Rabu, 22 Nov 2017
radarbali
Ukm

BI Perluasan Akses Keuangan UMKM

Rabu, 26 Oct 2016 16:30

BI Perluasan Akses Keuangan UMKM

Bank Indonesia memperluas akses pembiayaan untuk sektor UMKM (Adrian Suwanto/Radar Bali)

RadarBali.com - Meski pangsa kredit UMKM di Bali pada triwulan II 2016 jauh melampaui ketentuan Bank Indonesia kepada perbankan, terkait penyaluran kredit dengan nilai persentase minimal lima persen.

Namun Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali tetap gencar melakukan sosialisasi guna mengerek pangsa kredit UMKM. Sebab UMKM memiliki peran yang strategis bagi perekonomian nasional pada umumnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Causa Iman Karana saat ditemui kemarin (25/10) mengatakan,

peran strategis bagi perekonomian nasional, terbukti ketika Indonesia mengalami krisis, dan UMKM mampu bertahan lebih kuat ketimbang usaha besar.

“Meskipun demikian, UMKM masih menghadapi banyak kendala dan tantangan dalam pengembangan usahanya.

Terkait dengan akses pembiayaan yang terkendala permasalahan jaminan, dan juga lemahnya pembukuan usaha,” ujarnya.

Seiring upaya BI dan perbankan mendorong peningkatan pembiayaan kepada UMKM, pangsa kredit UMKM di triwulan II

tercatat mengalami peningkatan 35,03 persen, terhadap total kredit yang telah disalurkan dalam periode tersebut.

Sedangkan capaian pada periode tersebut mengalami peningkatan, dibandingkan pangsa di triwulan sebelumnya yang tercatat 33,68 persen.

“Nah kebetulan untuk Bali, posisi triwulan II itu sudah lebih dari ketentuan, yaitu 35,03 persen. Padahal ketentuannya itu pada tahun 2016 sekitar 5 persen.

Ini artinya Bali sudah baik dalam rangka menyalurkan kreditnya pada UMKM,” terangnya.

Dia memaparkan, bila dilihat berdasarkan sektor ekonomi, pangsa kredit UMKM terbesar masih didominasi sektor perdagangan, dengan share 60,75 persen.

“Ini yang kami akan dorong ke sektor-sektor lainnya, seperti ke sektor pertanian sebagai salah satu sektor penggerak perekonomian Bali,” ungkapnya.

Causa menambahkan, dari total kredit yang disalurkan per Agustus 2016, sekitar 42,66 persen merupakan kredit yang disalurkan di sektor perdagangan, hotel dan restoran.

Kemudian 37,68 persen kredit konsumtif, lalu sekitar 2,57 persen merupakan kredit industri. Sisanya ada kredit pertambangan, dan kredit pertanian.

“Mudah-mudahan dalam forum ini bisa lebih mencari titik temu antara perbankan dari sisi CSR-nya BUMN, dan juga Jamkrida,

untuk menjembatani kebutuhan pembiayaan di sektor-sektor pertanian, tekstil, dan lainnya,” pungkasnya. (ayu/wid)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia