alexametrics
Sumpah Pemuda 2018

Sastra Religi di Tangan Hanum & Feby: Out of The Box vs Antimainstream

28 Oktober 2018, 06:30:51 WIB

Aktivis asal India Kailash Satyarthi pernah menulis bahwa tidak ada ruas dalam masyarakat yang bisa menyaingi kekuatan, antusiasme, dan keteguhan hati para pemuda. Satyarthi benar. Karena itulah semangat Sumpah Pemuda seharusnya terus mengilhami Indonesia.

Pads edisi khusus Sumpah Pemuda 2018 hari ini, Jawa Pos mengangkat beberapa cerita tentang para pemuda yang berada dalam gelanggang yang sama, tetapi kebetulan memiliki pandangan, sisi, dan keberpihakan yang berbeda. Walau begitu, mereka sepakat bahwa bangsa InI adalah yang utama. Para pemuda ini mungkin bisa menjadi inspirasi. Bahwa kita bisa saja berbeda, tetapi tetap satu jua. Indonesia! Artikel kedua, dari Hanum Rais dan Feby Indriani.

Sastra Religi di Tangan Hanum & Feby: Out of The Box vs Antimainstream
Tahun depan, Hanum Rais akan menerbitkan lagi novel bertema religi dan traveling. Soal penaklukkan andalusia (GUSLAN GUMILANG/JAWA POS)

Hanum Rais dan Feby Indirani sama-sama menulis dengan menggunakan pendekatan agama. Namun, dengan gaya yang sangat berbeda. Nyaris bertolak belakang. Bagaimana mereka mengapresiasi satu sama lain?

HANUM Salsabila Rais ingat betul proses kreatif yang dilalui ketika menulis novel pertamanya, 99 Cahaya di Langit Eropa, lebih dari tujuh tahun silam. Sempat terjadi diskusi panjang dengan sang suami, Rangga Almahendra. Soal tema tulisan.

’’Ketika itu sedang booming tulisan tentang traveling. Juga, novel roman religi. Tapi, kami ingin yang berbeda,’’ kenang Hanum ketika ditemui di Kaktus Coffee, Jogjakarta, Senin (22/10). Hanum dan Rangga lalu memutuskan membuat novel yang menurut mereka berbeda dengan yang sudah ada. Out of the box. ’’Kami memilih tema traveling. Tapi, yang berkaitan dengan peradaban Islam,’’ jelas dia.

Novel tersebut kemudian menjadi best seller. Bagi Hanum, menulis novel itu mudah. Risetnya yang rumit. Dan, memang di situlah tantangannya. Setelah 99 Cahaya di Langit Eropa, lalu beruntun dia menerbitkan buku-buku lain. Di antaranya, Berjalan di Atas Cahaya (2013), Bulan Terbelah di Langit Amerika (2015), hingga Faith and the City (2016).  
 Menurut Hanum, selama ini belum banyak penulis muda Indonesia yang berani berbeda atau keluar dari tren. ’’Misalnya, lagi tren komedi, semuanya menulis komedi,’’ ungkap anak kedua mantan Ketua MPR Amien Rais itu.

Nah, salah seorang yang berani menulis di luar tren itu adalah Feby Indirani. Meski sama-sama berlatar religi, Feby menulis dengan gaya yang jenaka. Nakal. Satire. Dia menawarkan perspektif yang berbeda tentang bagaimana relasi antaragama dan antarmanusia dibangun. Judul-judulnya menggelitik. Misalnya, cerpen Baby Ingin Masuk Islam. Atau, kumpulan cerita bertajuk Bukan Perawan Maria.

Hanum, meski tidak mengenal Feby secara personal, memuji keberanian penulis kelahiran Jakarta itu bergerak di jalur anti-mainstream. Menurut dia, buku-buku seperti itu high risk high return. ’’Yang seperti itu bisa membuat orang tidak suka sekali atau malah senang sekali,’’ kata Hanum. Hal tersebut diakui juga oleh Feby.

Dia mendapat banyak cercaan, terutama di media sosial, ketika kumpulan cerpennya itu dirilis tahun lalu. Namun, perempuan yang kini menempuh program master di Digital Media, Cultural, and Education University College London (UCL) tersebut bergeming. ’’Saya masih meyakini sastra adalah medium yang efektif untuk menumbuhkan empati. Sastra bisa mengungkapkan kebenaran yang mungkin sulit diterima sebagai fakta,’’ tulis Feby dalam surelnya kepada Jawa Pos.

Sayangnya, karya bertema Islam sejauh ini di Indonesia, menurut Feby, masih ’’seragam’’. Kebanyakan hanya menunjukkan satu sudut pandang Islam dengan mempromosikan pemikiran, gaya hidup, dan cara bertutur yang homogen. Karena itu, karya Hanum, menurut dia, cukup menyegarkan. Feby bilang, buku-buku Hanum membuka wawasan soal warisan budaya Islam yang sangat penting buat peradaban dunia. ’’Karya Hanum melihat bagaimana seorang muslim wajib meluaskan wawasan dan menuntut ilmu setinggi-tingginya. Meski berada di negara yang bukan mayoritas muslim,’’ tutur penulis yang sudah menghasilkan 17 karya fiksi dan nonfiksi tersebut.  

 

Sastra Religi di Tangan Hanum & Feby: Out of The Box vs Antimainstream
Di waktu senggang, Feby suka nonton film, jalan-jalan, baca buku, serta ngobrol dengan orang yang menarik (FEBY INDRIANI for Jawa Pos)

Jadi Inspirasi buat Seniman Lain 

Karya Hanum Rais maupun Feby Indirani sama-sama menjadi inspirasi bagi seniman lain. Buku perdana Hanum, 99 Cahaya di Langit Eropa, diangkat ke layar lebar dengan judul sama. Dibintangi Acha Septriasa dan Abimana Aryasatya. Dirilis pada 2013, dua tahun setelah novelnya meledak. Tahun berikutnya, muncul pula sekuelnya.

Seperti bukunya, bagian pertama film itu mendapat sambutan meriah dari moviegoers tanah air. Ditonton hampir 900 ribu orang dan menjadi film Indonesia kedua terlaris sepanjang 2013. Soundtrack-nya yang dibawakan Fatin Shidqia juga begitu digemari.

Di sisi lain, Feby membarengkan peluncuran kumpulan cerpen Bukan Perawan Maria (BPM) pada 15–25 Juli 2017 dengan pameran seni. Ada tujuh seniman yang menggelar karyanya atas tafsir 19 cerpen BPM di Galeri Cipta III Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tapi, hanya dua seniman yang namanya dicantumkan. Yakni, Damar Sasongko dan Diela Maharanie.

’’Lima lainnya atas nama hamba Allah,’’ tambah alumnus Universitas Padjadjaran, Bandung, itu, kemudian tertawa. Feby punya alasan mengapa ada identitas perupa yang tidak dicantumkan nama aslinya. Tahun lalu, relasi antaragama di Jakarta mencapai titik didihnya. Hal itu terlihat dalam kasus tuduhan penistaan agama oleh mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Tafsir para seniman atas kumpulan karya Feby sangat beragam. Misalnya, cerpen Baby Ingin Masuk Islam. Ada seorang ilustrator yang menerjemahkan cerita tersebut menjadi 15 panel komik. Sementara itu, Rencana Pembunuhan sang Muazin diwujudkan dengan puluhan daun telinga (mungkin dari karet) yang terserak di depan corong pengeras suara.

Feby yang lahir dan tumbuh dalam tradisi Islam itu melihat dalam dua tahun belakangan ini relasi umat beragama di Indonesia semakin tegang. Bahkan, sikap toleransi antarumat makin terkikis. 

’’Sebagai bentuk tanggung jawab sosial, aku mengangkat lebih banyak seputar kehidupan Islam di Indonesia. Yang kalau kita mau jujur, tidak selalu positif dan adil terhadap minoritas,’’ ungkap Feby.

Lewat karya-karyanya, dia berharap ketegangan tersebut mencair. Karena itu, berbarengan dengan rilis kumpulan cerpen BPM, dia juga menggairahkan Gerakan Relaksasi Beragama. Dibantu Hikmat Darmawan dari Pabrikultur dan psikolog Ferlita Sari. Gerakan tersebut punya tiga elemen. Yakni, sastra, seni, dan pelatihan.

Gerakan Relaksasi Beragama itu dilakukan di berbagai kota di Indonesia. Di antaranya, Jakarta, Bandung, dan Lombok. ’’Gerakan itu menekankan bahwa agama hanyalah jalan. Bukan tujuan. Hakikat manusia adalah kesamaan dan mengutamakan welas asih daripada menjadi benar,’’ jelas Feby.

Untuk keterampilan relaksasi beragama itu, mereka yang terjun akan dilatih menemukan kesamaan, menunda respons, melihat sisi humor, berargumen dengan welas asih, dan menciptakan percakapan baru.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : (dra/c7/na)

Sastra Religi di Tangan Hanum & Feby: Out of The Box vs Antimainstream