JawaPos Radar | Iklan Jitu

Pilpres 2019

Ini 4 Isu Politis yang Paling Menguntungkan Jokowi Versi LSI Denny JA

06 Desember 2018, 16:19:25 WIB | Editor: Dimas Ryandi
Peneliti LSI
Peneliti Senior LSI Rully Akbar saat memaparkan hasil survei dua bulan fase kampanye pilpres 2019. (igman/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Pemilihan presiden telah memasuki bulan kedua masa kampanye. Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA mengungkap sejumlah fakta terkait isu yang dianggap paling disoroti dan populer di tengah masyarakat.

Hasilnya, ada enam isu dan program yang paling populer di masyarakat dalam kurun waktu dua bulan terakhir. Isu itu adalah penyelenggaraan Asian Games, kunjungan Jokowi ke korban gempa dan tsunami Palu, dan kunjungan presiden ke korban Gempa Lombok.

Selanjutnya, isu hoax Ratna Sarumpaet, nilai tukar dolar yang sempat menginjak angka 15 ribu per USD, dan pembakaran bendera tauhid. Semua isu itu diketahui memiliki tingkat keterkenalan di atas 50 persen.

"Isu ini dikenal di atas 50 persen dan disukai atau tidak disukai di atas 60 persen," kata peneliti senior LSI Rully Akbar di Kantor LSI, Jakarta, Kamis (6/12).

Lebih lanjut, Rully juga menyebut, empat dari keenam isu tersebut dianggap memberikan efek positif ke pasangan calon nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin. Sedangkan dua isu sisanya akan memberikan keuntungan elektoral kepada pasangan calon nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Adapun empat isu yang sangat memberikan efek positif bagi paslon petahana adalah penyelenggaraan Asian Games, kunjungan Jokowi ke korban gempa dan tsunami Palu, kunjungan Jokowi ke korban gempa Lombok, dan hoax Ratna Sarumpaet. Sedangkan kubu oposisi hanya untung pada isu nilai tukar dolar 15 ribu dan pembakaran bendera tauhid.

"Jadi, ini isu yang paling mengguncang pada dua bulan masa kampanye pilpres kali ini," pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, LSI melakukan survei untuk mengetahui isu paling populer dengan menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error sebesar +/- 2,9 persen, dilakukan dengan wawancara tatap muka kepada 1.200 responden seluruh Indonesia dalam rentang waktu 10-19 November 2018.

(ce1/aim/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up