Rabu, 22 Nov 2017
radarbali
Hiburan Budaya

Peserta Terbanyak Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya Dari Bali Utara

Selasa, 31 Jan 2017 16:00

Peserta Terbanyak Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya Dari Bali Utara

DEMI SASTRA: Mendata para peserta dalam pementasan Festival Monolog Bali 100 Putu Wijaya. (Istimewa)

RadarBali.com - HAJATAN pementasan Festival monolog Bali 100 Putu Wijaya yang alan digelar mulai awal bulan Maret hingga Desember di seluruh Bali dengan menampilkan beberapa judul monolog karya sastrawan ternama asal Bali Putu Wijaya hingga kini terus digagas.

Hingga saat ini sduah terdapat 60 judul monolog yang akan dibawakan masing-masing dari seniman tetaer di Bali. Dan yang paling banyak yakni berada di Bali Utara yakni Buleleng.

Putu Satriya Kusuma selaku penggagas kegiatan ini mengatakan saat ini masih tahap pendataan.

Februari mendatang ia baru akan mengirim naskah ke masing-masing peserta untuk segera dipelajari.

Saat ini, sudah ada 9 Kabupaten dan Kota yang menjadi tempat pementasan teater bersifat mandiri dalam rangka apresiasi terhadap sastrawan Pu Wijaya yang merupakan putra asli Bali.

“Jadi kemungkinan pementasannya merata di seluruh Kabupetan dan kota di Bali. Tapi Buleleng menjadi yang terbanyak judul monolog yang dipentaskan ada sekitar 40 judul,” tuturnya dihubungi Koran ini Senin (30/1) kemarin.

Jadwal pementasan akan diumumkan setiap bulannya. Yang jelas dalam satu bulan terdapat 10 monolog atau pementasan yang akan dilakukan. Hingga bulan Desember kedepan, terdapat 100 monolog yang dibawakan.

“Makanya saat ini saya harus ekstra meyakinkan ke teman-teman agar bisa mengikuti kegiatan ini. Syukur-syukur bisa mencapai 118 judul monolog yang dibawakan seperti isi judul monolog dibuku Putu Wijaya,” paparnya.

Diungkapkan, kegiatan ini sebagai ajang unjuk gigi para seniman tetaer di Bali dalam memainkan monolog.

Ini juga sebagai ujian, apakah benar-benar seniman teater atau hanya sekedar ikut-ikutan saja dan hanya menunggu even resmi .

“Karena kebanyakan teman-teman hanya menunggu even ceremony saja yang diadakan pemerintah. Jadi kalau tidak ada ceremony, mereka diam tanpa kegiatan, ketimbang diam, mending ikut mensukseskan kegiatan ini. Ini sebagai bentuk penghormatan untuk Putu Wijaya sebagai satrwan yang paling produktif,” bebernya.

Ditambahkan, saat ini kondisi Putu Wijaya sedang mengalami struk ringan, di mana salah satu tangannya tidak bisa digerakkan.

Namun kondisi itu tidak menghentikan semangat Putu Wijaya dalam melahirkan karya, terbukti dalm kondisi itu ia masih aktif menulis. (zul/rid)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia