Rabu, 22 Nov 2017
radarbali
Bali Utama

Akses Jalan Rusak, Ratusan Keluarga Masih Terisolasi

Selasa, 14 Feb 2017 06:30

 Akses Jalan Rusak, Ratusan Keluarga Masih Terisolasi

SERBA DARURAT : Jembatan penghubung darurat di Dusun Dajan Pangkung dengan pusat Desa Galungan, masih seadanya. (Eka Prasetya/Radar Bali)

RadarBali.com - Ratusan kepala keluarga di Kecamatan Sawan dan Kecamatan Sukasada kini dalam kondisi terisolasi. Ini karena akses jalan menuju permukiman mereka, rusak diterjang banjir bandang.

Kondisi itu terjadi di tiga wilayah berbeda, yakni di Banjar Dinas Kubu Kelod, Desa Bungkulan, dan Banjar Dinas Dajan Pangkung, Desa Galungan, serta wilayah Desa Silangjana Kecamatan Sukasada.

Kondisi terparah terjadi di wilayah Banjar Dinas Kubu Kelod, Desa Bungkulan. Di wilayah ini, ada 120 kepala keluarga yang tak bisa menuju ke pusat desa.

Wilayah Kubu Kelod dengan pusat Desa Bungkulan, dipisahkan dengan sebuah jembatan.

Jembatan sepanjang 20 meter dengan lebar empat meter rusak diterjang banjir bandang.

Padahal jembatan itu satu-satunya akses jalan warga Kubu Kelod menuju Desa Bungkulan, begitu juga sebaliknya.

Jembatan itu juga sangat vital, karena digunakan sebagai jalur upacara ngaben. Warga yang melakukan upacara ngaben, biasanya mengusung bade melewati jembatan itu.

Apalagi Setra Gede Desa Pakraman Bungkulan ada di wilayah Banjar Dinas Kubu Kelod. Gara-gara jembatan putus pula, upacara ngaben masal yang kini tengah berlangsung, terancam diundur.

Perbekel Bungkulan Ketut Kusuma Ardana mengatakan, jembatan itu putus pada Jumat (10/2) lalu bersamaan dengan terjadinya sejumlah bencana lain di Buleleng.

Putusnya jembatan ini bukan peristiwa pertama. Sebelumnya pada tahun 2006 lalu, peristiwa serupa juga terjadi.

Menurut Kusuma Ardana, dalam catatan desa, ada 120 kepala keluarga yang terisolasi. Yang membuat ia semakin bingung, dalam waktu dekat ini akan dilangsungkan upacara ngaben di Setra Gede Desa Pakraman Bungkulan.

“Yang bikin bingung ya itu, karena dalam waktu dekat ini ada ngaben masal. Sebenarnya jembatan itu sudah dua kali putus. Dulu tahun 2006 pernah seperti itu, kemudian direnovasi dan diperkuat. Kemarin putus lagi karena banjir bandang. Warga yang mau ke desa juga lewat sana,” kata Kusuma Ardana.

Kusuma menambahkan, sebenarnya ada akses jalur alternatif yang bisa dilalui kendaraan roda dua.

Hanya saja akses jalan itu cukup membahayakan jika digunakan. Karena jalan itu hanya berupa pematang sawah yang dipadatkan, dan hanya memiliki lebar 1,5 meter.

Apabila dilewati pada musim hujan, jalur tersebut rawan menyebabkan kecelakaan.

“Sebenarnya ada jalur alternatif. Tapi, itu kan pundukan (jalan di pematang sawah, Red). Hanya bisa roda dua. Kalau mau papasan, salah satu harus ngalah. Kalau hujan-hujan begini kan susah lewat sana. Jalannya becek, sempit, berbahaya lewat sana,” imbuhnya

Warga di Kubu Kelod rencananya membeton akses jalan di pematang sawah, itu agar tak sampai menimbulkan korban.

Namun, masih ada warga yang kebingungan karena jembatan sudah putus. Mereka yang berprofesi sebagai peternak, petani, dan sopir pun bingung karena kendaraan roda empat tak bisa masuk dan keluar dari Kubu Kelod.

Kondisi serupa terjadi di Desa Galungan, Kecamatan Sawan. Jembatan penghubung antara pusat desa dengan Banjar Dinas Dajan Pangkung, rusak dihempas air bah.

Jembatan yang telah berusia 15 tahun itu menjadi satu-satunya akses warga menuju pusat desa. Diperkirakan ada 200 kepala keluarga yang kini terisolasi di sana.

Meski akses bagi kendaraan bermotor terputus, warga dibantu personel TNI dari Batalyon Zeni Tempur (Yonzipur) Kompi A Singaraja, telah membangun jembatan darurat. Jembatan itu hanya berfungsi sebagai jembatan penyeberangan orang.

Jembatan darurat itu dibuat menggunakan sebuah balok kayu dengan lebar satu meter. Balok dipasang melintang dari barat ke timur.

Selain itu dipasang tali plastik, sebagai tempat berpegangan bagi warga yang menyeberang. Warga harus ekstra hati-hati saat menyeberang, karena ketinggian jembatan dari sungai mencapai enam meter.

Perbekel Galungan Gede Haryono mengatakan pihaknya semaksimal mungkin mengupayakan agar warganya tak sampai terisolasi.

Sehingga penanganan darurat, terpaksa memasang kayu sebagai lokasi penyeberangan. Pihak desa wanti-wanti mengingatkan pada warga, agar tak menyeberang menggunakan sepeda motor.

“Sementara khusus pejalan kaki saja. Sekarang sedang diupayakan dibuat jadi semi permanen. Kami dibantu personel dari Zeni Tempur. Mudah-mudahan cuacanya terang terus, biar bisa cepat selesai,” harap Haryono.

Sementara itu, di Desa Silangjana jembatan penghubung antara Desa Silangjana dengan Desa Sudaji, juga ikut jebol.

Setidaknya ada 50 kepala keluarga yang saat ini dalam kondisi terisolasi karena jembatan yang mereka gunakan menuju pusat desa, ambruk pasca diterjang banjir badang.

Di sisi lain, sepuluh kepala keluarga di Lingkungan Kubujati, Kelurahan Banyuning yang terdampak musibah banjir bandang, masih bertahan di tenda pengungsian.

Warga tetap bertahan di tenda, karena bingung tak tahu harus tinggal di mana lagi. Mereka hanya memiliki rumah di lokasi tersebut. Sehingga tak punya pilihan lain harus tinggal di mana.

Warga yang tinggal di pengungsian kini mulai terserang penyakit demam, karena tak bisa tidur nyenyak.

Putu Candri salah seorang warga mengaku mengalami demam karena tak bisa tidur dengan nyaman. Setiap kali turun hujan, ia tak bisa tidur nyenyak. “Sudah beberapa hari ini tidak bisa tidur. Sekarang mulai demam,” kata Candri.

Sementara itu, warga lainnya Komang Mertada berharap pemerintah bisa memfasilitasi pembangunan rumah warga.

“Sudah tidak punya harta apa-apa lagi saya, Pak. Rumah saya hilang semua. Ini ada baju di badan saja yang selamat. Kalau bisa pemerintah membantu kami rumah,” kata Mertada.

Sementara itu, Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengatakan saat ini pemerintah sudah mengalokasikan dana sebesar Rp 2,25 miliar.

Pemerintah akan menyiapkan dana pasca bencana hingga Rp 7,5 miliar. Agus menyatakan prioritas utama pemerintah saat ini adalah menangani masalah air bersih.

“Pertama air bersih dulu ditangani. Jadi, semua yang punya mobil tangki, kami kerahkan untuk menyuplai air bersih. Setelah itu baru jembatan dan aksesbilitas. Yang terisolasi seperti Galungan, Bungkulan, Silangjana, itu jadi prioritas. Nanti leading sector-nya Dinas Pekerjaan Umum,” tandas Agus.

Seperti diberitakan sebelumnya bencana terjadi di sejumlah wilayah di Kabupaten Buleleng sejak Kamis (9/2) lalu.

Akibatnya tiga orang tewas terdampak bencana di Buleleng. Pemerintah Kabupaten Buleleng pun menetapkan status tanggap darurat bencana, terhitung sejak Senin (13/2) hari ini, lantaran kerusakan yang terjadi sangat masif.

Sementara itu, material longsor yang menimbun jalan di Bukit Abah, Desa Besan, Kecamatan Dawan, Klungkung,  dibersihkan tim reaksi cepat BPBD Klungkung bersama TNI, Polri, dan warga.

Material longsor terpaksa harus dibersihkan secara manual karena alat berat tidak bisa mencapai lokasi longsor yang berada di atas bukit.

Kepala Pelaksana BPBD Klungkung I Putu Widiada mengatakan, sekitar 200 orang dari BPBD, TNI, kepolisian, Satgana, dan warga bergotong royong untuk membuka kembali jalan yang tertutup material longsor.

Pengerahan ratusan orang itu karena material longsor dipenuhi dengan batu yang cukup besar. “Besok (hari ini) rencana giat pembersihan akan kita dilanjutkan lagi,” jelasnya.

Pada pembersihan material longsor kemarin, baru setengah dari badan jalan berhasil dibersihkan dan sepeda motor sudah bisa melalui jalan tersebut.

Kendala pembersihan material longsor ini karena medan sangat sulit dilalui alat berat, sedangkan material longsor banyak batu-batu berukuran besar sehingga menyulitkan proses pembersihan.

Pihaknya tetap mengimbau masyarakat yang ada disekitar lokasi longsor untuk berhati-hati karena wilayah tersebut merupakan titik rawan longsor.

Material longsor juga masih banyak di bagian atas tebing yang sewaktu-waktu bisa terjadi longsor susulan. (eps/bas/pit)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia