Rabu, 22 Nov 2017
radarbali
Niskala

Simpan Sejarah Masa Silam, Bengkala Jadi Pusat Tinggalan Sejarah Buleleng

Rabu, 23 Nov 2016 11:30

Simpan Sejarah Masa Silam, Bengkala Jadi Pusat Tinggalan Sejarah Buleleng

RUMAH PERADABAN: Prasasti Bengkala yang dipamerkan di rumah peradaban kemarin (Eka Prasetya/Radar Bali)

RadarBali.com – Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, diyakini sebagai sebagai salah satu pusat tinggalan sejarah di Kabupaten Buleleng.

Cukup banyak artefak sejarah yang ditemukan di Desa Bengkala. Sebagian besar diantaranya berupa prasasti dari abad ke-12 atau tahun 1100-an masehi.

Saat ini ada beberapa tinggalan sejarah yang ditemukan di Desa Bengkala. Diantaranya Prasasti Bengkala yang sempat diterjemahkan pada tahun 2003 lalu,

serta prasasti batu yang hingga kini masih ada di tebing Tukad Daya, tepatnya di sekitar Tibuan Lantang, Desa Bengkala.

Tinggalan sejarah itu disampaikan kepada masyarakat umum di Desa Bengkala melalui program Rumah Peradaban, Selasa (22/11) kemarin.

Masyarakat tak hanya diajak memahami sejarah dan peninggalan sejarah di Desa Bengkala, namun juga diajak melihat dari dekat tinggalan-tinggalan sejarah yang dipamerkan di Balai Desa Bengkala.

Kepala Balai Arkeologi Denpasar, I Gusti Made Suarbhawa mengatakan, tinggalan sejarah di Desa Bengkala,

selama ini menjadi sumber budaya, tradisi, sekaligus potensi tinggalan budaya di Desa Bengkala yang begitu dimuliakan.

Tinggalan sejarah berupa Prasasti Bengkala kemudian dibuatkan Pura Peninjoan di Desa Bengkala. Suarbhawa menceritakan prasasti itu sebenarnya ditemukan tahun 1971 dan baru tuntas dibaca pada tahun 2013.

Dalam prasasti diceritakan bahwa masyarakat Bengkala mengajukan protes terhadap perilaku pejabat-pejabat kerajaan yang dianggap kurang adil.

Prasasti itu pun diterbitkan untuk menyelesaikan masalah yang disampaikan perwakilan masyarakat.

“Mereka ini melakukan protes secara baik-baik, hingga akhirnya muncul prasasti ini. Prasasti ini dikeluarkan pada tahun saka 1103 atau tepatnya 22 Juli 1181 masehi,

pada masa pemerintahan Rasa Jayapangus. Prasasti itu ditulis dengan aksara Jawa Kuno, bahasa Jawa Kuno,” jelas Suarbhawa.

Sementara itu Perbekel Bengkala, I Made Arpana mengungkapkan, keberadaan Prasasti Bengkala itu seolah membuka jati diri masyarakat Bengkala.

Prasasti itu dimaknai dan dihormati setahun sekali. Prasasti dibuka dan dibaca kembali, setiap tanggal 22 Juli. Tanggal itu juga dijadikan sebagai hari jadi Desa Bengkala.

Meski banyak ada tinggalan sejarah di Desa Bengkala, namun sampai kini belum ada lokasi representative di Desa Bengkala

untuk menyimpan benda-benda bersejarah. Sejauh ini benda-benda itu disimpan di rumah Kelian Desa Pakraman Bengkala.

“Kami sudah berkoordinasi kepada Balai Arkeologi Denpasar, agar dibuatkan duplikat. Hari ini kami terima beberapa duplikatnya.

Keberadaan duplikat dan naskah saduran ini membantu kami memahami sejarah desa kami,” ujar Arpana. (eps/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia