JawaPos.com - Dalam penentuan nomor urut calon legislatif (caleg) partai politik kerap kali menggunakan metode kemungkinan raihan suara terbanyak. Sehingga calon dengan potensi kemenangan tertinggi akan mendapat nomor urut 1. Namun sistem ini tidak diterapkan oleh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk pileg 2019.
Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) PSI, Sumardy mengatakan, partainya telah membuat terobosan baru. Dalam penentuan urut diundi secara acak. Tidak menggunakan metode raihan suara terbanyak.
"Bagaimana PSI menawarkan tradisi baru dalam penentuan nomor urut, di mana kami mengundi, sehingga setiap orang punya kesempatan yang sama," ungkapnya di Kantor Pusat KPU Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (17/7).
Tujuan penerapan sistem sebagai bahan pembelajaran bagi masyarakat maupun caleg itu sendiri. Menurutnya tingkat keterpilihan seseorang tidak bisa ditentukan oleh nomor urut, melainkan masyarakat harus mengenal betul caleg yang dipilihnya.
Sementara itu caleg PSI diharapkan memiliki persepsi berbeda. Bahwa keterpilihannya bukan karena nomor urut, melainkan mereka harus menawarkan program kerja yang relevan dengan daerah pemilihan (dapil) masing-masing.
"Nah yang paling penting kenapa diundi, kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa memilih caleg itu bukan sekedar memilih nomor, tapi kita harus kenal betul orangnya," jelas Sumardi.
"Jangan datang ke TPS cuma misalnya mau memilih nomor urut 1, padahal belum tentu itu yang paling bagus," sambungnya.
Di sisi lain Ketua Umum PSI, Grace Natalie menyebut penerapan sistem ini membawa dampak positif. Sebanyak 20 persen caleg perempuan PSI yang tersebar di 80 dapil mendapat nomor urut unggulan yaitu nomor 1.
"Nomor urut di PSI itu dilakukan dengan pengundian, dan dari situ ada 20 persen caleg perempuan yang dapat nomor urut 1," pungkasnya.