JawaPos.com – Tidaklah mudah membuat murid tertarik dengan pelajaran matematika. Akhirnya, banyak yang memperoleh nilai jelek. Anton memiliki metode jitu untuk mengatasi masalah tersebut.
Awalnya, Anton melihat ada komunikasi yang putus antara guru dan murid. Murid biasanya enggan bertanya kepada guru tentang soal matematika. Dia membuat terobosan yang dinamai Tutor Sebaya. Inilah metode pembelajaran yang melibatkan teman sebaya. Sebab, menurut Anton, murid akan lebih terbuka jika berkomunikasi dengan temannya. ”Kalau dengan teman bisa lebih memahami,” imbuhnya.
Anton mengaku sudah sekitar delapan tahun menerapkan metode tersebut. Mulanya, dia menunjuk beberapa murid dengan kemampuan matematika di atas rata-rata. Kemudian, Anton akan membimbing murid-murid itu secara terpisah. Setelah itu, mereka ditugaskan untuk membimbing teman-temannya. Terutama yang memiliki nilai di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM). Ketika para tutor tersebut menemui kesulitan, Anton segera turun tangan membantu.
Terobosan itu berbuah hasil memuaskan. Nilai ujian murid-murid yang awalnya di bawah KKM perlahan meningkat. Hal itu lantas membuat Anton terus menerapkan metode tersebut. ”Saya harap Tutor Sebaya ini dikembangkan dan disempurnakan,” ujar Anton. Hal itu, lanjut dia, bisa melalui metode pembelajaran yang lebih menyenangkan. Misalnya dengan diikuti praktik langsung tentang matematika dalam keseharian.
Anton menambahkan, terkadang anak merasa belum mengetahui manfaat matematika. Tak heran, dia gencar mengenalkan matematika lewat realita sosial. Anton mencontohkan membawa beberapa rumus untuk menyelesaikan permasalahan sosial. Melalui logika matematika salah satunya. Menurut Anton, materi tersebut bisa digunakan untuk dasar pengambilan keputusan. ”Mereka harus diajari manfaatnya dulu, baru diajak kenal, dan kemudian bisa sayang,” tegasnya. (kik/lif/c17/nda)