Sabtu, 18 Nov 2017
radarbali
Bali Utama

Hmm… Sedapnya Poh Bikul Primadona Desa Menyali

Kamis, 04 May 2017 14:00

Hmm… Sedapnya Poh Bikul Primadona Desa Menyali

LEZAT: Seorang anak warga Menyali memanen poh bikul yang dikenal lezat ini. (Eka Prasetya / Radar Bali)

RadarBali.com - Buah poh bikul atau mangga tikus, menjadi primadona di Desa Menyali, Kecamatan Sawan. Buah ini dikenal karena bentuknya yang kecil dan rasanya yang manis.

Bentuk mangga ini dianggap sangat unik. Ukurannya sangat kecil. Tak lebih dari 10 cm. Bahkan, lebih mirip dengan bakal buah mangga. Ukurannya yang kecil itu menyebabkan buah ini disebut sebagai poh bikul.

Saking lezatnya, poh bikul disebut-sebut jadi alat lobi elite PDIP Buleleng ke ketua umumnya Megawati Sukarno Putri. Ya, meski kecil, namun jangan ragukan rasanya.

Buah itu memiliki rasa manis dan tekstur yang lembut. Biasanya mangga ini dikonsumsi dengan cara digigit langsung, bukan dikupas seperti mangga pada umumnya.

Selain itu buah ini juga dikenal langka. Tak heran jika mangga ini kemudian menjadi primadona di desa setempat.

Saking langkanya, saat ini hanya ada 15 buah pohon poh bikul yang tercatat di Desa Menyali. Itu pun hanya dimiliki oleh empat orang warga setempat.

Para pemilik pohon itu masing-masing Made Sariasa sebanyak dua pohon, dan Putu Sara sebanyak dua pohon.

Lalu Dadong Tangsi memiliki dua pohon, dan sisanya sembilan pohon milik Komang Subagia. Di kebun milik Komang Subagia misalnya. Pohon poh bikul miliknya diyakini berusia puluhan tahun.

Tak diketahui secara pasti sejak kapan mangga itu ada di kebunnya. Meski usia pohonnya terbilang uzur, namun pohon itu tetap rajin berbuah.

Buktinya, Rabu (3/5) kemarin, buah dari salah satu pohon dipanen. Dalam sekali panen, satu pohon menghasilkan buah paling sedikit 50 kilogram. Namun biasanya satu pohon menghasilkan hingga 100 kilogram.

“Panennya setahun sekali. Sekali panen dapatnya ya antara 50 kilogram sampai 100 kilogram. Tiap panen, cepat sekali habis. Jarang sisa,” kata Luh Widiasih, istri dari Komang Subagia.

Poh bikul juga diketahui memiliki nilai yang relatif tinggi, jika dibandingkan dengan komoditas buah mangga lainnya. Buah poh bikul bisa laku antara Rp 30-40 ribu per kilogram.

Berbeda dengan buah mangga lokal yang dijual Rp 15-20 ribu per kilogram. Perbekel Menyali, I Made Jaya Harta mengungkapkan, buah poh bikul memang dikenal sebagai komoditas primadona di Desa Menyali.

Hanya saja karena jumlah populasinya yang sedikit, tak mudah menemukan buahnya. “Ibu Megawati juga suka sekali dengan buah ini. Biasanya kalau beliau ke Bali, selalu sempat pesan buah poh bikul ini,” kata Jaya Harta.

Jaya Harta pun tak tahu pasti mengapa populasi poh bikul di desanya begitu langka. Ia menduga penyebabnya karena biji poh bikul yang sangat kecil.

Besarnya tak lebih dari ukuran korek api. Tebalnya pun tak lebih dari tripleks. “Beberapa kali ada peneliti dari Bogor yang berusaha membibitkan buah ini, tapi tidak berhasil. Pernah sampai bawa 600 indukan untuk ditempel, tapi tidak ada satu pun yang jadi. Makanya cara membibitkan ini juga masih misterius menurut kami,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng, Nyoman Swatantra mengungkapkan, pihaknya sudah beberapa kali melakukan percobaan untuk membiakkan buah poh bikul.

Penyuluh pertanian di desa setempat, sempat berusaha membiakkan dari biji. Namun gagal karena tak tumbuh tunas. Cara lainnya, mengambil tunas langsung dari pohon induk, juga belum menunjukkan hasil positif. Dinas Pertanian disebut saat ini masih berusaha membiakkan tanaman itu.

“Ada banyak aspek sebenarnya. Mungkin karena faktor tanah dan cuaca, jadi cocoknya hanya di Desa Menyali saja. Tetapi di Desa Menyali juga tidak banyak. Kemungkinan karena bijinya memang pipih dan kecil, jadi sulit yang tumbuh tunas,” kata Swatantra. (eps/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia