Rabu, 22 Nov 2017
radarbali
Bali Utama

Rusak Alam Papua, AMP Bali Minta Usir Freeport dari Papua

Selasa, 21 Mar 2017 06:30

Rusak Alam Papua, AMP Bali Minta Usir Freeport dari Papua

SUARAKAN TUNTUTAN : Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Bali kemarin menggelar unjuk rasa meminta penutupan perusahaan tambang PT Freeport, di depan Konjen Amerika Serikat, Jalan Hayam Wuruk, Denpasar. (Miftahuddin Halim/Radar Bali)

RadarBali.com - Negosiasi alot antara pemerintah Indonesia dengan PT. Freeport, tak luput dari perhatian mahasiswa asal Papua. Kemarin (20/3), puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Bali menyampaikan aspirasi di depan Kantor Konsulat Jendral (Konjen) Amerika Serikat di Jalan Hayam Wuruk.

Setidaknya ada delapan poin tuntutan yang disampaikan AMP. Salah satunya mengusir PT. Freeport dari tanah Papua.

Selain mengenakan pakaian dan pernik khas Papua, massa AMP juga membawa spanduk serta pamflet bertuliskan penolakan terhadap PT. Freeport.

Antara lain berbunyi Freeport Wajib Merehabilitasi Lingkungan, Freeport Datang Manusia - Alam Papua HilangBiarkan Kami Menentukan Pilihan Kami.

Sekitar satu jam massa berorasi di depan Konjen. Meski tidak ada pihak yang menemui, massa tetap semangat. Pengawalan ketat dari aparat kepolisian juga tak mengendurkan langkah demonstran.

“Tuntutan kami jelas, usir PT. Freeport, tarik militer. Berikan penentuan nasib sendiri,” tandas Humas AMP Bali Natalis Bukega.

Sementara itu, koordinator aksi Gidion Logo menegaskan bahwa selama 51 tahun Freeport di Papua tidak memberi manfaat nyata bagi masyarakat setempat. Limbah PT. Freeport dibuang sembarangan, sehingga membuat tanah tercemar.

“Tidak hanya alam kami hancur, manusia juga hancur perlahan,” ujar Gidion dengan nada berapi-api.

Aspirasi senada disampaikan Koordinator AMP Nipson Murib. Di dalam orasinya menyatakan saat Freeport masuk alam rusak. “Kami hidup dari bercocok tanam bukan dari emas,” pekik Munib.

Dia mengklaim di tanah Papua juga terjadi intimidasi pada masyarakat lokal. Hutan jadi rusak akibat eksplorasi tambang dan limbah. Penegakan hukum juga dinilai tidak adil. Dia mengatakan aksi mereka adalah aksi damai.

“Tidak ada kepentingan apa pun di balik aksi ini. Hanya memperjuangkan nasib rakyat dan tanah Papua,” tandasnya. Massa yang sebelumnya long march dari parkiran Timur Lapangan Niti Mandala Renon, itu berakhir tertib.(san/pit)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia