JawaPos.com - Beasiswa untuk kuliah di luar negeri bisa ditempuh dengan berbagai cara. Saat ini, banyak lembaga, pemerintah, dan
universitas yang menyediakan fasilitas perkuliahan gratis.
Umumnya, jarak pendaftaran hingga seseorang bisa diterima beasiswa memakan waktu sekitar enam bulan sampai satu tahun. Masing-masing
lembaga ataupun negara menerapkan peraturan yang berbeda.
Syarat yang harus diperhatikan pelamar beasiswa, antara lain memiliki kemampuan bahasa asing, diutamakan Bahasa Inggris. Calon
penerima beasiswa harus melampirkan sertifikat The International English Language Testing System (IELTS) dengan nilai minimal 6-7.
Secretary-General Indonesian Scholarship Network (ISN) Agung Adhityawarman mengatakan, persyaratan tersebut biasanya dibutuhkan
beberapa negara di Eropa dan Amerika. Begitu juga dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Selain nilai IELTS, calon mahasiswa harus membuat essay berbentuk motivation letter. Syarat tersebut merupakan kunci untuk mendapatkan
beasiswa LPDP.
“LPDP itu kalau mau lolos beasiswa pemerintah, kita sudah harus dapat universitasnya dulu. Sudah lengkap syarat-syarat kebutuhan
daftar perguruan tinggi, kunci terakhir motivation letter. Isinya kenapa kita mau di sana (universitas di negara yang dipilih), apa
motivasi untuk bangsa. Dari situ jadi alat ukur kita diterima LPDP,” ujar Adhit saat dihubungi JawaPos.com, Minggu (6/1).
Berbeda dengan kebanyakan negara Amerika dan Eropa, para pendaftar di universitas Australia mendapat lebih banyak kemudahan. Pasalnya,
pemerintah Australia bersedia untuk memberikan kursus secara cuma-cuma bagi calon mahasiswa dengan nilai IELTS yang belum mencukupi.
“Jadi walaupun misalnya nilai IELTS-nya belum bagus, terus belum daftar kampusnya, masih proses, (tetapi) lolos administrasi
persyaratan karakter penerima beasiswa dulu, baru diproses lah itu nila IELTS, dikasih kesempatan,” tuturnya.
Di Indonesia, Kementerian Agama (Kemenag) juga sudah menerapkan hal yang sama seperti pemerintah Australia. Kemenag memberikan
beasiswa ke luar negeri tanpa menjadikan kemampuan bahasa asing atau IELTS menjadi syarat utama.
“Kemenag juga sudah melakukan itu sekarang ini. Jadi tes dulu, tesnya diwawancara, motivation letter-nya dia bagus, barulah dilatih
bahasa Inggrisnya. Biasanya alat ukurnya tetap nilai IELTS harus ada, misalkan nilainya 4-5 itu masih bisa diterima. Nanti dia bantuin
(kursus) sampai nilainya 6-7,” terang dia.
Adapun calon mahasiswa luar negeri akan bisa langsung berangkat ke negara tujuannya masing-masing setelah proses tersebut berjalan
dengan baik. Khususnya, jika sudah memegang surat tanda diterima oleh kampus yang dituju atau Letter of Acceptance (LoA).
“Kalau sudah masuk proses pendaftaran, dokumen-dokumen lengkap, sudah tinggal berangkat. Kan dalam proses itu dia sudah ngurusin visa,
ngurusin paspor, LoA, tiket. Biasanya dalam periode sebulan itu sudah pasti berangkat,” pungkasnya.