Rabu, 22 Nov 2017
radarbali
Tenis

Gila…Gila…Uang Saku Tim Sepak Bola PON Disunat?

Jumat, 21 Oct 2016 18:30

Gila…Gila…Uang Saku Tim Sepak Bola PON Disunat?

Ilustrasi (pojoksatu.id)

RadarBali.com - Kejanggalan terjadi di tim sepak bola PON XVII Bali. Heboh muncul ketika Ketua Umum Klub Damar Cakti Denpasar AA Ngurah Garga Chandra Gupta, mengunggah permasalahan ini di media sosial facebook.

Dia menyoroti ada kejanggalan di tim yang diasuh oleh AA Bramastra tersebut. Pertama yang disoroti adalah masalah pencoretan kiper I Putu Maruti Anggriawan dan digantikan oleh Gede Bambang Arimbawa.

Padahal, Bambang kelahiran tahun 1992 sesuai dengan ijazah SMA miliknya. Sedangkan Maruti adalah kiper kelahiran tahun 1993.

Yang menjadi persoalan ada indikasi pencurian umur yang dilakukan oleh Bambang ataupun manajemen tim sepak bola PON Bali.

Apalagi yang membuat tidak masuk akal adalah Maruti baru mengetahui jika dirinya dicoret pada saat sudah tiba di Jawa Barat.

“Dia (Bambang, red) kelahiran tahun 1992, tetapi ijazahnya seakan “dipalsukan” menjadi tahun 1993 sesuai persyaratan batas maksimal kelahiran pemain PON.

Saya jadi berpikir keras apakah pemainnya yang berbohong ataukah manajemen sudah tahu tetapi menutupi dan membantu hal tersebut,” terang Chandra Gupta ditemui di Lapangan Damar Cakti Kamis sore kemarin (20/10)

Bahkan, dari data yang peroleh Bambang tidak masuk dalam 30 pemain yang didaftarkan pada saat Pra-PON di Kuningan, pada bulan April lalu.

Bukan hanya itu yang disoroti oleh dirinya, masalah uang saku yang disunat juga dipermasalahkan. Dari informasi yang didapatkan, para pemain dipotong

uang sakunya yang seharusnya mendapatkan Rp 8 juta per pemain termasuk pelatih, tetapi uang saku tersebut disunat. Pemotongan tersebut berkisar Rp 2 juta atau lebih per per pemain.

“Ada yang dapat Rp 4 juta, Rp 6 juta, bahkan ada yang mendapatkan uang saku Rp 3 juta saja. Ada apa ini? Saya menuntut pihak-pihak yang terkait untuk

bertanggung jawab di tim sepakbola PON Bali untuk menjelaskan hal ini. jika tidak, saya akan membawa permasalahan ini ke DPRD Kota Denpasar,” terangnya.

Dikonfirmasi terpisah mengenai hal ini, Bendahara Tim Sepakbola PON Bali Anom Prenatha yang menanggapi permasalahan ini di facebooksaat dikonfirmasi terpisah mengatakan,

masalah dugaan pencurian umur tersebut karena terjadi karena salah tulis dari pihak sekolah soal tahun kelahiran Bambang.

Meskipun kelahiran 1992 atau 1993, tetapi tetap saja Bambang tidak boleh bermain karena tidak masuk dalam entry by name 30 pemain yang didaftarkan pada saat Pra-PON.

Dirinya berkilah, hal tersebut juga terjadi di daerah lainnya. “Itu urusan manajemen tim. Saya tidak tahu Bambang tahun berapa lahir karena saya baru kenal dia (Bambang, red) saat PON saja.

Jadi hanya Bambang yang tahu,” terangnya. Lantas, bagaimana dengan pemotongan uang saku pemain? Dirinya pemotongan tersebut untuk memberikan uang saku kepada para ofisial yang tidak ditanggung oleh KONI Bali.

Menanggapi pemotongan uang saku tersebut, Waketum II KONI Bali IGN Oka Dharmawan yang ditemui di KONI Bali kemarin mengatakan, dirinya terkejut mendengar hal tersebut.

“Sebelum saya berbicara jauh, tentu masalah ini akan saya laporkan terlebih dahulu kepada Ketum KONI Bali karena beliau masih

berada di Jakarta. Yang jelas, seluruh atlet maupun ofisial dan pelatih sama rata mendapatkan uang saku Rp 8 juta,” jelasnya.

Dari sisi pemain, penyerang Tim Sepakbola PON Bali Samsul Muhidin Pelu mengungkapkan jika dirinya mendapatkan uang saku sebesar Rp 6 juta dan bukan Rp 8 juta.

“Iya saya dapatnya Rp 6 juta,” terangnya. Lantas, apakah dirinya mengetahui jika uang saku yang dibagikan telah dipotong?

Penyerang Bali United U-21 tersebut mengaku tidak mengetahui hal tersebut. “Saya baru tahu sekarang berapa sebenarnya nominal yang saya dapat,” ungkapnya. (lit/han)

 

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia