Jumat, 19 Jan 2018
radarbali
Niskala
Mengenal Keunikan Pura Luhur Mekori di Desa Belimbing, Pupuan

Dulu Disungsung Manusia Raksasa Kanibal, Kini Jadi Objek Wisata Spiritual

Kamis, 03 Nov 2016 17:30

Dulu Disungsung Manusia Raksasa Kanibal, Kini Jadi Objek Wisata Spiritual

ASRI : Suasana di Pura Luhur Mekori Banjar Pemudungan, Desa Belimbing, Kecamatan Pupuan. Tabanan, Rabu kemari (2/11). (Dewa Rastana/Radar Bali)

Selain Pura Siwa di Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Tabanan, salah satu Pura di Kecamatan Pupuan yang menarik menjadi wisata spiritual adalah Pura Luhur Mekori

di Banjar Pemudungan, Desa Belimbing, Kecamatan Pupuan, Tabanan. Tak sulit untuk menemui pura yang satu ini karena berada di jalan utama jalur Pupuan-Tabanan. 

 


DEWA RASTANA, Tabanan

PURA Luhur Mekori menyimpan berbagai sejarah dan keunikan tersendiri.Nama Pura Luhur Mekori berasal dari arti kata Mekori yang terdiri dari kata ‘Kori’ yang artinya Gapura atau Candi Kurung.

Setelah ditambah dengan awalan ‘Me’ sehingga menjadi Mekori yang artinya bergapura atau bercandi kurung.

Jika dilihat dari luar Pura Luhur Mekori tampak seperti bergapura dengan diapit dua buah pohon bunut yang besar.

“Namun menurut kepercayaan ada juga yang mengatakan jika Mekori tersebut awalnya adalah ‘Mas Kori’, dimana orang dengan kekuatan

supranatural melihat jika gapura Pura Luhur Mekori terbuat dari emas,” terang Perkebel Desa Belimbing I Made Adi Suyana, Rabu kemarin (2/11).

Pura Luhur Mekori sendiri berhubungan erat dengan kisah permusuhan Naga Gombang dan Naga Rarik dimana pertarungan keduanya dimenangkan oleh Sang Naga Rarik yang dengan setia selalu didampingi oleh adiknya Ayu Mas Sari.

“Setelah menang melawan Naga Gombang, Naga Rarik kemudian moksa di suatu tempat yang disebut Puser Jagat, begitupun sang adik Ayu as Sari.

Ditempat mereka moksa inilah kemudian tumbuh pohon soka berbunga oranye atau Soka Bang.Dan sampai saat ini pohon Soka Bang masih bisa kita saksikan karena

keberadaannya sangat disucikan oleh karma penyungsung Pura Luhur Mekori dan berada di areal utama mandala Pura Luhur Mekori,” sambungnya.

Ditambahkannya jika menurut cerita dari para leluhur yang sudah menjadi kepercayaan oleh warga setempat, dahulu kala sejatinya

Pura Luhur Mekori disungsung oleh kelompok warga yang merupakan manusia dan kelompok raksasa yang kanibal.

Namun hal tersebut berubah ketika terjadi suatu peristiwa.“Dulu yang menyungsung Pura Luhur Mekori ini kelompok manusia dan kelompok raksasa di sebuah desa yang namanya adalah Desa Mekori,” lanjutnya.
Peristiwa tersebut bermula ketika setiap piodalan di Pura Luhur Mekori kelompok manusia menggelar pertunjukan

Tari Rejang Renteng yang akan mengitari areal utama pura dengan membawa serta lelontekan, tombak dan pengawin.

Namun setiap kali menari, penari Rejang Renteng yang berada pada barisan paling akhir selalu menghilang sehingga tak ada penari yang mau menari Rejang Renteng.

Kondisi ini sangat mengusik ketentraman masyarakat. “Namun agar tradisi turun temurun itu tidak hilang, pihak desa kemudian

memikirkan cara untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi terhadap penari Rejang Renteng yang paling akhir,” sambung Adi.

Akhirnya terfikirkanlah cara yakni dengan membekali penari Rejang Renteng paling akhir dengan benang yang diikat dipergelangan tangannya dan disiapkan

gulungan benang yang cukup panjang sehingga ketika diculik benang tersebut dapat digunakan untuk mengikuti jejak penculi tersebut.

“Dan akhirnya penari paling belakang menghilang setelah diikuti oleh warga ternyata benang itu menuju sebuah goa yang ditempati pasangan suami dan istri yang juga menyungsung Pura Luhur Mekori,” tambahnya.
Kejadian tersebut membuat masyarakat Desa Mekori murka dan ingin menghabisi raksasa tersebut, namun raksasa pria mengatakan jika raksasa wanita lah yang menculik para penari sehingga raksasa wanita dihabisi oleh masyarakat.

Namun, karena emosi raksasa pria ikut dihabisi.Sebelum terbunuh, raksasa pria mengutuk masyarakat Desa Mekori yang akan dihujani bola api sampai hancur karena membunuh raksasa yang tak bersalah.

“Setelah raksasa pria terbunuh maka Desa Mekori dihujani bola api hingga Desa porak-poranda dan akhirnya Desa Mekori

menjadi tak berpenghuni sampai akhirnya krama Pasek Tohjiwa datang dan menempati Desa Mekori,” ujarnya.

Saat mulai menempati Desa Mekori yang tak berpenghuni, karma Pasek Tohjiwa kagum akan alam Desa Mekori yang seperti buritan samuder dan dikelilingi lembah yang sangat indah menyerupai buah Belimbing.

Desa Mekori akhirnya dinamakan Desa Belimbing.Desa Belimbing saat ini mulai banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara karena keasrian alam yang dimiliki.

Pura Luhur Mekori juga sering kali dikunjungi sebagai wisata spiritual yang memiliki sejarah unik.(*/mus)

 

 

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia