Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 29 Juli 2018 | 21.19 WIB

Cerita Jokowi Dengarkan Pandangan Politisi Muda di Istana Bogor

Presiden Joko Widodo ketika makan siang bersama tiga pimpinan di Istana Bogor, Sabtu (28/7). - Image

Presiden Joko Widodo ketika makan siang bersama tiga pimpinan di Istana Bogor, Sabtu (28/7).

JawaPos.com - Setelah menggelar makan malam bersama enam parpol koalisinya, kemarin Presiden Joko Widodo melakukan makan siang bersama tiga politisi muda. Mereka itu merupakan ketua umum parpol pendukung capres petahana tersebut. Di Pilpres 2019 ini, ketiga parpol itu memang tidak mencalonkan, namun tetap memberikan dukungannya ke Jokowi.


Makan siang yang menjadi bagian dari pertemuan tertutup itu di berlangsung di Istana Bogor. Tiga ketua umum itu adalah Ketum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie, Ketum Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Hary Tanoesoedibjo, serta Ketua Umum Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) Diaz Hendropriyono. Partai terakhir sebenarnya tidak benar-benar baru karena pernah berlaga di Pemilu 2014, tapi tidak lolos parliamentary threshold.


Dalam pernyataannya, Jokowi mengapresiasi keberadaan kaum muda yang menduduki jabatan tertinggi di struktur partai politik. "Mereka membawa pikiran, semangat, dan kegairahan baru di dunia politik kita," ujarnya.


Tiga tokoh tersebut memang tergolong muda bila dibandingkan dengan pucuk pimpinan partai lainnya. Terutama Grace yang saat ini berusia 36 tahun dan menjadi ketua umum parpol termuda di Pemilu 2019. Kemudian, Diaz akan berusia 40 tahun pada 25 September. Sementara itu, Hary Tanoe tahun ini berusia 53 tahun.


Jokowi enggan menyampaikan lebih jauh apa saja poin-poin yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Dia hanya menyampaikan bahwa pembicaraan masih seputar kebangsaan.


"Dari mereka, saya banyak mendengar informasi tentang bangsa dan negara dari sudut pandang politisi muda," lanjut politikus PDIP itu.


Sementara itu, Grace menyampaikan bahwa pembicaran lebih banyak seputar pembangunan dan apa saja yang perlu diperbaiki ke depan. "Kami sempat bicara juga tentang pendamping ideal beliau lima tahun ke depan," terangnya seusai pertemuan.


Sejauh ini, tutur Grace, belum ada nama yang definitif. "Tapi, sudah mengerucut ke beberapa nama," lanjutnya tanpa menyebut lebih jauh soal nama-nama tersebut. Dia berharap Jokowi bisa segera memutuskan siapa yang akan menjadi cawapresnya.


Sementara itu, dari kubu koalisi yang lain, Direktur Pencapresan DPP PKS Suhud Aliyudin menuturkan bahwa partainya masih berupaya untuk mengegolkan kadernya sebagai cawapres pendamping Prabowo.


"Karena ini amanat munas (musyawarah nasional) yang harus kami sampaikan," terangnya saat diskusi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, kemarin.


Sebenarnya PKS sempat memunculkan usulan paket capres-cawapres kepada Prabowo, yakni Anies Baswedan-Ahmad Heryawan. Dalam arti, bila Prabowo memutuskan menjadi king maker. Lagi pula, sampai saat ini pihaknya belum bisa memastikan apakah Prabowo benar-benar akan maju sebagai capres atau tidak.


"Kami dengan Prabowo atau tidak, bergantung situasi yang sedang berjalan. Kalau tidak sejalan, ya kami ambil opsi lain," tambahnya. Misalnya, membentuk poros baru. Atau berharap MK mengabulkan gugatan presidential threshold. Bila gugatan dikabulkan, Suhud memastikan PKS akan mengusung capres dan cawapres sendiri tanpa koalisi.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore