Rabu, 22 Nov 2017
radarbali
Bali Utama

Relokasi Warga Songan Belum Jelas, Dinsos Buleleng Kekurangan Stok Beras

Jumat, 17 Feb 2017 06:30

Relokasi Warga Songan Belum Jelas, Dinsos Buleleng Kekurangan Stok Beras

BUTUH PERAWATAN : Beberapa warga di Desa Songan, Kintamani, tengah mendapat perawatan di tempat pengungsian kemarin. (Wayan Widyantara/Radar Bali)

RadarBali.comSeminggu sudah warga Songan, Kecamatan Kintamani, Bangli, terkena musibah longsor.

Mereka berada di tempat pengungsian. Berbagai sumbangan pun terus mengalir dari berbagai pihak. Namun, belum ada kepastian kapan warga tersebut akan direlokasi.

Pantauan Jawa Pos Radar Bali di lokasi pengungsian Kamis kemarin (16/2) sejumlah rombongan dari berbagai instansi datang untuk membawa berbagi kebutuhan untuk warga. Seperti kebutuhan makanan, obat-obatan dan juga bantuan uang tunai.

Mereka yang mengungsi antara lain dari Desa Songan, Desa Awan, Sukawana, Desa Batur Selatan dan Desa Selulung mencapai 133 KK, 506 jiwa.  Yang masih terisolasi di Desa Subaya, 22 KK atau 102 jiwa.

Salah satu relawan dari Palang Merah Indonesia (PMI) Bali, Agus Bambang Priyanto,  kepada koran ini mengungkapkan, hingga hari Rabu (15/2) sumbangan uang tunai mencapai Rp 374.064.800.

“Kalau ada yang mau menyumbang, sebaiknya uang tunai saja. Ini untuk membantu membangun rumah warga yang hancur,” terang pria yang akrab dipanggil Haji Bambang, ini.

Sedangkan Bupati Bangli, Made Gianyar, dalam penuturannya  mengingatkan tentang zona bahaya atau zona merah.

“Kalau sudah zona merah, jangan diganggu alam itu. Jangan bertempat tinggal di zona merah, jangan tebang pohon. Zona merah itu harus diikuti karakter aturan yang mengatur,” terangnya. 

“Hampir semua yang terkena musibah ini, mereka melanggar zona merah,” ungkapnya.

Langkah apa yang harus dilakukan? “Relokasi. Relokasi itu adalah salah satu alternatif solusi, tetapi masyarakat harus disadarkan, terkait dengan relokasi yang harus dilakukan,” jelasnya.

“Sehingga pemerintah tidak hanya harus mengikuti keinginan masyarakat, tetapi keinginan masyarakat itu harus diarahkan ke konstitusi (aturan),” jawabnya.

“Bila ada warga yang tidak mau di relokasi, mesti menangani surat pernyataan bahwa mereka itu sudah ditawarkan di relokasi, tetapi tidak mau direlokasi, maka harus membuat surat pernyataan. Terutama yang di zona merah,” terangnya.

Terkait relokasi menurutnya masih butuh waktu. “Ini masih memasuki tahapan tanggap darurat. Kalau relokasi, kami masih butuh bantuan Ibu Menteri (Sosial), bantuan Gubernur,” jawabnya.

Di Buleleng, musibah juga membuat kewalahan sejumlah pihak. Tak terkecuali Dinas Sosial (Dinsos) Buleleng. Setiap tahun, Dinsos Buleleng sebenarnya memiliki stok sebanyak 500 kilogram beras.

Belakangan kembali melakukan pengadaan 3,5 ton beras secara bertahap. Lagi-lagi beras ini habis, karena jumlah korban bencana terlampau banyak.

Dalam catatan Dinsos Buleleng saja, ada 1.231 kepala keluarga yang terdampak bencana.

Setiap kepala keluarga, berhak mendapatkan minimal 10 kilogram beras.

Artinya Dinsos Buleleng harus menyalurkan sedikitnya 12,3 ton beras pada awal tahun ini. Sementara stok beras sebanyak 7 ton yang telah dialokasikan sudah ludes.

Di Tabanan buruh Galian C, Herman, 45, yang tewas di kubangan saat mencari batu cadas di Banjar Dauh Jalan Desa Kelating akhirnya ditemukan setelah dilakukan pencarian selama dua hari sejak dinyatakan tertimbun runtuhan batu pada Selasa (14/2) lalu.

 Jenazah pria paro baya asal Desa Watukepeng Banyuwangi ditemukan mengambang di permukaan sekitar pukul 03.00 dini hari pada Kamis (16/2) kemarin. (ara/eps/zul/pit)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia