah WP meningkat jadi 38 juta.

Dari jumlah itu, mereka yang melaporkan kewajibannya juga meningkat dari sebelumnya 33 persen menjadi 73 persen. Dia berharap, capaian positif itu terus tumbuh seiring dengan reformasi pajak yang dilakukan Kementerian Keuangan.

"Kami sama sekali tidak berpuas diri. Namun, bisa memupuk semangat kita. Kita juga perlu mengenal dan memahami bahwa banyak yang sudah kita lakukan dan capai," tutup mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.

(ce1/hap/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up