JawaPos.com - Orang tua (ortu) siswa yang diduga menggunakan piagam palsu marching band untuk pendaftaran PPDB (penerimaan peserta didik baru) di SMA/SMK negeri di Semarang menggeruduk kantor gubernur Jawa Tengah (Jateng) kemarin (11/7). Mereka menyampaikan beberapa aspirasi terkait keputusan Pj Gubernur Jateng Nana Sudjana yang menganulir nilai piagam tersebut karena diragukan keabsahannya.
Piagam yang diduga palsu itu merupakan piagam kejuaraan marching band di Malaysia yang diikuti tim dari SMPN 1 Semarang. Piagam yang dipakai mendaftar tertulis sebagai juara pertama dalam kejuaraan itu. Padahal, tim tersebut mendapatkan juara ketiga.
Piagam palsu itu digunakan untuk mendaftar ke beberapa SMA negeri di Kota Semarang. Di antaranya SMAN 1 Semarang, SMAN 3 Semarang, SMAN 5 Semarang, serta SMAN 6 Semarang.
S kini jadi orang yang paling dicari dalam kaitan dengan kasus piagam atau sertifikat palsu marching band. Polisi sudah sekali memanggil, tapi pelatih marching band SMPN 1 Semarang itu mangkir. Pemanggilan kedua segera dikirim.
Sedangkan Tim Aparat Pengawas Internal Pemerintah (APIP) Jawa Tengah (Jateng), seperti dilansir Jawa Pos Radar Semarang, juga sudah tiga kali mengundang yang bersangkutan. ’’Namun, panggilan kami tak diindahkan,” kata Ketua APIP Jateng Dhoni Widiyanto.
Bahkan, APIP Jateng sampai mendatangi rumah orang tua S di Kendal. ’’Tapi, setelah kejadian itu viral, (dia) sudah tidak di rumah atau di kos,’’ ungkapnya.
Rabu (10/7) lalu Polrestabes Semarang meminta keterangan dari kepala SMPN 1 Semarang, kepala SMAN 3 Semarang, dinas pendidikan, dinas kepemudaan dan olahraga, serta Persatuan Drum Band Indonesia.
Kasatreskrim Polrestabes Semarang Andika Dharma Sena mengatakan, pihaknya belum bisa memastikan siapa yang membuat atau mencetak piagam palsu tersebut. Sebab, saat ini masih dalam penyelidikan dan pemanggilan saksi-saksi.
’’Ya kita lihat nanti, apakah pelatih ini melakukan sendiri atau dibantu yang lain,’’ ucapnya.
Polrestabes Semarang telah menyita piagam yang diduga palsu maupun yang asli. ’’Dalam sertifikat asli itu ada beberapa sponsor yang ditampilkan. Panitia yang bertanda tangan di sertifikat itu ada tiga. Namun, di sana tidak mencantumkan nama atau identitas peserta perorangan, melainkan tim,” terangnya. (mha/ifa/bas/c17/ttg)