Himbauan Mendikbud untuk Orangtua dan Bunda PAUD

30/08/2017, 15:56 WIB | Editor: Mochamad Nur
Mendikbud Muhadjir di kegiatan kerjasama peningkatan kualitas PAUD di Kemendikbud (30/8) (Hilmi Setiawan/JawaPos)
Share this

JawaPos.com - Pemerintah sedang menggalakkan peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini (PAUD). Diantaranya adalah meningkatkan standar PAUD menjadi berstandar internasional. Untuk mewujudkannya Kemendikbud bekerjasama dengan Unicef dan IKEA Foundation.

Sebagai permulaan, program peningkatan kualitas itu dijalankan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dalam sambutannya, Mendikbud Muhadjir Effendy berpesan supaya pembelajaran di PAUD memperkuat karakter kebhinekaan. "Supaya anak-anak sejak dini menghargai perbedaan. Melihat keragaman sebagai keindahan," jelasnya di Jakarta (30/8).

Menurut Muhadjir ada banyak cara dilakukan untuk melatih rasa kebhinekaan ke anak-anak. Diantaranya adalah anak-anak yang masih di PAUD tidak perlu diwajibkan menggunakan seragam. Sekolah PAUD tanpa seragam juga memudahkan orangtua.

Mendikbud Muhadjir (Hilmi Setiawan/JawaPos)

Kemudian mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu menyampaikan supaya orangtua maupun bunda PAUD untuk memberikan kebebasan anak-anak sesuai kodrat mereka. "Kalaupun ada yang nakal, jangan dikira itu sebuah defisit perilaku," jelasnya. Tetapi dijadikan sebagai energi bagi anak-anak untuk pengembangan diri.

Muhadjir juga menyinggung soal orang tua yang cemas saat anaknya belum bisa membaca atau tidak terlalu menguasai matematika. Menurut Muhadjir tidak semua anak terlahir berbakat dan menguasai matematika.

Dia mencontohkan anak yang berbakat menciptakan lagu, tidak perlu kemampuan matematika tinggi-tinggi. Muhadjir mengaku prihatin atas kasus anak sekolah bunuh diri. Gara-gara dicemooh orang tuanya. "Lantaran tidak berhasil di mata pelajaran tertentu. Jangan memvonis anak kita gagal," tandasnya.

Muhadjir mengatakan banyak orangtua yang terperangkap cara pandang tradisional. Yakni cara pandang yang mengharapkan anaknya bisa menyelesaikan masalah orangtuanya. Padahal anak-anak itu akan hidup di zamannya kelak. "Mereka tidak hidup di zaman orangtuanya," jelasnya. (wan/JPC)

(wan/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi