Sabtu, 18 Nov 2017
radarbali
Niskala

Hii…Serem…Dikubur Hidup-hidup, Dewa Aji Tapakan Ditemui Leak

Sabtu, 15 Oct 2016 05:00

Hii…Serem…Dikubur Hidup-hidup, Dewa Aji Tapakan Ditemui Leak

SAKRAL: Prosesi pemakaian kain kafan Dewa Aji Tapakan Kamis malam hingga Jumat pagi (Istimewa)

RadarBali.com -  Pentas calonarang di Banjar Adat Getakan, Desa Getakan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung menyita perhatian ribuan orang.

Kamis (13/10) malam hingga Jumat (14/10) pagi, ribuan orang menyaksikan pentas calonarang dengan layon atau wetangan mependem.

Ribuan orang menjadi saksi Dewa Aji Tapakan kembali bangkit setelah dikubur 4 jam lebih. Ribuan orang menggunakan baju adat serba putih dari berbagai daerah berdatangan ke catus pata Banjar Adat Getakan, tempat dilaksanakannya pentas calonarang.

Malam semakin larut, ribuan orang semakin banyak memadati setiap ruas jalan, semua berdesakan untuk menyaksikan pentas calonarang

dan prosesi upacara kematian Dewa Aji Tapakan yang ngayah menjadi layon yang akan dikubur di setra Banjar Adat Getakan.

Dengan diiringi beleganjur, proses upacara kematian, tangis dan teriakan mulai pecah. Dewa Aji Tapakan yang diarak

dari batas desa sudah tidak sadarkan diri lalu dibawa ke lokasi pentas calonarang oleh beberapa pemuda setempat.

Dewa Aji Tapakan yang terbujur kaku dimandikan lalu dibungkus dengan kain kafan dan tikar. Tepat pukul 00.00 Wita, sejumlah pemuda setempat

dengan bertelanjang dada menggunakan ikat kepala warna putih membawa Dewa Aji Tapakan yang sudah terbujur kaku seperti orang yang sudah meninggal dunia ke setra.

Ribuan orang mengikuti berdesakan menuju setra. Setelah prosesi mengubur selesai, hanya tinggal Dewa Aji seorang diri dalam gelapnya liang kubur.

Hanya ada beberapa orang kerabat dan pecalang menunggu di kuburan, hingga pentas calonarang selesai dan Dewa Aji Tapakan dibangkitkan lagi.

Ratu Mas Klungkung membangunkan Dewa Aji Tapakan dengan menepukkan kedua tangan pada gundukan. ”Tali-talinya lepas sendiri,” kata Dewa Aji Tapakan.

Tiba-tiba, gundukan tanah kuburan bergetar. Tanah yang menimbun kuburan turun naik hingga terlihat Dewa Aji Tapak yang bertelanjang dada berdiri bangkit dari kubur.

Rambut panjangnya terurai dengan ikat kepala warna putih masih yang masih melekat. Teriakan histeris pecah di antara alunan gamelan.

Menurut Dewa Aji Tapakan, kesadarannya hilang saat masih diarak di batas desa hingga dikubur. Selebihnya, Dewa Aji mengaku tidak ingat, seperti mati suri.

Tetapi ada pengalaman yang sulit diungkapkan. Dalam kubur dia seperti merasakan ada angin yang bertiup lembut.

Bahkan, melihat leak yang datang menghampirinya, penampakannya tidak bisa dilukiskan dengan kata. “Matanya merah,” ungkapnya.

Dewa Aji Tapakan tidak banyak berbicara dengan apa yang telah dialami. Kepada beberapa kerabatnya, cerita tentang angin dan leak yang sempat diungkapkan.

“Belum bisa cerita dan memang waktu itu sudah tidak sadar,” kata Desak Vera Agustina, keponakan Dewa Aji Tapakan.

Keluarga besar Dewa Aji Tapakan merasa lega dan bahagia pentas calonarang sudah selesai terlebih Dewa Aji Tapakan dilindungi sesuhunan yang diyakini.

“Bukan karena dia hebat. Bukan karena dia sakti. Tidak juga memiliki ilmu kesaktian. Dia hanya memiliki kepercayaan dan keyakinan untuk ngayah. Keyakinan pada susuhunan yang kami sungsung,” ungkap Vera.(bas/mus)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia