Rabu, 22 Nov 2017
radarbali
Bali Utama

Nahas... Niat Agar Anaknya Sembuh, Bocah Malah Tewas Tertimpa Pohon

Selasa, 18 Apr 2017 07:00

Nahas... Niat Agar Anaknya Sembuh, Bocah Malah Tewas Tertimpa Pohon

TKP: Disinilah lokasi kejadian korban tertimpa pohon terap hingga meninggal. (Eka Prasetya/Radar Bali)

RadarBali.com – Seorang bocah pelajar sekolah dasar, Komang Yulia Verayanti, 10, tewas mengenaskan setelah tertimpa dahan pohon terap atau yang lebih dikenal dengan nama pohon teep oleh masyarakat setempat.

Ironisnya korban yang tinggal di Banjar Dinas Dangin Margi, Desa Tirtasari, Kecamatan Banjar itu, tewas tertimpa saat hendak melakukan ritual melukat. Musibah itu terjadi sekitar pukul 08.30, Senin (17/4) pagi kemarin.

Peristiwa berawal ketika korban hendak melakukan ritual melukat. Kebetulan sejak beberapa hari terakhir, korban sakit demam dan cacar air.

Korban pun disarankan melukat di lokasi yang menjadi pertemuan dua sumber mata air. Kebetulan lokasi itu berada tak jauh dari rumahnya.

Korban pun memilih melakukan ritual melukat di sumber mata air yang ada di wilayah Banjar Dinas Taman Sari, Desa Banyusri, Kecamatan Banjar.

Lokasinya tak seberapa jauh dari rumah korban, dan hanya dipisahkan oleh sungai. Korban pun diantar kedua orang tuanya, yakni Gede Yasa, 39, dan Wayan Sutami, 39.

Sepupu korban, Luh Febi Amelia, 4, juga diajak serta. Sebelum melukat, keluarga korban sempat ragu karena di sisi tebing ada aktivitas penebangan kayu.

Ketika itu, Putu Wijana, 48, penebang kayu asal Desa Tirtasari, tengah berusaha menumbangkan sebatang pohon terap.

Ia didampingi dua temannya, yakni Ketut Artawan, 48, warga Desa Mayong, dan Ketut Sabdita, 42, warga Desa Tirtasari.

Meski sempat ragu, ritual itu tetap dijalankan. Saat korban hendak mengganti baju, pohon yang ditebang oleh Wijana itu pun tumbang.

Namun nahas, pohon yang ditebang itu menyerempet sebatang pohon terap lain yang pangkalnya sudah busuk.

Pohon setinggi 20 meter dengan diameter 40 cm yang terserempet itu tumbang ke arah pemandian.

Dahannya langsung menimpa kepala korban. Korban pun langsung meninggal di tempat kejadian perkara, karena kepalanya pecah.

Tak pelak kedua orang tua korban pun berteriak histeris. Penebang pohon Putu Wijana pun dibuat terkejut karena ada orang berteriak di sungai.

Ia pun turun ke bawah dan mendapati tubuh korban dalam kondisi tak bernyawa. Saat itu jenazah korban ada di dekat ayahnya. Putu Wijana pun langsung membawa jenazah korban ke tepi jalan raya.

Ibu korban terus berteriak histeris saat melihat anaknya dalam kondisi tak bernyawa. Tangis Wayan Sutami pun tak putus-putus, mulai dari lokasi kejadian hingga rumah duka.

Sementara penebang pohon, Putu Wijana langsung dibawa ke Mapolsek Banjar untuk menjalani pemeriksaan. Polisi masih mendalami, apakah ada unsur kelalaian dalam peristiwa tersebut.

“Secara garis besar, penebang pohon ini sedang menebang pohon teep. Saat rebah, pohon yang dia tebang ini menimpa pohon teep lain. Nah pohon yang satu lagi ini yang menimpa korban, jadi bukan pohon yang sedang ditebang. Kami masih mendalami, apakah ada unsur pidana atau tidak dalam peristiwa ini,” kata Kapolsek Banjar, A.A. Gede Sena.

Dari hasil pemeriksaan tim medis Puskemas Banjar II, korban mengalami sejumlah luka serius. Yakni luka pada kepala bagian atas, kaki kiri patah, dan paha kanan luka robek.

Penebang pohon Putu Wijana mengaku sempat melihat sejumlah orang yang datang ke dekat tempat ia menebang pohon. Sebelum menebang ia pun memastikan bahwa di bawah tidak ada orang.

Namun, usai menebang ia mendengar teriakan dari arah sungai, sehingga ia mencari sumber suara. “Saya lihat ada bapak korban ini, bilang anaknya ada di bawah kayu. Saya gali kayu-kayu itu, anaknya sudah meninggal dan bapaknya langsung lemas. Langsung saya panggil teman-teman yang lain, dan korban saya angkat bawa ke pinggir jalan,” kata Wijana.

Wijana mengaku membeli enam batang pohon terap dari seorang warga bernama Nyoman Sumawan. Pohon yang ia tebang kemarin, merupakan pohon terakhir yang akan ditebang.

Rencananya kayu itu akan dijual kepada orang lain yang memang sudah memesan. Di sisi lain, suasana histeris dan haru menyelimuti rumah duka.

Suasana duka begitu terasa, karena keluarga ini tertimpa musibah beruntun. Sebelum korban Yulia Verayanti meninggal, kakaknya, Kadek Indra Dwipayana juga meninggal karena kecelakaan lalu lintas, setelah mobil yang ditumpanginya ditabrak dari belakang.

Menurut ibu korban, Wayan Sutami, anaknya itu sejak beberapa hari absen sekolah karena demam. Sejak dua hari terakhir mulai muncul bintik-bintik cacar pada tubuhnya.

Dari sejumlah saran yang diterima, akhirnya korban pun disarankan untuk melukat. Sebelum kejadian, korban sebenarnya sempat menolak melakukan pelukatan.

Namun, korban akhirnya bersedia melukat. “Saya hanya ingin anak saya sembuh. Makanya saya ikuti saran melukat itu,” kata ibunya.

Sebelum kejadian korban didampingi ayahnya. Bahkan ayahnya menyaksikan langsung kayu menimpa anaknya.

Tangan kanan ayahnya pun mengalami luka lecet karena tergores dahan pohon. Ayahnya pun paling terpukul akibat kejadian itu.

Ayah korban, Gede Yasa menuturkan, sebelum pohon itu tumbang, sempat muncul pusaran angin ribut di lokasi kejadian. Sesaat kemudian pohon pun tumbang menimpa anaknya.

“Kok begini sekali nasib keluarga kami. Anak saya yang tua, belum abulan pitung dina meninggal kecelakaan. Sekarang anak saya yang kecil tertimpa pohon,” ujar ayah korban, Gede Yasa.

Jenazah korban kini disemayamkan di rumah duka yang ada di Desa Tirtasari, Kecamatan Banjar. Rencananya jenazah korban akan di-aben pada Jumat (21/4) mendatang. (eps/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia