← Beranda

Pengembangan Imunostimulan Udang dari FPK Unair (1)

Suryo Eko PrasetyoMinggu, 9 Juli 2017 | 15.59 WIB
TINGGAL TETES: Gunanti Mahasri, dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Unair, membuat terobosan meningkatkan kekebalan udang.

Bukan hanya bayi yang perlu diimunisasi. Benih udang juga demikian. Untuk menambah ketahanan tubuh udang, bahan imunostimulan terus dikembangkan.



GUNANTI Mahasri, dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, peduli pada kesehatan udang. Bermodal pengamatan terhadap udang yang sakit, Gunanti mengembangkan obat penawarnya. Bahannya parasit.


Parasit yang dipakai sebagai obat juga merupakan parasit yang berdampak pada kematian benih udang. Salah satunya bernama Zoothamnium penaei. Parasit atau makhluk yang menumpang hidup di udang itu rupanya memicu penyakit zoothamniosis.


Memang, menurut Gunanti, udang tidak punya sistem imun. Dalam tubuh udang, hanya ada sel darah untuk melawan penyakit. Namun, di tengah kualitas lingkungan yang kian turun, sel darah itu saja tidak cukup. Udang semakin rentan dan tidak bisa melawan berbagai serangan parasit dari lingkungan tersebut.


Parasit itu lebih sering menyerang saat usia kritis udang. Yakni, rentang dua minggu setelah pelepasan ke tambak. Biasanya parasit tersebut ditandai dengan beragam ciri khas fisik. Di antaranya, ada benda asing putih kekuningan yang menempel di bagian tubuh udang.


Meski demikian, penyakit tersebut tidak serta-merta menyebar. Penyebaran berlangsung bertahap. Biasanya, kata Gunanti, berawal di bagian kaki. ”Petani biasa bilang kalau udangnya bersepatu,” ujarnya. Lalu, setelah menyebar ke badan, muncul lagi istilah udang berjaket. Jika kondisi semakin buruk, parasit bisa memenuhi bagian kepala. ”Seolah jaket si udang ada hoodie-nya dan mulai dipakai,” beber peraih gelar doktor dari Unair tersebut.


Keberadaan parasit itu berdampak pada kematian udang. Jika dibiarkan, jumlah udang yang bertahan di tambak akan terus terkikis. Keprihatinan itu mendorong Gunanti mengembangkan bahan imunostimulan untuk melawan penyakit tersebut. Apalagi, posisi Indonesia sebagai penghasil udang windu diperhitungkan di dunia.


Sebagai bahan kekebalan tubuh, obat untuk udang itu justru berasal dari penyebabnya. Gunanti mengambil bagian protein membran dari parasit. Setelah melakukan penelitian, dia menemukan bagian protein membran yang paling pas sebagai pertahanan tubuh udang. Khususnya dengan massa molekul 1.000 dalton. Dari sana, imunostimulan dengan teknologi molekuler itu dikembangkan Gunanti hingga sekarang.


Karena menggunakan teknologi molekuler, bahan tersebut bisa digunakan dalam jumlah besar. Ketika diberikan pada udang, imunostimulan akan mengaktifkan daya tahan udang terhadap serangan parasit. Gunanti menyebutkan, cara kerjanya tak jauh berbeda dengan imunisasi pada manusia. Ketika diberi penyebab penyakit yang dijinakkan, tubuh akan memberikan pertahanan terhadap penyakit tersebut. ”Bayi udang juga perlu ini,” imbuhnya.


Jika serangan parasit sudah terhalau, virus dan bakteri akan semakin jarang menyerang udang. Bahan itu sudah diterapkan di tambak Gresik dan Sidoarjo. Ke depan, Gunanti ingin memproduksinya dalam jumlah besar. ”Petani perlu mengaplikasikan ini pada tambaknya agar udangnya bisa lebih sehat,” ujarnya. (kik/cy/nda)

EDITOR: Suryo Eko Prasetyo