JawaPos Radar | Iklan Jitu

‎Hasto: JK Tidak Melarang Ahok Jadi Timses Jokowi-Ma'ruf

13 Februari 2019, 15:12:06 WIB
JK
Wakil Presiden Jusuf Kalla saat diwawancarai awak media beberapa waktu lalu (Juneka/ Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com - Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto mengakui apa yang disampaikan oleh Ketua Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Jusuf Kalla (JK) tidak melarang mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok) menjadi tim sukses.

Menurut Hasto‎, alasan JK itu karena saat ini Ahok tengah fokus dengan liburan ke luar negeri dan tugas-tugas pribadi. Sehingga bukan bagian dari pelarangan.

"Maksudnya bukan dilarang, tetapi Pak Ahok akan ke luar negeri dua setengah bulan. Kemudian ada agenda pribadinya yang harus dijalankan," ujar Hasto di DPP PDIP Jaldn Diponegoro, Jakarta, Rabu (13/2).

Oleh sebab itu, Hasto menduga Ahok saat ini ingin lebih fokus menghabiskan liburannya di luar negeri dan juga kegiatan-kegiatan pribadinya. Hal itu karena Ahok dua tahun menjalani hukuman penjara di kasus penistaan agama.

"Jadi pemilu kan tinggal 62 hari, dua setengah bulan lagi. Sampai Pemilu Pak Ahok kan ada di luar negeri," pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pengarah TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, JK menyarankan agar Ahok tidak bergabung dalam timses. Karena JK khawatir elektabilitas paslon nomor urut 01 justru akan tergerus.

"Jangan, alasannya bisa berakibat lagi orang mengingat ini Pak Jokowi didukung orang yang penista agama. Kan bahaya itu, bisa mengurangi suara lagi," kata JK.

Bergabungnya mantan gubernur DKI Jakarta tersebut ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dinilai JK juga dapat memengaruhi elektabilitas Jokowi sebagai capres petahana. Di satu sisi, masuknya Ahok sebagai kader PDIP dapat menaikkan keterpilihan pasangan Jokowi-Ma'ruf di kalangan Ahoker atau pendukung loyal Ahok.

Namun, bergabungnya Ahok dengan PDIP juga bisa membawa dampak buruk bagi perolehan suara Jokowi di kalangan masyarakat yang memperhatikan kasus penistaan agama.

"Tentu ada yang nambah, ada yang tergerus. Bagi Ahoker, tentu mungkin menambah tapi bagi yang konsisten dengan apa yang terjadi kepada Ahok, tentu tidak mau milih (Jokowi-Ma'ruf)," ujarnya.

Ia meminta Ahok menikmati masa kebebasannya terlebih dahulu sebelum terjun kembali ke dunia politik. Apalagi, pelaksanaan Pemilu 2019 hanya tinggal dua bulan lagi. Efek Ahok dinilai tidak akan terlalu banyak menambah elektabilitas petahana.

Editor           : Kuswandi
Reporter      : Gunawan Wibisono

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up