JawaPos Radar | Iklan Jitu

Tim Gabungan Kasus Novel Dinilai Politis, Bamsoet Buka Suara

14 Januari 2019, 13:38:33 WIB
Bambang Soesatyo
Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mendukung Polri membentuk tim gabungan guna mengungkap fakta kasus Novel Baswedan. (Ramli/JawaPos)
Share this

JawaPos.com -  Keputusan Kepolisian Republik Indonesia untuk membentuk tim gabungan untuk mengusut kasus penyidik KPK Novel Baswedan menuai spekulasi politik. Meskipun tujuannya untuk mengungkap dalang kasus tersebut.

Menanggapi spekulasi itu, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Bambang Soesatyo alias Bamsoet mengaku tak setuju dengan anggapan bahwa dibentuknya tim yang diketuai oleh Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Aziz bermuatan politis. Dia menilai, pengusutan dalang di balik penyiraman Novel merupakan bentuk jawaban dari aspirasi publik. 

"Repot juga kalau semua upaya yang dilakukan pihak kepolisian atau katakanlah penegakan hukum selalu dikaitkan-kaitkan dengan politik. Ini kan niatnya untuk menjawab pertanyaan dan harapan publik bahwa tidak boleh ada kasus apa pun yang tidak terungkap," kata Bamsoet di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (14/1).

Politikus Partai Golkar itu pun mengapresiasi langkah kepolisian untuk mengusut kasus penyiraman Novel Baswedan. Menurut dia, lembaga yang dikomandoi Tito Karnavian ini dinilai mampu untuk mengungkap dalang yang menyerang Novel dua tahun silam.

"Yang pasti, tergantung pada bukti-bukti di lapangan dan keterangan para saksi yang didapat oleh kepolisian. Makin banyak data yang didapat dan keterangan saksi yang jelas maka semakin bisa mendorong kasus ini terungkap," tuturnya.

"Tapi kalau bukti-bukti lapangannya minim, kemudian saksi juga tidak memberikan keterangan lengkap, ya pasti akan sulit terungkap," sambungnya.

Diketahui, sebelumnya Kepolisian Republik Indonesia membuat tim gabungan dan penyidikan untuk membongkar kasus penyiraman air keras yang menimpa penyidik KPK Novel Baswedan. Kapolri Jenderal Tito Karnavian pun turut menjadi penanggung jawab atas pembentukannya.

Selain nama Kapolri, di surat tugas Nomor Sgas/3/I/Huk.6.6./2019 tertanggal 8 Januari 2019 itu, ada pula nama Wakapolri Komjen Pol Ari Dono Sukmanto selaku wakil penanggung jawab. Juga Irwasum Komjen Putut Eko Bayuseno, Kabareskrim Komjen Arief Sulistyanto, dan Kadivpropam Irjen Listyo Sigit Prabowo yang bertugas memberikan asistensi.

Adapun tim ini diketuai Kapolda Metro Jaya Irjen Idham Aziz dan wakilnya, Karobinops Bareskrim Polri Brigjen Nico Afinta. Lalu, Brigjen Wahyu Diningrat selaku Kasubdit Analisis dan Evaluasi, Irjen Dedi Mohammad Iqbal sebagai Kasubdit Humas.

Sementara itu, pengacara Novel Baswedan, Alghifari Aqsa angkat bicara terkait pembentukan tim gabungan yang dibentuk Polri. Alghifari juga memandang, jalur yang paling realistis dalam mengusut kasus serangan terhadap Novel yaitu melalui TGPF yang independen. Bukan tim gabungan yang didominasi kepolisian.

"Atau jalur lain, bisa juga penyelidikan obstruction of justice oleh KPK," ucapnya saat dikonfirmasi, Sabtu (12/1).

Dia juga menyebut, adanya tim gabungan yang terdiri atas 65 orang yang didominasi oleh unsur Polri itu tidak bisa dikatakan sebagai mewakili tim yang independen.

"Hal tersebut dapat dilihat dari komposisi tim. Selain mayoritas dari kepolisian, beberapa ahli juga orang yang selama ini disinyalir selalu membela kepolisian sehingga diragukan independensinya," jelasnya.

Editor           : Dimas Ryandi
Reporter      : Igman Ibrahim
Copy Editor : Fersita Felicia Facette

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up