JawaPos Radar

Hari Guru Nasional 2017

Catatan Anak Pengajar: Refleksi Hari Guru dan Apa Kontribusi Kita?

25/11/2017, 21:46 WIB | Editor: Dhimas Ginanjar
guru honorer, pns, nasib guru honorer
Seorang guru dan dan beberapa murid saat kegiatan belajar mengajar di Jakarta (Andrean Kristanto/Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com - Terlahir sebagai anak Pak Guru tak semata-mata menjadikan saya orang yang pandai dalam segala hal. Bukan karena Ayah saya tidak bisa mendidik. Tapi, karena perekonomian seorang Guru pada 90-an membuat saya harus berkembang ditengah keterbatasan.

 

Sampai-sampai ada lirik lagu dari Iwan Fals yang selalu saya ingat. Judulnya Oemar Bakrie dan yang berbunyi seperti ini: Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri.

 

Semua lirik dalam lagu tersebut saya rasa benar adanya. Saya menjadi saksi sendiri bagaimana Ayah saya jerih payah mengayuh sepeda bututnya (tertulis sepeda ontel dalam lirik lagu). Sepeda itu pula yang digunakan Ayah untuk antar jemput saya sewaktu SD dahulu. Tentunya, ketika beliau mempunyai waktu luang.

 

Kesejahteraan guru pada saat itu memanglah tidak menjanjikan seperti Oemar Bakri masa kini. Khususnya yang berada di Jakarta. Dengan berbagai tunjangan yang ada, seorang guru saat ini mendapatkan hidup yang lebih layak. Walaupun, masih dibilang ala kadarnya.

 

Akan tetapi, peningkatan kesejahteraan tersebut hanya berlaku bagi guru PNS saja. Kesejahteraan guru yang masih berstatus honorer masih memperihatinkan. Padahal, di sisi lain, Indonesia membutuhkan banyak guru. Terutama, untuk Sekolah Dasar.

 

Menurut Direktur Pembinaan Guru Pendidikan Menengah, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Sri Renani, Indonesia masih membutuhkan sekitar 988.133 guru. Jumlah kekurangan guru terbanyak terjadi pada guru SD, sekitar 460.542 Guru. Dari berita di media, faktor utama permasalahan adalah soal kesejahteraan.

 

Menurut OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), gaji guru di Indonesia berada di peringkat 30 dari 30 negara yang disurvei beberapa tahun lalu. Dengan gaji rata-rata USD 2.830 per tahun, guru di Indonesia belum bisa hidup dan memenuhi keburuhan primernya dengan layak. Oleh sebab itu, masih banyak guru yang tidak dapat mengembangkan potensinya dalam kegiatan belajar mengajar.

 

Makna Guru

Saya rasa, tidak ada lagi keraguan tentang pentingnya seorang guru dalam kehidupan. Baik dalam pendidikan, maupun menjalani kehidupan. Guru dalam bahasa Jawa bisa difilosifikan sebagai seorang yang bisa digugu dan ditiru. Makusdnya, bisa dipercaya, dianut dan diteladani.

 

Dari pengertian ini, kita mempercayai bahwa makna guru sangatlah penting. Itulah kenapa, menjadi penting soal peningkatan kualitas guru agar dapat dipercaya, dianut, dan diteladani oleh para murid.

 

Selain itu, makna guru seperti yang dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara ialah Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Artinya, di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan. Makin tidak terelakkan betapa pentingnya peran guru.

 

Guru Zaman Now?

Tantangan guru zaman now, atau guru masa kini rupanya semakin berat. Perkembangan teknologi yang pesat dan cepatnya arus globalisasi membuat guru dituntut untuk lebih kreatif, inovatif, and inspiratif dalam mendesain kegiatan belajar mengajar.

 

Tantangan tersebut didukung oleh UU 14/2005. Bunyinya, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

 

Jelas bahwa guru masa kini memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Tidak hanya terbatas kepada kegiatan belajar mebgajar di kelas, tetapi juga termasuk pelatihan, penilaian dan evaluasi peserta didik.

 

Oleh karena itu, dibutuhkan effort yang besar dari seorang guru, khususnya mempersiapkan generasi penerus bangsa. Apalagi, Indonesia akan menghadapi bonus demografi pada 2030-2045 nanti.

 

Target Indonesia Emas 2045 juga menjdi tantangan guru masa kini untuk mempersiapkan generasi yang akan datang. Supaya siap menyongsong 100 tahun Indonesia merdeka. Menuju generasi emas tahun 2045 dengan Sumber Daya Manusia yang unggul baik secara karakter maupun secara keilmuan.

 

Kontribusi Untuk Guru

Seperti yang pernah saya sampaikan pada artikel di website PPI (http://ppidunia.org/hari-guru-sedunia-refleksi-pendidikan-indonesia-dan-kesukarelawanan/), peran masyarakat dibutuhkan untuk memecahkan masalah pendidikan Indonesia. Begitu juga dengan permasalahan guru.

 

Pendidikan memang bukanlah persoalan yang dapat diselesaikan dengan satu atau dua gerakan. Pendidikan berkaitan dengan bagaimana upaya supaya hasil dan peserta didik dapat berkembang, dan bermanfaat dalam jangka waktu yang panjang.

 

Jika kita bisa membantu (baik sedikit ataupun banyak) untuk perkembangan guru Indonesia yang ada pada saat ini, maka percayalah, dampak tersebut bisa dirasakan hasilnya sekitar 20 - 30 tahun mendatang. Tepatnya pada 2045.

 

Saya mengajak semua kalangan, komunitas, dan masyarakat Indonesia di manapun berada untuk berkontribusi ke dalam program yang diinisiasi oleh komisi Pendidikan PPI Dunia. Yakni, lewat program Ruang Berbagi Ilmu Mandiri PPI Dunia 2018. 

 

Info lebih lengkap bisa dilihat di http://ppidunia.org/ruang-berbagi-ilmu-mandiri-ppi-dunia-2018/

 

Tidak pulang ke Indonesia atau tidak ada waktu luang untuk berkontribusi melalui Program tersebut? tak perlu khawatir. Sebab, teman-teman bisa berkontribusi dengan Program Peningkatan Kualitas Guru lain yang juga diinisiasi oleh Komisi Pendidikan PPI Dunia.

 

Namanya, Program Bantu Guru Melihat Dunia. Teman-teman bisa menyisihkan sedikit rezeki yang dimiliki untuk membantu guru melihat sistem pendidikan di negara tentangga. Donasi bisa lewat https://kitabisa.com/PPIDuniabantuguru.

 

Ditulis oleh:

Fadlan Muzakki

Anak Pak Guru, Ketua Komisi Pendidikan PPI Dunia Periode 2017-2018, dan Kepala Departemen Pendidikan dan Pengembangan Organisasi PPI Tiongkok dan Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia PCINU Tiongkok.

(dim/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up