Jumat, 19 Jan 2018
radarbali
Niskala
Mengikuti Prosesi Upacara Ngaben Unik di Desa Pekraman Kedungu, Tabanan

Pantang Gelar Ngaben di Setra, tapi di Pinggir Pantai

Minggu, 06 Nov 2016 10:30

Pantang Gelar Ngaben di Setra, tapi di Pinggir Pantai

UNIK : Suasana prosesi Upacara Ngaben di tepi pantai Kedungu oleh krama Desa Pekraman Kedungu, Kediri, Tabanan beberapa waktu lalu. (Istimewa)

Upacara Pitra Yadnya seperti halnya ngaben pada umumnya dilakukan oleh umat Hindu di setra atau kuburan.

Namun, berbeda dengan yang biasa dilakukan oleh krama Desa Pekraman Kedungu, Desa Belalang, Kecamatan Kediri, Tabanan.

Pasalnya karma di Desa Pekraman Kedungu melakukan upacara ngaben di tepi pantai (segara) dan pantang melakukan upacara pengabenan di setra. Bagaimana ceritanya ?

 


DEWA RASTANA, Tabanan

SETELAH meninggal, umat Hindu umumnya akan menyelenggarakan Upacara Pitra Yadnya sebagai wujud Yadnya atau kewajiban kepada leluhur.

Di Bali sendiri ada sejumlah Desa Pekraman yang pantang melakukan Upacara Ngaben di setra salah satunya adalah Desa Pekraman Kedungu, Desa Belalang, Kecamatan Kediri, Tabanan.

Bendesa Adat Desa Pekraman Kedungu, I Made Sirna mengungkapkan bahwa hal tersebut sudah berlangsung secara turun temurun meskipun hingga saat ini belum ada yang tertulis secara resmi.

“Prosesi Upacara Ngaben di tepi pantai ini sudah kami lakukan secara turun temurun, meskipun belum ada tertulis dalam prasasti,” ungkapnya.

Menurutnya, pantangan melakukan Upacara Ngaben di Setra setempat adalah karena posisi Setra Desa Pekraman Kedungu yang berada di areal Pura Kahyangan Tiga sehingga masuk dalam radius kawasan suci Pura.

Atas pertimbangan radius kesucian Pura itulah maka krama setempat melakukan Upacara Ngaben di tepi pantai.

“Jarak antara setra dengan Pura Kahyangan Tiga bisa terbilang sangat dekat, sehingga apabila dilakukan pembakaran layon abu bisa saja beterbangan  sehingga merusak kesucian Pura,” paparnya.

Sirna menjelaskan Setra Desa Pekraman Kedungu tersebut dikelilingi oleh Pura Kahyangan Tiga di antaranya Pura Dalem yang terletak disebelah barat setra dengan jarak 7 meter.

Kemudian di sebelah barat Pura Dalem terdapat Pura Puseh dan Pura Bale Agung dengan jarak dari Setra sekitar 50 meter lebih.

Di samping itu, krama Desa Pekraman Kedungu juga pantang melaksanakan prosesi Ngangkid atau membongkar kuburan yang biasa dilakukan sebelum prosesi Upacara Ngaben.

Pasalnya menurut cerita turun temurun, apabila krama melakukan proses Ngangkid tersebut maka akan menimbulkan penyakit di Desa Pekraman Kedungu jika ada jenazah yang masih berbau.

“Maka oleh itu ketika Upacara Ngaben, maka jenazah akan disimbolkan dengan Daksina. Jadi prosesi Pengabenan disini sama seperti pada umumnya,

hanya saja jenazah orang yang akan diaben disimbolkan dengan Daksina karena disini pantang melakukan prosesi Ngangkid,” jelas Sirna.

Ditambahkannya, prosesi tersebut berlaku bagi krama yang jenazahnya langsung dikubur saat meninggal, sehingga pada saat melakukan Upacara Ngaben maka jenazah tidak akan digali lagi melainkan menggunakan Daksina.

Namun apabila karma tersebut meninggal dan langsung diaben maka jenazahnya akan langsung diaben dan dibakar ditepi pantai.

“Kalau untuk Ngaben missal biasa kami lakukan lima tahun sekali. Dan prosesi Ngaben ini dilakukan ditiga Banjar Adat yang masuk

di Desa Pekraman Kedungu, yakni Banjar Adat Kedungu, Banjar Adat Dauh Rurung, dan Banjar Adat Jelinjing,” lanjutnya.

Rentetan proses Upacara Ngaben di Desa Pekraman Kedungu pun tak jauh berbeda dari Upacara Ngaben pada umumnya.

Di mana hari pertama biasa diawali dengan prosesi Ngungkab Lawang, yang dilanjutkan ritual Ngulapin. Kemudian barulah dilakukan prosesi Ngangkid atau Ngedetin jenazah di Setra yang disimbolkan dengan Daksina.

Lalu akan dilanjutkan dengan prosesi Ngunggahang Lawang di Bale Bangsal yang sudah disiapkan oleh karma berupa bangunan non permanen yang terbuat dari bambu sebelum keesokan harinya akan berlangsung Upacara Ngaben.

Ia pun menegaskan bahwa hal tersebut sudah ia warisi sejak dulu sehingga diharapkan bisa tetap diwarisi oleh generasi muda di Desa Pekraman Kedungu sendiri. (*/mus)


 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia