← Beranda

 Kids Biennale Indonesia: Merayakan Kreativitas dan Ekspresi Generasi Muda

Dimas ChoirulSenin, 22 Juli 2024 | 15.10 WIB
Photo

 

JawaPos.com - Yayasan Kids Biennale Indonesia kembali menggelar pameran mengangkat “Speak Up On Bullying and Intolerance” tahun ini. Tahun lalu, yayasan ini juga menggelar pameran “Speak Up” yang mengangkat isu kekerasan seksual terhadap anak.

Latar belakang pendirian Yayasan Kids Biennale Indonesia (KBI) adalah berfokus pada kegiatan pameran seni dan budaya baik kecil maupun besar khusus anak-anak dan remaja.

Kids Biennale Indonesia merupakan pameran dengan partisipasi praktik seni modern serta aktivitas publik intelektual dan budaya dalam menanggapi isu-isu relevan dan menjadi platform anak-anak dan remaja untuk meningkatkan apresiasi seni dan budaya, merangsang kreativitas, sertapengembangan emosional dan sosial.

Dengan visi menjadi platform global bagi kreativitas dan ekspresi anak dan remaja Indonesia, sehingga membentuk generasi muda yang kritis, peduli, dan berdaya.

Gie Sanjaya Ketua Yayasan Kids Biennale dan Kurator menyatakan “Seni adalah jendela bagi anak-anak untuk melihat dunia dengan cara yang baru dan berbeda. Melalui seni, mereka belajar menghargai keindahan, memahami emosi,mengembangkan empati, dan menjadi agen perubahan. Seni adalah investasi untuk masa depan Indonesia yang lebih kreatif, inklusif, dan berbudaya”.

Cornelia Agatha, S.H., M.H., Ketua Komnas Perlindungan Anak DKI Jakarta menyatakan “Saya percaya bahwa seni dan kasih sayang mempunyai kekuatan yang besar untuk perubahan. Oleh karena itu saya berharap Kids Biennale Indonesia dapat menjadi platform untuk perubahan bersama. Menjadi wadah bagi anak-anak dan remaja untuk menemukan suara mereka, mengekspresikan diri dengan bebas, dan tumbuh menjadi individu yang kreatif, percaya diri, dan berempati penuh cinta kasih.

Tiga permasalahan yang diidentifikasi dalam konteks pendidikan, yakni kekerasan seksual, perundungan,dan intoleransi, memiliki dampak yang sangat merugikan bagi lingkungan sekolah serta peserta didiknya.

Berdasarkan data yang Kemendibudristek menemukan 24,4 persen siswa atau peserta didik yang berpotensi mengalami insiden perundungan di satuan pendidikan atau sekolah.

"Tahun ini kami mengajak anak dan remaja berkebutuhan khusus, neurodivergent dan difabel untuk berpartisipasi dalam advokasi, mengkritisi, dan menjadi agen perubahan melalui karya lukis, video, dan game. Sebagian dari peserta (pameris) merupakan penyintas perundungan (bullying) dan intolerance," pungkas Gie Sanjaya .


EDITOR: Mohamad Nur Asikin