
Anies Baswedan menyapa wartawan usai menggelar pertemuan di kantor DPD PDI Perjuangan, Cakung, Jakarta, Sabtu (24/8/2024). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com – Pada Kamis (29/8), sekitar pukul 13.00, rumor itu mulai muncul. Tujuh jam berselang, dari semula bisik-bisik akhirnya mengejawantah menjadi nama pasangan calon (paslon): Anies Baswedan-Ono Surono.
Bendahara Umum DPC PDI Perjuangan (PDIP) Kota Bandung Folmer Siswanto Maruhum Silalahi, seperti dikutip Radar Bandung, bahkan sempat menyebut 95 persen Anies, eks gubernur Jakarta, bakal berduet dengan Ono, ketua DPD PDIP Jawa Barat. Keduanya bakal terjun dalam palagan pemilihan gubernur-wakil gubernur (pilgub) Jabar.
Tapi, waktu jualah yang membantah. Sekira setengah 10 malam, Juru Bicara Anies Baswedan, Sahrin Hamid, mengumumkan salah satu kandidat presiden pada Pemilihan Presiden 2024 tersebut batal maju dalam pilgub Jawa Barat. Batalnya Anies itu pun, mengutip kronologi yang dibagikan akun X Perupa Data, mendorong munculnya paslon baru: Ono Surono-Jeje Wiradinata.
Drama ternyata tidak berhenti di situ. Datanglah Ono ke KPU Jabar di Kota Bandung setengah jam kemudian atau pas tengah malam. Bukan untuk mendaftarkan dirinya, melainkan duet baru lagi yang diusung partai banteng: Jeje Wiradinata-Ronal Surapradja.
Dan puncaknya, kemarin (30/8) sore buntut kegagalan nyagub di Jawa Barat setelah sebelumnya di Jakarta, Anies lewat pernyataan dalam video yang dibagikan kepada publik mengaku tengah menimbang berbagai usulan. Salah satunya bergabung ke partai atau membangun partai baru.
Namun, Anies lebih mengisyaratkan untuk membangun partai baru ketimbang masuk partai yang sudah eksis. ”Kalau masuk partai, pertanyaannya partai mana yang sekarang tidak tersandera oleh kekuasaan?” ujarnya.
Membangun partai, lanjut Anies, atau organisasi masyarakat (ormas) baru menjadi opsi untuk mengumpulkan semangat perubahan yang semakin besar. ”Membangun partai baru mungkin itu jalan yang akan kami tempuh,” ungkapnya.
Mantan menteri pendidikan dan kebudayaan (Mendikbud) di periode pertama Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu mengisyaratkan akan mewujudkan partai baru tersebut dalam waktu dekat. Dengan membentuk partai, Anies berharap bisa mewadahi gerakan perubahan yang menginginkan Indonesia menjadi lebih setara dan demokrasi yang lebih sehat.
Mulyono dan Geng
Menurut Sahrin, keputusan Anies menolak tawaran PDIP untuk dicalonkan di pilgub Jabar disebabkan tidak adanya aspirasi dari masyarakat di provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak tersebut. ”Tidak ada secara khusus permintaan dari warga masyarakat maupun aspirasi dari partai politik di tingkat daerah maupun di tingkat wilayah,” kata Sahrin pada Kamis (29/8) malam.
Sementara di pilkada Jakarta, Anies mendapat dukungan dari beberapa DPW parpol. Yakni, PKB, Nasdem, dan PKS meskipun akhirnya pimpinan pusat partai-partai tersebut memilih bergabung dalam Koalisi Indonesia Maju Plus yang mengusung duet Ridwan Kamil-Suswono.
Adalah Ono Surono yang kali pertama memunculkan isu bahwa batalnya Anies maju di pilgub Jabar karena kuatnya tekanan kekuasaan. Ono secara satire mengungkap adanya campur tangan ’’Mulyono dan Geng”.
”Kita menghadapi tantangan besar dari pihak yang tidak setuju Pak Anies diusung oleh PDI Perjuangan,’’ jelasnya.
Ono memang tidak mengungkap secara jelas siapa ”Mulyono dan Geng” yang dia maksud. Namun, jika dikaitkan dengan istilah yang belakangan ramai dipakai warganet di media sosial, sebutan ”Mulyono” itu mengarah pada Jokowi.
Di pilgub Jakarta, berubahnya haluan PDIP dari Anies Baswedan ke Pramono Anung juga ramai dikaitkan dengan tekanan istana. Meskipun, baik istana maupun PDIP membantah tudingan tersebut.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
