Rabu, 22 Nov 2017
radarbali
Bali Dwipa

Prof. Manuaba Kini Ambil Alih RS Manuaba

Senin, 20 Mar 2017 11:00

Prof. Manuaba Kini Ambil Alih RS Manuaba

RAPAT BARENG: Prof Manuaba, dr Fajar, dan Suryatin membahas konflik di Yayasan RS Manuaba beberapa waktu lalu. (I Kadek Surya Kencana/Radar Bali)

RadarBali.com - Konflik internal rumah sakit swasta pertama di Bali, RS Manuaba, Jalan HOS Cokroaminoto No. 28, Denpasar Utara, Pemecutan Kaja, Denpasar Utara, Kota Denpasar, kian menarik ditelisik.

Mulai dari pelaporan dr. Ida Ayu Chandranita Manuaba, dr. Ida Ayu Ratih Wulansari Manuaba, dan dr. Ida Bagus Tatwa Yatendra lewat pengaduan masyarakat, Kamis (15/12/2016) ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Bali lantaran diduga tak mengantongi surat izin praktik (SIP) hingga penerbitan akta perubahan Yayasan Keluarga Manuaba pada Sabtu (8/2) yang ditandatangani notaris Haji Sri Subekti.

Perubahan dan penetapan susunan badan pembina, pengurus, serta pengawas bernomor AHU-0005024.AH.01.12. tertanggal 3 Maret 2017 ini dianggap sebagai sebuah kudeta oleh Prof. dr. Ida Bagus Gede Manuaba selaku pendiri RS Manuaba tahun 1974 silam.

Profesor kelahiran Anyar, Tabanan tahun 1937 yang menamatkan pendidikan dokter tahun 1964 di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya itu menganggap Akta Yayasan Keluarga Manuaba nomor AHU-0003396.AH.01.04 Tahun 2015 merupakan yang sah.

Penelusuran Jawa Pos Radar Bali, Sabtu (18/3) kemarin, ada beberapa perubahan dalam Akta Yayasan Keluarga Manuaba nomor AHU-0005024.AH.01.12 yang dianggap sebagai upaya kudeta oleh Prof. Manuaba.

Posisi ketua pembina yayasan yang sebelumnya dipegang oleh dr. Ida Bagus Gede Fajar Manuaba (anak sulung Prof. Manuaba) berpindah tangan ke dr. Ida Bagus Surya Putra Manuaba (anak bungsu Prof. Manuaba).

Posisi dr. Ida Ayu Chandranita Manuaba dan dr. Ida Ayu Ratih Wulansari Manuaba tetap sebagai pembina. Pergantian juga terjadi pada posisi Ketua Yayasan Keluarga Manuaba.

Ida Bagus Udayana menggeser posisi Anak Agung Istri Mas Kencanawati. Posisi sekretaris diemban oleh Ida Bagus Tatwa Yatindra dan bendahara umum dipegang oleh I Made Yudi Asmara.

Terkait perubahan ini, Prof. Manuaba yang ditemui langsung di RS Manuaba, Jumat (18/3) mengaku tidak dimintai pertimbangan alias izin.

Menurut Prof. Manuaba sangatlah aneh bila selaku anggota Dewan Pembina Yayasan, dr. I.B. Surya Putra Manuaba, dr. I.A. Ratih Wulansari Manuaba, dan dr. I.A. Chandranita Manuaba mengadakan rapat yang tidak dia restui.

“Keputusan mereka bertiga itu mungkin digunakan untuk mengubah komposisi yayasan dengan akta perubahan ke notaris,” jelasnya sembari menekankan notaris dimaksud telah ditemuinya secara langsung bersama Suryatin Lijaya selaku penasihat hukum.

Sayangnya, dr. I.A. Chandranita Manuaba yang bertindak selaku anggota pembina yayasan dan berdasarkan surat kuasa dari seluruh organ Yayasan Keluarga Manuaba menghadap notaris Hj. Sri Subekti, S.H. untuk membuat akta perubahan bernomor AHU-0005024.AH.01.12. tertanggal 3 Maret 2017 enggan berkomentar.

Dokter yang beralamat di Jalan Padang Galak No. 18, Dusun Pekandelan, Kelurahan Sanur Kaja, Denpasar Selatan itu hanya menjawab no commet nggih dan suksema dikonfirmasi pukul 16.56 kemarin saat ditanya apakah dirinya memang bersalah sehingga tak mau berkomentar.

Dalam akta perubahan Yayasan Keluarga Manuaba nomor 02 diketahui dr. Chandranita merupakan kunci terbitnya akta yang disahkan Kementerian Hukum dan HAM di Jakarta, (3/3) lalu tersebut.

Pasalnya dirinyalah yang tercatat menghadap notaris Hj. Sri Subekti, Rabu (8/2) pukul 09.15 di Jalan Tukad Yeh Aya 98 i, Panjer, Denpasar.

Menariknya, dr. Chandranita yang berstatus PNS di sebuah rumah negeri ternama di Bali ini bertindak atas seluruh organ yayasan yang dibuat di bawah tangan, Kamis (19/1).

Kedatangan dr. Chandranita tersebut tercatat untuk mengadakan perubahan anggaran dasar yayasan, yakni perubahan susunan pembina, pengurus yayasan, dan pengawas yayasan.

Terungkap dr. Chandranita mengaku kedatangannya menghadap notaris berbekal hasil rapat pembina yayasan yang dihadiri ¾ (tiga per empat) anggota badan pembina sehingga dinyatakan kuorum pada Kamis (19/1) pukul 12.00 di Kantor Yayasan Keluarga Manuaba.

Direktur RS Manuaba dr. I Made Supartayasa mengaku tak bisa berbuat banyak.

“Sekarang posisi tiang (saya) status quo. Tidak bisa mengambil kebijakan napi-napi tiang,” ucapnya.

Karena konflik dualisme Yayasan Keluarga Manuaba, terang Supartayasa kepemimpinan atau manajemen RS Manuaba diambil oleh Prof. dr. Ida Bagus Gede Manuaba selaku pendiri sekaligus satu-satunya pemilik modal.

“Diambil alih oleh Tu Aji (Prof. Manuaba red). Hal itu disampaikan langsung, Jumat (17/3) oleh Tu Aji di ruang pertemuan rumah sakit,” tandasnya.

Meski demikian Supartayasa tak memungkiri RS Manuaba kini mendapat penjagaan ketat dari pihak Polsek Denpasar Barat.

“Secara pribadi saya melihat meskipun sedang terjadi konflik internal pelayanan rumah sakit tetap seperti sedia kala,” pungkasnya sembari berharap situasi senantiasa kondusif meski dualisme yayasan sedang berlangsung.

Di sisi lain, Kapolsek Denpasar Barat Kompol Wisnu Wardana yang ditemui langsung siang kemarin di Kantor Redaksi Bisnis Indonesia sesuai mendonorkan darah dalam acara HUT I Jurnalis 28 membenarkan pihaknya melakukan pengamanan 24 jam di RS Manuaba.

“Surat permohonan bantuan pengamanan itu dilayangkan oleh pihak RS Manuaba,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, konflik internal tubuh RS Manuaba terkuak paska pelaporan tiga orang dokter yang bekangan diketahui merupakan pengurus Yayasan RS Manuaba.

Diduga lantaran tak berhasil menjalankan praktik meski berstatus anak pemilik rumah sakit muncul yayasan tandingan bertanggal 3 Maret 2017 bernomor AHU-0005024.AH.01.12.

Hal ini dianggap sebagai sebuah perlawanan alias kudeta oleh Prof. dr. Ida Bagus Gede Manuaba. (ken)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia