Jumat, 19 Jan 2018
radarbali
Features
Dari Lomba Mesatua Bali Khusus Penyandang Disabilitas

Lomba Mesatua Jadi Semarak karena Diselipi Canda Spontan

Kamis, 13 Apr 2017 11:00

Lomba Mesatua Jadi Semarak karena Diselipi Canda Spontan

PEDULI SENI : Bupati Agung Bharata saat membuka lomba mesatua Bali bagi penyandang disabilitas di Balai Budaya, kemarin. Mereka ditantang untuk berkreativitas. (Istimewa)

Kalangan disabilitas dari seluruh Bali berunjuk kebolehan di lomba mesatua (bercerita) Bahasa Bali di Balai Budaya Gianyar pada Rabu (12/4). Dalam lomba yang diikuti 21 peserta tersebut berlangsung semarak. Karena beberapa peserta mampu menyelipkan humor sehingga suasana jadi hidup.

 

IB INDRA PRASETIA, Gianyar

 

ANAK-ANAK  penyandang disabilitas di seluruh kabupaten dan kota di Bali berbaur menjadi satu di balai budaya Gianyar.

Dengan mengenakan pakaian adat, mereka tampil meyakinkan untuk mengikuti lomba dalam rangka  HUT Kota Gianyar.

Lomba mesatua Bali kali ini tidak terlalu antiklimaks. Itu karena dari beberapa peserta mampu menghidupkan suasana sehingga mengundang gelak tawa penonton.

“Bercerita itu gampang. Saya juga bisa. Hanya saya takut jika tiba-tiba lupa jalan ceritanya,” itulah ucapan spontan yang terlontar dari peserta, Komang Gede Darmawan, 11.

Peserta lomba mesatua Bali bagi penyandang disabilitas itu rupanya sedang menutupi dirinya karena lupa akan cerita yang dibawakan saat lomba.

Lontaran spontan yang diucapkan penyandang disabilitas yang masih duduk di bangku kelas VI SDL B Klungkung ini pun menggelitik penonton. Gede Darmawan dalam penampilannya membawakan cerita Lutung dan I Kakua : Memaling Isen.

Meski begitu, Gede Darmawan tetap melanjutkan setiap cerita sampai tuntas. “Saya senang bisa ikut lomba karena disini ia dapat mengekspresikan rasa seni,” jelasnya.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Gianyar, I Made Watha, menyatakan, lomba mesatua Bali bagi penyandang disabilitas bertujuan untuk melestarikan seni budaya, juga untuk memberikan peran bagi penyandang disabilitas untuk berperan serta dalam mengisi kegiatan HUT Kota Gianyar.

Dengan jumlah 21 peserta dari penyandang disabilitas kabupaten/kota se-Bali, lomba ini sekaligus jadi ajang bagi para penyandang disabilitas. Juga untuk  silaturahmi dengan teman-teman mereka di kabupaten lain. 

“Para peserta akan membawakan sebuah cerita atau dongeng yang hidup dan berkembang di Bali atau di daerahnya masing-masing dengan waktu sekitar 15-30 menit,” jelasnya.

Peserta dalam mesatua nanti akan dinilai dari segi keutuhan dongeng, vokal (kekuatan/ketepatan ucapan, variasi, bunyi dan nada), kemampuan bercerita (penampilan, penguasaan ruang, narasi dan karakter), penghayatan (ekspresi, mimik dan gerak) dan bahasa (anggah, ungguhing basa, kelengutan basa).

Namun dari kriteria di atas, menurut salah satu dewan juri, I Gusti Made Agus Susana, mengaku tidak berlaku saklek, karena ini harus disesuaikan dengan kondisi peserta yaitu penyandang disabilitas. Penilaian juga harus disesuaikan kondisi masing-masing peserta.

Bupati Gianyar AA Gde Agung Bharata yang hadir dan membuka acara itu berharap para penyandang disabilitas ini tidak berkecil hati dengan kondisi fisik mereka.

Bagi yang memiliki talenta di bidang seni, seperti menabuh, menari, keterampilan dan lain-lainnya agar tetap terus berkreasi. Pemerintah Kabupaten Gianyar melalui dinas atau instansi terkait akan berupaya untuk menjembatani dan memfasilitasinya.

Mereka ditantang berkreativitas dalam berkesenian. “Silakan berkreasi, jangan ragu untuk untuk berkreativitas. Pemkab Gianyar akan selalu mendukung  dalam bentuk apa pun,” janji Bupati Agung Bharata. (/pit)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia