Rabu, 22 Nov 2017
radarbali
Niskala

Ngayah Layon Terakhir Kali, Belum Ada Pengganti Dewa Aji Tapakan

Sabtu, 15 Oct 2016 05:30

Ngayah Layon Terakhir Kali, Belum Ada Pengganti Dewa Aji Tapakan

Dewa Aji Tapakan (M.Basir/Radar Bali)

RadarBali.com – Ngayah menjadi watangan atau layon di kubur di pentas calonarang dengan mependem di Setra Banjar Adat Getakan, bakal menjadi yang terakhir bagi Dewa Aji Tapakan.

Pasalnya, pada pentas calonarang tahun mendatang belum ada pengganti dan akan ditentukan jelang pentas calonarang dengan proses pemilihan layon yang sakral.

Dengan tutur kata lembut dan masih terbata-bata, Dewa Aji Tapakan mengungkapkan pewisik yang pernah dialami hingga menjadi watangan mependem.

Diceritakan, dulu sebelum menjadi watangan dirinya sering sakit ayan. Tetapi, setelah mendapat pewisik untuk menjadi watangan, sakitnya mendadak sembuh.

“Kalau tidak menjadi watangan mungkin sudah mati,” ungkapnya. Menjadi watangan, lanjutnya, bukan kehendaknya sendiri, tetapi perintah dari sesuhunan, jadi harus dilakukan.

Dari pewisik yang diterima, pada pentas calonarang yang kesebelas atau terakhir harus watangan mependem. ”Ini yang terakhir,” imbuhnya.

Meski menjadi watangan tidak bisa asal pilih. Harus melalui ritual sakral. Sebelum pentas calonarang yang berikutnya, baru dipilih watangan yang akan menggantikan dirinya.

“Nanti ada upacaranya sendiri kalau cari watangan pengganti,” tegasnya. Untuk diketahui, pentas calonarang di Banjar Adat Getakan rutin dilakukan setiap tahun.

Namun, tahun ini lebih menggemparkan karena watangan atau layon dikubur hidup-hidup di setra atau kuburan Banjar adat Getakan.

Jauh hari sebelum melakukan pentas, pihak Banjar Adat Getakan meminta pendapat dari aparat penegak hukum yakni kepolisian dan kejaksaan yang dikonsep dengan seminar atau paruman.

Tetapi saat itu, kepolisian menyebutkan tidak bisa berpendapat mengizinkan atau melarang karena pentas calonarang dengan bangke-bangkean itu wilayah adat.

Akhirnya solusinya dibuatkan surat pernyataan dari pihak keluarga diketahui perangkat desa dinas, desa adat dan kepolisian bahwa tidak akan menuntut

jika nantinya terjadi sesuatu pada watangan yang dikubur. Pihak keluarga merelakan karena Dewa Aji Tapakan menjadi watangan ngayah.(bas/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia