Sabtu, 18 Nov 2017
radarbali
Bali Utama

Lapas Kerobokan Sering Dikunjungi Pejabat, Kebanyakan Rencana Hanya Wacana

Senin, 20 Mar 2017 08:00

Lapas Kerobokan Sering Dikunjungi Pejabat, Kebanyakan Rencana Hanya Wacana

KUNJUNGI LAPAS: Desmond Mahesa dan sejumlah anggota Komisi III DPR RI mendatangi Lapas Kerobokan beberapa waktu lalu. (Miftahuddin Halim/Radar Bali)

RadarBali.com - PENJARA yang satu ini terbilang sering dikunjungi pejabat. Semua Menteri Hukum dan HAM dari zaman Presiden SBY hingga era Jokowi juga selalu datang. Belum lagi DPR RI.

Selalu saja ada wakil rakyat dari pusat yang berkunjung. Pernyataannya juga macam-macam.

Yang terbaru adalah kedatangan Komisi III DPR RI, yang membidangi Hukum dan HAM, Kamis lalu (9/3), dengan pimpinan rombongan Fraksi Partai Gerindra,  Desmond Junaidi Mahesa.

Dia menyatakan bahwa kekacauan di lapas adalah kesalahan kepala daerah, yang tidak bisa memimpin daerah dengan bagus. Sehingga banyak muncul “penyakit masyarakat” macam tindakan kriminal yang berujung masuk penjara.

“Cermin buruk pemerintah daerah adalah bagaimana penanganan masyarakatnya. Termasuk sejahtera atau tidaknya pemerintah juga dilihat dari keberhasilan dalam menangani penyakit masyarakat,”  ungkap Desmond.
Wacana pejabat memang selalu bermunculan. Dari memindah lapas, merehab lapas jadi bertingkat, menambah SDM lapas seperti sipir dan sebagainya.

Tapi praktiknya masih jalan di tempat. Tetap tak banyak perubahan.

Tonny yang baru bertugas dua bulan ini menyatakan bahwa sampai saat ini belum ada penerimaan pegawai. Bukan di Kerobokan namun di lapas lain juga sama.

Tapi, dia mengaku pengamanan di Lapas terbesar di Bali ini akan dimaksimalkan dengan pengamanan yang ada.

Apalagi mengenai peredaran narkoba di lapas? Pihaknya mengaku akan diperketat.

“Kami sampai saat ini terus mengantisipasi agar tidak ada barang yang masuk dengan cara pengetatan di pintu masuk, penggeledahan terhadap barang bawaan,” terangnya.

“Kami juga akan kerja sama dengan pihak terkait untuk melakukan pemeriksaan seperti sweeping itu,” imbuhnya terkait upaya pengamanan.

Sementara itu sumber Jawa Pos Radar Bali menyatakan bahwa, peredaran gelap narkoba di dalam lapas itu banyak dan sudah biasa.

Bahkan sesama napi saling utang untuk membeli narkoba. Baik sabu, ekstasi, ganja dan lain-lain.

Polisi juga tidak bisa setiap saat masuk begitu saja tanpa izin dan koordinasi.

“Tidak bisa kami  sweeping di sana secara tiba-tiba. Harus izin dulu, dan pasti akan bocor jika saat sweeping,” papar sumber Polisi. (pra/dre/pit)  

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia