JawaPos Radar

Goldarhes Pengecek Rhesus

28/04/2017, 23:51 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
Goldarhes Pengecek Rhesus
(Puji Tyasari/Jawa Pos/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com – Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMS) membuat terobosan di dunia medis. Mereka menciptakan alat pengecek golongan darah rhesus. Alat itu diberi nama Goldarhes.

Goldarhes Pengecek Rhesus
PRAKTIS: Para mahasiswa UMS melayani warga kampus untuk mengecek golongan darah rhesus dengan menggunakan Goldarhes. (Puji Tyasari/Jawa Pos/JawaPos.com)

Mahasiswa yang terdiri atas lima orang tersebut adalah Aisyah Faadhilah, Lina Nur H.R., Satria Manggala, Thoriq Satria Dinata, dan Angga Dimas. Aisyah menjelaskan, alat untuk mengecek golongan darah sudah banyak. Namun, belum ada alat pengecek rhesus yang otomatis. ”Saya juga survei, termasuk ke PMI, cek rhesus masih manual, pakai kertas yang ditetesi darah,” katanya.

Nah, Goldarhes hadir untuk mengisi kekosongan tersebut. Selain itu, masih banyak kelalaian petugas medis ketika mengecek golongan darah. Kelalaian itu berbahaya ketika transfusi darah dilakukan. ”Kalau salah darah atau tidak sesuai, akibatnya bisa fatal,” tuturnya. Nah, inovasi itu diharapkan bisa meminimalkan kesalahan manusia.

Goldarhes merupakan alat yang berbentuk kotak dan terdiri atas tiga ruang. Pertama, ruang processing unit yang merupakan otak alat. Kedua, tempat meletakkan sampel darah dan penetesan reagen. Ketiga, tempat LCD dan kabel. Alatnya dibuat minimalis agar lebih ergonomis. ”Bisa dipakai di PMI ataupun rumah tangga dan klinik,” ujarnya.

Cara pakainya, mula-mula sampel darah diteteskan pada empat titik. Selanjutnya, masing-masing sampel ditetesi satu reagen yang berbeda-beda, lalu diaduk. Aisyah mengatakan, ada empat jenis reagen yang digunakan. Yakni, reagen anti-A, reagen anti-B, reagen anti-AB, dan reagen anti-D. Kemudian, dicek terjadi penggumpalan atau tidak.

Mahasiswa semester II itu menyebutkan, jenis darah bisa diketahui dari hasil penggumpalan reagen anti-A, anti-B, dan anti-AB. Selain itu, dilihat dari intensitas cahaya yang dibutuhkan. ”Yang anti-D buat rhesus, kalau terjadi penggumpalan, berarti rhesusnya positif,” jelasnya.

Karya itu berhasil menjadi jawara dalam produk inovasi mahasiswa di UMS. Ada beasiswa pendidikan dan kesempatan untuk mematenkan produk tersebut. ”Sekarang lagi proses mematenkan,” katanya.

Aisyah menambahkan, Goldarhes merupakan produk yang tercipta dari hasil kombinasi berbagai disiplin ilmu. Selain ilmu kedokteran, ada ilmu biologi dan teknik informatika. Ilmu biologi dan teknik informatika itu dipelajari Aisyah sebelum kuliah di jurusan kedokteran. Rekannya yang lain juga pernah studi teknik kimia. ”Jadi, dipadukan,” ujarnya. Yng tidak kalah menarik, Goldarhes juga dirancang dengan berbasis Android. (puj/c7/nda/sep/JPG)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up