Rabu, 22 Nov 2017
radarbali
Niskala

Ngusaba Goreng Dipungkasi Tradisi Metigtig dan Masraman

Selasa, 18 Oct 2016 17:30

Ngusaba Goreng Dipungkasi Tradisi Metigtig dan Masraman

TRADISI MASRAMAN: Warga DesaDesa Pakraman Geriana Kanginan melaksanakan tradisi masraman sebagai akhir dari Ngusaba Goreng, Senin (17/10). (Wayan Putra/Radar Bali)

RadarBali.com - Sebanyak 28 orang yang merupakan warga Desa Pengarep, Desa Adat Geriana Kanginan, mengikuti tradisi metigtig, Senin sore (17/10).

Desa Pengarep ini adalah yang punya tegak atau kursi di desa tersebut. Sementara tradisi metigtig dilakukan sekitar pukul 17.00 di Jaba Tengah Pura Puseh.

Di mana krama Desa Pengarep saling serang dan pukul dengan menggunakan sampianSampian ini sendiri telah disiapkan sebelumnya oleh Desa Pakraman.

Mereka saling serang dan pukul dengan menggunakan sampian. Namun demikian tidak ada emosi sekalipun terkadang pukulan lawan cukup keras.

Siat sampian sendiri terjadi tidak terlalu lama. Hanya sekitar 15 menit. Sebelumnya juga dilakukan tradisi ngerejang dan disertai Ida Bhatara Mebiase (mesolah keliling Pura, Red).

Tiga putara di Utama Mandala, dan enam putaran di Madnya Mandala. Ida bhtara dipundut (diusung, Red) diiringi rejang sakral yang menari-nari dengan lemah gemulai.

Untuk rejang sakral dan Ida Bhatara mebiasa tidak boleh difoto dan direkam dengan kamera. Usai metigtig dilanjutkan dengan tradisimasraman.

Di mana pemuda duel satu lawan satu dengan menggunakan senjata tombak. Ini menandakan kalau Desa Pakraman Geriana Kangin juga kental dengan olah keprajuritan.

Hal ini wajar karena Desa Pakraman jaman dulu mirip dengan kerajaan yang punya wewidangan (wilayah) dan ada undang-undang atau awig-awig yang berlaku.

Bendesa Adat Geriana Kangin, Jro Ketut Yasa mengakui aci ngusaba goreng dilakukan selama sembilan hari. Diawali dengan pengambuan(menghias pura), pebentenanpemiosanperejangan dan juga nyuung.

Pemeosan sendiri ada tiga kali. Pemeosan pertama yang merupakan pemeosan Ida Bhatara di Puseh. Dikaitkan dengan Prejangaa pertama yang juga merupakan kerejangan Ida Bhatara  di Puseh.

Saat perejangan pertama digelar tradisi neruna. Kemudian ada pemesosan setengah atau kedua yang merupakan puncak ngusaba.

Pemeosan ini juga dikenal dengan pemeosan Ida Bhatara Ratu Bagus Bebotoh. Karena pada pemeosan ini juga dimulai tajen due (sabungan ayam, Red) yang wajib dilakukan tiga seet.

Pada pemesosan setengah juga dilakukan meos ke Pura Dalem atau sembahyang di Pura Dalem yang letaknya sekitar 300 meter di selatan Pura Puseh.

Sementara pemesosan terakhir juga dikenal dengan pemeosan Bhatara Sri (Dewa padi atau kesuburan, Red), ini juga terkait karena warga desa Pakraman Geriana Kangin sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani.

Dilanjutkan dengan perejangan Bhatara Sri atau perejangan terakhir atau pengusan. Saat inilah dilakukan tradisi metigtig.

Ngusaba Goreng sendiri juga ditandai dengan jajanan khas desa setempat seperti jajan goreng dan juga dadal. Tradisi ini dilakukan setahun sekali tepat saat Sasih Kapat.

Sebelumnya juga diawali dengan Melasti ke Segara Manggis, Karangasem. “Hari ini (kemarin) Ida Bhatara langsung mesineb,” ujar Jro Yasa.

Sementara sebelas hari lagi akan dilakukan muyuh, yakni bersih-bersih dan mencabut penjor. Saat ini juga akan dilakukan pelaporan penghabisan selama ngusaba dan pemasukan punia(tra/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia