Rabu, 22 Nov 2017
radarbali
Investasi

Redenominasi Rupiah Tunggu Ekonomi Stabil

Kamis, 06 Oct 2016 10:30

Redenominasi Rupiah Tunggu Ekonomi Stabil

TUKAR UANG : Salah seorang warga tengah melakukan penukaran uang receh yang secara khusus digelar Bank Indonesia beberapa waktu lalu di Denpasar (Adrian Suwanto/Radar Bali)

RadarBali.com - Rencana pemerintah dan Bank Indonesia (BI) untuk menyederhanakan nilai mata uang Indonesia atau redenominasi, sampai saat ini masih dalam pembahasan legislatif, sekaligus menunggu momen yang tepat.

Sebab penerapan redenominasi rupiah baru dilakukan, ketika sudah didukung stabilnya kondisi ekonomi maupun politik dalam upaya menjaga moneter.

Deputi Direktur Departemen Pengelolaan Uang (DPU) Bank Indonesia, Asral Mashuri menegaskan, redenominasi tetap akan dilanjutkan.

Tapi kapan kepastian pelaksanaan penyederhanaan nilai rupiah itu masih berada di legislatif, lantaran masih dalam pembahasan. 

Hal ini terkait dengan payung hukum redenominasi, masih dalam Rancangan Undang-Undang (RUU), yang dijadwalkan masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2017 mendatang. 

“Redenominasi rupiah dapat berjalan, jika didukung kestabilan kondisi ekonomi, kondisi ekonomi global, maupun politik dalam

upaya menjaga moneter,” katanya pada saat sesi Bisnis Proses Pengelolaan Uang Rupiah di acara Temu Wartawan Daerah yang digelar BI di Jakarta kemarin (4/10).

Jika redenominsi rupiah ini diterapkan, menurutnya harus ada sosialisasi ke masyarakat, yang setidaknya membutuhkan waktu tiga tahun.

Dalam masa transisi tersebut, keberadaan uang redenominasi rupiah dan uang lama tetap berlaku. Harapannya masyarakat makin mengenal dan terbiasa menggunakan uang redenominasi.

“Bila dipandang sudah memahami dan terbiasa menggunakan, baru uang rupiah lama akan ditarik dari peredaran,” ungkapnya.

Asral melanjutkan, dalam tahapan kebijakan pengelolaan uang rupiah, diungkapkan BI harus memenuhi kebutuhan uang rupiah di masyarakat dalam jumlah nominal yang cukup.

Termasuk jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu dan dalam kondisi yang layak edar. “Dalam mencetak uang, kami mengalami proses yang panjang.

Mulai perencanaan, pencetakan, pengeluaran, pengedaran, pencabutan, dan penarikan serta pemusnahan,” paparnya.

Dengan proses yang begitu panjang, menurutnya uang yang beredar di masyarakat tidak akan bertambah, meski BI melakukan pencetakan uang baru.

Itu karena pencetakan uang sesuai jumlah uang lusuh yang dimusnahkan. “BI mencetak uang baru, semata-mata untuk menjaga kualitas uang yang beredar di masyarakat,

bukan menambah jumlah uang beredar. Sebab bila uang beredar di masyarakat berlebih, maka akan menimbulkan inflasi,” pungkasnya. (ayu/wid)


 

 

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia