Rabu, 22 Nov 2017
radarbali
Features
Ketika Kuliner Lokal Menjadi Atribut Baru Destinasi Wisata Ubud (1)

Sesuaikan Perut Bule, Bu Mangku Jaga Resep Warisan

Jumat, 17 Mar 2017 08:00

Sesuaikan Perut Bule, Bu Mangku Jaga Resep Warisan

LEZAT: Menu nasi campur Bu Mangku menjadi incaran konsumen. Tidak hanya dari dalam negeri, tapi juga luar negeri. (Istimewa)

Berwisata ke Bali tidak lengkap tanpa mampir ke Ubud. Desa mungil di Kabupaten Gianyar, ini tidak hanya menawarkan keindahan alam dan kekayaan seni budaya. Kini, pariwisata Ubud semakin menggeliat dengan atribut barunya berupa wisata kuliner.

 

MAULANA SANDIJAYA, Denpasar

 

SEJARAH perkembangan kuliner di Ubud tertuang rapi dalam buku karya Putu Diah Sastri Pitanatri dan I Nyoman Darma Putra, berjudul Wisata Kuliner Atribut Baru Destinasi Ubud.

Dalam buku setebal 167 halaman itu, dijelaskan riwayat Ubud menjadi destinasi wisata dimulai tahun 1920-an. Saat itu banyak seniman dan sarjana barat yang jatuh hati terhadap Ubud.

Keindahan alam dan perilaku penduduk Ubud membuat sarjana dan seniman barat kepincut.

Peneliti dan seniman barat itu di antaranya MacPhee, Jane Belo, Vicki Baum, Baron Dresden, Leitner dan R. Goris.

Dalam perkembangannya, karya sarjana dan seniman barat itu sukses mengundang orang barat lainnya berbondong-bondong datang karena penasaran.

Nama-nama legendaris yang berjasa mengembangkan pariwisata Ubud di antaranya adalah pelukis dan pianis asal Jerman, Walter Spies. Ada juga naman pelukis Belanda Rudolf Bonnet.

Spies dan Bonnet bekerja sama dengan Raja Ubud; Tjokorda Gde Agung Sukawati, membentuk komunitas seniman diberi nama Pita Maha pada tahun 1936.

Kerjasama apik ketiganya terus belanjut hingga melahirkan Museum Prui Lukisan pada tahun 1956. Musem Prui Lukisan menjadi ikon wisata mahapenting.

Tidak hanya membuat Ubud semakin istimewa, tapi juga menjadi kebanggan Indonesia.

Salah satu tamu kehormatan yang datang adalah Ratu Juliana dari Belanda. “Tamu negara dari zaman presiden Soekarno dan rezim sesudahnya senantiasa dibawa ke Museum Prui Lukisan,” ungkap Darma.

Orang penting lainnya yang sempat tinggal di Ubud adalah Barack Obama. Presiden ke-44 Amerika Serikat, itu beserta istrinya tinggal di Ubud pada tahun 1990-an.

Selama tinggal di Ubud Obama menyelesaikan bukunya berjudul; Dreams From My Father.

Kenangan indah terhadap Ubud dirasakan novelis Amerika, Elizabeth Gilbert. Pengalaman cinta Elizabeth selama di Ubud kemudian dituangkan dalam novel Eat Pray Love.

Novel yang menjadi best seller selama tiga tahun lebih itu kemudian diangkat ke layar lebar pada 2009/2010.

“Film yang dibintangi aktris Hollywood Julia Roberts ini secara tidak langsung memberi promosi gratis luar biasa pada Bali, terutama Ubud,” ujar Pitanatri.

Ramainya kunjungan wisatawan asing dan domestik ke Ubud ini kemudian membuka peluang wisata kuliner.

Riset menunjukkan, 48 persen wisatawan lokal sengaja datang ke Ubud untuk menikmati wisata kuliner. Di mana 62 persen dari 48 persen wisatawan itu datang ke Ubud lebih dari sekali untuk menikmati kuliner.

Perkembangan kuliner di Ubud dimulai dengan sangat sederhana. Ada tiga pioner destinasi wisata kuliner Ubud, yakni masakan babi guling Bu Oka, nasi ayam Kedewatan Bu Mangku dan bebek bengil.

Ketiganya mulai terkenal sejak tahun 1990-an. Tapi, untuk menjadi terkenal seperti sekarang butuh perjuangan ekstra keras dan berliku.

Masakan mereka harus bisa diterima lidah wisatawan. Terutama wisatawan asing yang dikenal mempunyai perut sensitif.

Yang menarik, ketiga pemilik kuliner itu semuanya adalah perempuan. Pitanatri dan Darma menyebut ketiganya sebagai “Srikandi kuliner Bali”.

Kenapa disebut Srikandi kuliner Bali? “Mereka pantas diberi julukan Srikandi karena cita rasa yang dihidangkan berhasil memanah selera wisatawan,” kata Darma.

Ketiganya tetap konsisten dengan memulai usaha dari nol, hingga memberikan kontribusi terhadap wisata kuliner Ubud.

Dia mencontohkan perjuangan Bu Mangku memulai usaha nasi campur Kedewatan sejak tahun 1960. Saat itu, Bu Mangku berjualan keliling mencari tempat ramai seperti arena tajen dan odalan untuk berjualan.

“Ibu dumun (dulu) bawa meja kecil, jadi orang makan bersila di depannya. Hanya bawa tikar satu saja,” ujar Bu Mangku.

Tahun 1986 barulah Bu Mangku merenovasi rumahnya untuk dijadikan tempat jualan. Koran ini beberapa waktu lalu sempat mencoba mampir mencicipi nasi ayam Kedewatan milik Bu Mangku.

Menu yang disajikan adalah sate lilit, daging ayam, telur, sayur urab, kacang dan gorengan dilengkapi sambal bawang plus cabe goreng dan sedikit garam. Rasa masakan ini sangat lezat karena bumbunya meresap di dalam ayam dan telur.

Sayur urab yang segar semakin menambah nikmat makanan. Bagi Anda yang muslim tidak perlu khawatir karena masakan ini halal.

Pelanggan yang datang cukup banyak dari Jakarta dan Surabaya. Mereka datang rombongan khusus menikmati nasi campur Kedewatan.

Bu Mangku mengaku kunci dari masakannya adalah konsisten menggunakan bumbu keluarga. Sejak mendapat resep dari ayah mertua, Bu Mangku tidak pernah mengganti apalagi memodifikasi resep.

Salah satu resep andalannya yaitu menggunakan bawang putih Bali. Rempah-rempah lokal diyakini memiliki rasa lebih pekat dibanding impor.

Hal lain yang dijaga Bu Mangku adalah kebersihan  dapur dan standar penyajian makanan. Pegawai diwajibkan menggunakan sarung tangan saat memasak.

Pelanggan semakin merasakan nuansa Bali karena warung yang digunakan Bu Mangku adalah rumah tinggal.

Lazimnya rumah Bali terdapat ukiran, pernik patung dan bunga, menciptakan suasana tradisional.

Ditegaskan Pitanatri, nasi ayam kedewatan milik Bu Mangku kini tidak hanya menjadi payuk jajakan atau sumber penghidupan keluarganya sendiri. Tapi, sudah menjadi branding kuliner Ubud saat ini. (*/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia