Rabu, 22 Nov 2017
radarbali
Ukm

Kerajinan Dari Barang Bekas Kreatif Kian Diminati

Jumat, 03 Mar 2017 13:30

Kerajinan Dari Barang Bekas Kreatif  Kian Diminati

DIMINATI: Ketua Denpasar Clean and Green (DCG) Ketut Yudi Mahendra (kiri) menunjukan produk bokor dari kertas koran. (Dewa Ayu Pitri Arisanti / Radar Bali)

RadarBali.com- Seiring berjalannya waktu, jumlah sampah khususnya sampah plastik yang notabene sulit terurai terus mengalami peningkatan dan mengancam kelestarian alam.

Kreatifitas dan inovasi akhirnya mampu membantu mengolah sampah-sampah ini menjadi produk yang bisa dimanfaatkan kembali.

Bahkan produk dari barang bekas ini kini sangat diminati dan memiliki nilai jual yang menjanjikan.

Ketua Denpasar Clean and Green (DCG), Ketut Yudi Mahendra saat ditemui di Pameran Inovasi Pelayanan Publik HUT ke-229 Kota Denpasar, Lumintang, Kamis (2/3) mengungkapkan, setiap tahunnya peminat kerajinan barang-barang bekas karya relawan DCG terus mengalami peningkatan.

Adapun produk-produk yang dibuat dari barang bekas tersebut, terdiri dari tas, bokor, hiasan lampu, celengan dan masih banyak lagi.

 “Tapi yang paling diminati itu bokor dari koran dan tas dari botol teh gelas. Untuk harga bokor, mulai dari 25 ribu hingga Rp 175 ribu per buah,” ungkapnya.

Saking diminati masyarakat, dia mengaku mendapat keuntungan rata-rata sebesar Rp 2 juta per bulan. Hal itu karena untuk satu produk kerajinan barang bekas dia mengaku bisa mendapatkan keuntungan sebesar 80 persen.

 “Pemesanan produk daur ulang ini masih didominasi dari wilayah Denpasar dan Gianyar. Untuk luar negeri juga ada tapi kami lebih fokus ke pasar Bali terlebih dahulu. Baru-baru ini saya melayani pesanan dari Jepang,” ujarnya.

Terkait bahan baku, dia mengaku tidak ada masalah karena barang-barang bekas yang digunakannya cukup melimpah.

Namun yang menjadi kendala hingga saat ini adalah tenaga kerja yang mau membuat kerajinan ini.

Sebab pekerjaan ini menurutnya membutuhkan kesabaran, kreativitas dan inovasi agar tetap diminati.

 “Saya beberapa kali menolak pesanan karena sudah kehabisan tenaga untuk mengerjakan pesanan. Di bulan Maret ini kami akan mengedarkan surat ke seluruh desa di Kota Denpasar untuk meminta satu orang perwakilan untuk belajar membuat kerajinan dari barang bekas ini,” katanya.

Lebih lanjut diungkapkannya, saat ini DCG gencar melakukan pelatihan ke kecamatan-kecamatan. Dan baru-baru ini DCG juga melakukan pelatihan untuk anak-anak berkebutuhan khusus di Kota Denpasar.

“Kenapa kami memberikan pembinaan kepada anak-anak difabel. Kami ingin ketika mereka lulus, mereka memiliki keterampilan yang bisa digunakan untuk menghidupi hidupnya,” pungkasnya. (ayu/han)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia